Never Too Old to Have Fun With Weezer

Sabtu, 12 Januari 2013 15:00 | 

Weezer

Never Too Old to Have Fun With Weezer
Weezer di Jakarta: @KapanLagi.com®/Bambang E.Ros




KapanLagi.com - oleh: Rea Angelica

Apa yang istimewa dari Weezer? Ini adalah band yang mengubah warna indie di Amerika. Di antara dentum RnB dan hiphop yang selalu memenuhi tangga lagu Amerika, mereka tampil sederhana namun cerdas, tanpa membutuhkan goyangan pantat wanita berbaju seksi.

Mendengarkan lagu-lagu Weezer sejak usia sekolah, bisa menonton langsung aksi panggung tentu jadi impian. 8 Januari 2013, untuk pertama kalinya mereka mengunjungi Indonesia, negara yang sama sekali asing bagi Rivers Cuomo dan kawan-kawan. Dalam obrolan eksklusif KapanLagi.com® bersama Patrick Wilson, sang drummer bahkan menanyakan ada berapa banyak orang di Jakarta.

Entah apa yang ada di benak Weezer ketika mendengar nama Jakarta. Namun rupanya mereka senang dengan yang dilihat, karena dalam preskon sebelum konser, Cuomo malah menawarkan Pinkerton Night.

Kunjungan pertama ini bertema GREATEST HITS SET & BLUE ALBUM (1994), album yang sukses dengan lagu Buddy Holly, Undone - The Sweater Song, Say It Ain't So. Ribuan penonton yang memenuhi lapangan becek D Senayan dengan setia ikut menyanyikan setiap lirik. Tidak ada yang tidak ikut bernyanyi dengan songlist Trouble Maker, Perfect Situation, Beverly Hills, Dope Nose, Island In The Sun, Hash Pipe, Across The Sea, El Scorcho, Tired Sex.

Weezer sendiri jelas terkejut melihat popularitas mereka di Indonesia. Cuomo menyempatkan diri turun panggung mendekati penonton yang histeris menyambut high five-nya. Rata-rata penonton nampak sebaya, di usia 20 sampai 30-an. Well, Weezer memang salah satu ikon era 90an.

Show dimulai sekitar pukul 8 malam, tanpa band pembuka. Venue sangat berlumpur, angin besar dan kadang, gerimis. Hujan membasahi Jakarta sejak pagi. Tak masalah. Ini Weezer!

Pat memukul set drumnya dan tanpa basa-basi, Weezer mengeluarkan If You Wondering I Want You To dari album RADITUDE. Lagu favorit! Seketika saya histeris, ikut meneriakkan lagu super keren itu. Disambung Pork and Bean, Cuomo menyapa, "Selamat malam, kami Weezer!"

Weezer memang layak dikagumi. Berbeda dari band atau penyanyi manca lain yang biasa berbasa-basi dengan "aku cinta kamu" atau "selamat malam", Cuomo mempelajari lebih banyak kosakata bahasa Indonesia. Dan dia bangga meneriakkannya. "Konser ini akan menyenangkan!" serunya.

©Youtube/@linggaresineta

Dia benar. Weezer bergembira bersama sekitar 15 ribu penggemar yang dengan senang hati turut meneriakkan setiap patah kata dari semua lagu. Cuomo berulang kali memuji dengan, "Sip!" serta "Mantap!", membuat penonton tertawa. Dia menyebut "Papua!" di sela lagu Undone. Siapa lagi musisi manca yang bakal ngomong seperti itu, kalau bukan Rivers Cuomo? Dia bahkan mengajari Scott Shriner untuk menjawab, "Sama-sama," sebagai balasan untuk ucapan, "Terima kasih."

©Youtube/@linggaresineta

Tanpa mengesampingkan ketiga personel lain, tak bisa dibantah Cuomo adalah jiwa Weezer. Dia canggung, aneh, dan gerakannya tidak sesuai dengan musik. Dia tipe orang yang membuatmu tersenyum ketika melihatnya dalam sebuah ruangan. Posturnya pendek, rambutnya berantakan, kacamatanya kuno. Aneh, namun begitu mudah mencintai Cuomo.

Beberapa lagu tidak tepat nadanya, kabarnya Weezer memang tidak sempat latihan sebelum ke Jakarta. Tetapi siapa peduli? Kita sedang bergembira dengan Weezer! Lagu-lagu yang kebanyakan ceria dan lirik yang mudah dinyanyikan saja sudah cukup. Cuomo pasti menyukai show ini. Dia berseru, "Jakarta, center of Weezer universe!" Sekali lagi, hanya Cuomo yang bisa memikirkan kata-kata seperti itu.

©Youtube/@linggaresineta

Terbagi dalam dua sesi, penonton mengambil nafas saat Weezer undur diri setelah 12 lagu. Panggung kembali gelap, dan penonton menatap screen di kiri-kanan panggung ketika muncul tulisan "Karl's Corner".

"My name is Karl. I've been friends with Weezer about 21 years," ujar sebuah suara. Penonton terdiam. "Kalau Rivers membawamu ke tahun 1994, aku akan membawamu ke tahun 1991."

Sebuah foto lama muncul, memperlihatkan Cuomo memakai seragam karate bersabuk warna hitam. Penonton riuh tertawa. Ini menarik! Karl, teman lama Weezer ini, mengisahkan asal-muasal Weezer. Dia memamerkan berbagai foto lama, pamflet gig pertama (yang terlihat persis seperti pamflet gig di kota kamu!), foto van pertama Weezer dan ketika mereka memasukkan sendiri alat-alat ke dalamnya, songlist pertama, bahkan review pertama yang diperoleh Weezer, di mana disebutkan mereka meniru Nirvana.

Ini hebat! Weezer sudah berusia 20 tahun, mereka masih menyimpan sketsa jelek tentang konsep cover BLUE ALBUM. Betapa luar biasa pelajaran yang diajarkan band ini. Mereka menghargai segala sesuatu, hal-hal remeh yang tak terpikirkan. Di saat bersamaan, menunjukkan kesetiaan dan kesederhanaan.

Karl selesai bercerita. Cuomo dan kawan-kawan memegang instrumen masing-masing, melanjutkan pesta. Gerimis kembali datang. Gadis di sebelah saya sudah gelisah dari tadi. Dia ingin pulang, sayang pacarnya mengacuhkannya.

Semua lagu di BLUE ALBUM dibawakan. My Name is Jonas, No One Else, The World Has Turned And Left Me Here, Buddy Holly, Undone-Sweater Song, Surf Wax America, Say It Ain't So, In The Garage, Holiday, dan Only In Dreams sebagai penutup.

Di lagu Only in Dreams, Cuomo berkata, "This is our last song, everybody!" Gelombang kekecewaan melanda. Kami belum ingin pesta ini berakhir! Sayang, memang harus selesai. Penonton tak bergeming beberapa lama, menunggu kembalinya Weezer membawakan encore.

Mereka tidak kembali. Hujan bertambah deras, memaksa kami berpaling dan melangkah, berat di lumpur. Gumaman kecewa berdengung di sekeliling, mempertanyakan mengapa tidak ada encore.

Begitu keluar venue, hujan deras menyambut. Penonton berhamburan ke booth-booth sponsor. Sembari berdesakan, keceriaan kembali tercipta ketika satu sama lain membicarakan kegembiraan ketika lagu favorit mereka dibawakan.

Siapa peduli kalau Cuomo sudah 42 tahun? Siapa peduli kalau kamu berusia hampir 40 tahun dan memakai sandal jepit karena tahu venue bakal berlumpur? Bertumbuh dewasa bersama Weezer, mereka tidak berhenti menjadi diri mereka sendiri. Lagipula, never too old to have fun with Weezer.

 

(kpl/rea)



Lihat Arsip Musik

- - -