Ramuan Romantisme Klasik ala Michael Learns To Rock

Kamis, 20 Februari 2014 20:50 | 

Michael Learns to Rock

Ramuan Romantisme Klasik ala Michael Learns To Rock
MLTR di Jakarta: @KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros




KapanLagi.com - oleh: Rea

Salah satu keunggulan musik era 90an yang tak bisa dipungkiri, keindahan aransemen. Di era itu, elektronik belum merasuki pop seperti sekarang. Mungkin, karena itu musik lebih bisa menyentuh sisi emosional secara personal.

Michael Learns To Rock (selanjutnya akan disebut dengan MLTR saja) adalah sebuah band asal Denmark yang lagunya pernah menjadi soundtrack nyaris semua anak yang besar di era 90an. Delapan album sudah dirilis sejak tahun 1991, kebanyakan menerima sukses di Indonesia.

Bisa dibilang, MLTR punya perjalanan stabil di Indonesia, yang memang selalu menyukai romantisme ala Jascha Richter, Mikkel Lentz, dan Kare Wanshcer. 19 Februari 2014, trio ini kembali ke Jakarta untuk kedua kalinya, setelah 20 tahun berlalu.

KapanLagi.comŽ/Bambang E RosKapanLagi.comŽ/Bambang E Ros

Alhasil, bukan cuma romantisme yang dibawa MLTR, namun juga nostalgia. Sleeping Child yang dipilih sebagai pembuka, bahkan tanpa sapaan basa-basi lebih dahulu, serasa melemparkan memori ke tahun 1993 saat rilisnya COLOURS. Baru setelah itu, Jasha menyapa kalem, "So grateful to be back in Jakarta. Thank you so much, Jakarta, long time no see."

Tidak memberi jeda pada penonton, MLTR yang dibantu seorang additional bassist menyambung dengan Breaking My Heart. Anak 90an mana yang tidak bersorak? Terbagi jadi lima kelas, dari Bronze hingga Diamond, sebagian besar penonton datang berpasangan sementara sisanya bersama teman-teman kantor.

Tentu, kaum hawa memang mendominasi kursi yang disediakan promotor. Namun tak sedikit kaum adam yang diam-diam hafal lirik superhit MLTR, seperti I'm Not an Actor dan 25 Minutes. Such a guilty pleasure?

Bersama sejak 1988 (kecuali bassist Soren Madsen yang keluar pada tahun 2000), MLTR ternyata masih mampu mendatangkan histeria. Utamanya, Mikkel Lentz yang malam itu memakai atasan sleeveless. Sambil memetik gitar akustiknya, berulang kali dia turun, mendekati penggemar. Puluhan penonton wanita di deret terdepan berebut mencuri fotonya, bahkan menyempatkan mencium pipi. Formula lagu cinta dan gitar akustik rupanya masih mujarab untuk meluluhkan hati wanita.

Watchout, ladies! @KapanLagi.comŽ/Bambang E RosWatchout, ladies! @KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros


Di I'm Gonna Be Around You, MLTR memberi waktu istirahat bagi drummer Kare. Sementara audiens meneriakkan lirik, "I'm gonna love you till the end, I'm gonna be your very true friend. I wanna share your ups and downs, I'm gonna be around," Jascha muncul membawa sebuket bunga. Sudah bisa bayangkan apa yang terjadi bila formula lagu cinta ditambah gitar akustik dan bunga?

Memenuhi udara dengan cinta, MLTR membawakan lagu-lagu andalan mereka, seperti Nothing to Lose, Out of The Blue, Take Me to Your Heart, Blue Night, You Took My Heart Away, dan pastinya balada patah hati 25 Minutes. Sempat menyelipkan beberapa lagu bertempo sedang seperti Watch Your Back, penonton tak bergeming.

Maka memang MLTR tak punya alasan untuk tak memainkan lagu-lagu cinta mereka. Sempat memamerkan klip You Want It, Jascha bahkan mengakui Complicated Heart sangat romantis dan jarang dibawakan. Tak jadi masalah, publik masih tetap bersorak.

video: Youtube/Phillip Dillip

Setelah 15 lagu, ketiga personel berkumpul di depan panggung, dengan gestur seolah hendak berpamitan. Sontak penggemar yang (membayar cukup mahal dan) masih terbuai romantisme menolak kepergian mereka. Tersenyum, Jascha, Mikkel dan Kare kembali ke instrumen masing-masing, melantunkan Take Me To Your Heart.

Setelah 25 Minutes, Jascha mengajak menonton klip yang diambil di Bali. Someday Someway pun makin memanaskan Skeeno Hall, Gandaria City, Jakarta, meskipun malam makin larut. Benar saja, MLTR berpamitan setelahnya.

Penonton mulai mengalir keluar, namun lebih banyak yang masih tinggal. Yang masih mengenakan pakaian kerja, rupanya memutuskan waktunya beristirahat lantaran esok hari harus kembali ke rutinitas. Seorang gadis berjilbab yang digandeng pacarnya, merengek ingin memastikan konser benar-benar selesai. "Belum, belum selesai! Lampunya belum dinyalain!" ujar si gadis, membantah ajakan pulang si pacar.

Untungnya si pacar menuruti keinginan kekasihnya, karena gadis itu memang benar. Tak butuh waktu lama, Jascha keluar lagi ke panggung, menggoda penonton yang langsung serempak meneriakkan, "We want more!"

@KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros@KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros

Naked Like The Moon disusun sebagai encore pertama. Mungkin karena tak amat familier, penonton mulai mengantri keluar. Namun Paint My Love menjadi senjata ampuh mengembalikan mereka ke dalam venue. That's Why You Go Away melanjutkan paduan suara nostalgia publik, sebelum romantisme MLTR benar-benar berakhir.

Tak peduli hanya guilty pleasure atau benar-benar mengidolakan, memakai konsep Romantic Valentine, Michael Learns To Rock berhasil tak hanya membelai penggemarnya, namun juga memberi nostalgia manis. Di tengah minggu yang sibuk, konser ini memang menyenangkan.

 

(kpl/rea)



Lihat Arsip Musik

- - -