Jazz Gunung 2014, Memuja Alam Melalui Musik

Kamis, 26 Juni 2014 12:21 | 

The Overtunes

Jazz Gunung 2014, Memuja Alam Melalui Musik
Bintang Indrianto Trio Foto: Fajar Adhityo




KapanLagi.com - Oleh: Fajar Adhityo

Jazz Gunung adalah sebuah pengalaman yang tak akan pernah bisa dilupakan bagi para pecinta jazz Indonesia. Bagi mereka yang sudah pernah datang ke gelaran Jazz Gunung pastinya bakal tertarik untuk datang kembali.

Keindahan alam yang bersanding dengan desain venue yang luar biasa seakan membius kita untuk menikmati alunan musik jazz. Meski cuaca memang sangat dingin, namun tak satupun penonton beranjak dari tempat duduknya, konser ini memiliki daya magis yang luar biasa.

Tema Sedekah Bumi Lewat Bebunyian terasa pas sekali, tak hentinya mulut mengucap syukur kepada Tuhan melihat pemandangan yang menakjubkan ini. Sebuah impian untuk menikmati musik dengan latar belakang alam dan beratapkan langit kini terpampang nyata.

Berbeda dengan pagelaran jazz lainnya, Jazz Gunung selalu menyelipkan sajian budaya tradisional. Tahun ini mereka mengundang Sanggar Gejah Arum yang mempersembahkan musik dan tarian khas Banyuwangi. Sudah menjadi ciri khas tersendiri pada Jazz Gunung yang selalu menampilkan unsur etnik pada setiap penampilnya, hal ini menjadi pembeda dari gelaran Jazz lain,

Penampilan Tarian dan Musik Sanggar Gejah Arum/@Foto: KapanLagi.comŽ/Fajar AdhityoPenampilan Tarian dan Musik Sanggar Gejah Arum/@Foto: KapanLagi.comŽ/Fajar Adhityo

Pembukaan yang epic pun disambut dengan keanggunan Monita Tahalea and The Nightingales yang menghangatkan suasana. Kabut pun mulai turun, pendaran lampu pun membuat amfiteater Java Banana semakin temaram.

Tampil dalam dress lengan panjang abu-abu dengan motif floral, Monita menyapa dengan Loving You yang sangat manis. Ada delapan lagu yang dinyanyikan jebolan Indonesian Idol musim kedua ini. Mulai dari How Great Thou Art, Kisah Yang Indah, Jumpa Pertama, Kekasih Sejati, Lagu Baru, Di Batas Mimpi, dan Hope. Nomor klasik milik mendiang Chrisye berjudul Jumpa Pertama pun didendangkan oleh Monita yang disambut dengan koor dari penonton.

Monita Tahalea and The Nightigales/@Foto: KapanLagi.comŽ/Fajar AdhityoMonita Tahalea and The Nightigales/@Foto: KapanLagi.comŽ/Fajar Adhityo

Saat menyanyikan Kekasih Sejati, gadis kelahiran 21 Juli 1987 berceloteh,"Ini nih tipe percintaan sekarang, pedekatenya lama namun digantungin," ujarnya sebelum menyanyikan lagu garapan Yovie Widianto tersebut. Sebagai penutup, Monita melantunkan Hope. Meski singkat, Monita memberikan kesan mendalam.

Monita Tahalea and The Nightigales/@Foto: KapanLagi.comŽ/Fajar AdhityoMonita Tahalea and The Nightigales/@Foto: KapanLagi.comŽ/Fajar Adhityo

Bintang Indrianto Trio pun mengambil alih panggung dengan musik jazz yang rancak dan menghentak. Mereka membakar semangat penonton untuk mengusir hawa dingin yang kini semakin terasa menusuk tulang. Tak terasa tubuh pun mulai menggeliat menari mengikuti irama, beberapa penonton pun mulai merasakan soul yang dimainkan oleh Bintang Indrianto.

Gimmick pun diciptakan yang membuat semua orang terperangah kaget. Sebuah lagu dangdut berjudul Oplosan pun dibawakan yang disambut tawa dan geleng kepala tak habis pikir oleh penonton. Butet Kertaradjasa pun memaki kagum dengan gubahan Bintang yang berhasil mengena ke penonton.

Penonton Berjoget Oplosan/@Foto: KapanLagi.comŽ/Fajar AdhityoPenonton Berjoget Oplosan/@Foto: KapanLagi.comŽ/Fajar Adhityo

Kepalang tanggung, terlebih penonton menyukainya, maka Bintang pun kembali mengusung lagu Oplosan dan meminta penonton untuk berdiri. Alhasil gelaran jazz ini menjadi acara joget dadakan seperti di acara televisi yang baru saja terkena kasus tersebut.

Penampilan Bintang Indrianto Trio/@Foto: KapanLagi.comŽ/Fajar AdhityoPenampilan Bintang Indrianto Trio/@Foto: KapanLagi.comŽ/Fajar Adhityo

Usai memberikan kesan mendalam kepada penonton, Bintang pun unjuk gigi dengan kemampuan masing-masing personel. Gimmick-gimmick keren pun diciptakan dan membuat penonton terlarut dalam suasana. Dan Oplosan kembali berkumandang menutup penampilan mereka dan kali ini disambut riuh oleh penonton yang asyik berjoget.

Tak terasa buliran air pun jatuh, sontak penonton pun mengeluarkan payung dan jas hujan transparan. Sebuah pemandangan yang begitu mengesankan, mereka seakan tak bergeming sedikit pun dari tempat duduk dan tetap menunggu penampil berikutnya.

Sepertinya hujan mau mengerti keinginan para pecinta Jazz Gunung, dan hanya say hello sebentar dan cuaca pun kembali cerah. Plastik penutup alat pun dibuka dan nampak kru tengah menyiapkan set untuk Ring of Fire asuhan Djaduk Ferianto yang berkolaborasi dengan Nicole Johanttgen. Nomor-nomor jazz dengan paduan musik etnik pun mengalun syahdu.

Ring of Fire feat Nicole/@Foto: KapanLagi.comŽ/Fajar AdhityoRing of Fire feat Nicole/@Foto: KapanLagi.comŽ/Fajar Adhityo
Alunan musik yang ritmis mulai membius para penonton yang merapatkan jaketnya karena kedinginan. Namun panitia sigap dengan memberikan tungku berisikan bara arang sebagai penghangat.

Usai Ring of Fire, Ligro Trio kembali menguasai panggung dengan rock jazz yang rumit. Mereka memainkan lagu yang penuh teknikal yang terkadang menyalak dinamis, dan mendadak mengalun mistis.

Ligro Trio/@Foto: KapanLagi.comŽ/Fajar AdhityoLigro Trio/@Foto: KapanLagi.comŽ/Fajar Adhityo

Di akhir penampilan, Hendy yang merupakan drummer Gigi pun memainkan set perkusinya penuh tenaga. Petikan gitar dan bass yang berfusi secara sempurna menutup dengan klimaks.

Acara Jazz Gunung hari pertama sudah mendekati hari akhir. The Overtunes menjadi pamungkas menutup malam ini. Tunist, julukan fans The Overtunes, yang rata-rata anak muda mulai mengambil alih dengan histeris dan berteriak memanggil nama Mada, Ruben, dan Mikha.

Trio yang terdiri dari Mada Emanuelle (Bass), Reuben Nathaniel (Gitar), dan Mikha Angelo (gitar dan vocal) ini membawakan lagu-lagu cinta dari berbagai era untuk penonton Jazz Gunung. Mulai dari lagu tahun 70-an, Heart To Heart-nya Kenny Loggins sampai lagu Gravity-nya John Mayer. Sebagai pembukanya, ketiganya yang didukung pemain band menghangatkan malam dengan lagu Carried You, sebuah cover dari Justin Nozuka.

The Overtunes/@Foto: KapanLagi.comŽ/Fajar AdhityoThe Overtunes/@Foto: KapanLagi.comŽ/Fajar Adhityo

The Overtunes/@Foto: KapanLagi.comŽ/Fajar AdhityoThe Overtunes/@Foto: KapanLagi.comŽ/Fajar Adhityo

Pilihan lagu yang mereka bawakan menandakan kekayaan referensi lagu cinta yang mereka punya. Bagi penonton muda, lagu seperti The Way I Feel dan How Deep Is Your Love tentu lebih akrab di telinga para penikmat jazz yang lebih berumur. Namun, itulah yang beda dari The Overtunes, mereka ingin agar penonton larut dalam lagu-lagu cinta yang mereka bawakan dengan gaya mereka sendiri.

"Have a good night and a good sleep. Thank you Tunist," ujar Mikha sebelum menutup penampilannya. Gone Gone Gone dari Phillip Phillip pun menutup penampilan mereka sekaligus Jazz Guinung di hari pertama.

Sebuah pertunjukan musik yang memberikan kesan mendalam bagi mereka yang hadir. Mereka pun mengabadikan momen untuk berfoto bersama di tengah panggung, tak sedikit yang berjanji bakal kembali lagi tahun depan.

Sebuah pengalaman yang pastinya terus membekas dan menjadi oleh-oleh cerita ketika kembali ke kota masing-masing. Sampai jumpa kembali di Jazz Gunung 2015.

(kpl/faj)



Lihat Arsip Musik

- - -