Percayalah, Don't Ever Lose Your Faith in Sting!

Senin, 17 Desember 2012 19:00 | 

Sting

Percayalah, Don't Ever Lose Your Faith in Sting!
Sting live di MEIS, Jakarta: @KapanLagi.comŽ/Bambang E.Ros




KapanLagi.com - Oleh :  Renata Angelica

Ketika Sting datang pertama kali ke Jakarta tahun 1994, saya masih sekolah SD. Belum tahu Sting, cuma kenal The Police dari lingkungan terdekat.

18 tahun kemudian, waktu tahu Sting bakal show untuk kedua kalinya di Jakarta, saya sadar harus nonton, apapun yang terjadi. Orang ini adalah musisi, bukan sekadar penyanyi. Lebih dari itu, Gordon Matthew Thomas Sumner adalah legenda.

Dua konser besar di hari yang sama tidak membuat ragu. Tanpa mengecilkan Guns N Roses, musikalitas Sting lebih mengena. Dia tak hanya memainkan New Age bersama The Police, namun menyentuh scene reggae, jazz, bahkan klasik.

Usianya sudah 61 tahun, lampu panggung tidak bisa menutupi rambut kelabu itu. Namun karisma Sting menguasai Mata Elang International Stadium, Ancol, Jakarta, ketika dia muncul, gitar bas di depan tubuhnya.

Saya menangis ketika Sting menyapa, "Selamat malam, Jakarta!" sebelum langsung memainkan If I Ever Lose My Faith In You. Bukan menangis tersedu-sedu, saya sangat bersyukur bisa menonton langsung salah satu musisi terbaik dunia ini. Dari banyak konser yang sudah ditonton, baru sekali ini saya terharu.

Set panggung amat sederhana, bahkan tidak ada backdrop. Lampu-lampu kebanyakan warna ungu atau biru, menjadikannya elegan. Sesuai tajuk konser, Sting kembali membetot bas, mengajak serta kawan-kawan lamanya bersenang-senang: Dominic Miller (gitar), Vinnie Colaiuta (drum), David Sancious (keyboard), Peter Tickell (electric fiddle) dan Jo Lawry (vokal).

"If I ever lose my faith in youuu," seru penonton di bagian reff lagu yang diambil dari album kedua TEN SUMMONER'S TALES. Sting tersenyum saat berteriak, "Terima kasih, Jakarta!"

Siapa sangka Every Little Thing She Does is Magic ada di urutan kedua? Penonton sontak histeris mendengar intro salah satu lagu legendaris The Police itu. Euforia semakin tinggi saat nada Englishman in New York diperdengarkan.

Koor penonton sambil bertepuk tangan mendahului empunya lagu, "I'm an alien, I'm a legal alien, I'm an Englishman in New York!" Sting pun berhenti bergerak. Satu tangan di pinggang, dia tersenyum tipis mendengarkan paduan suara itu.

Sedikit bermain menjelang akhir dengan lirik, "Be yourself, no matter what they say," yang diikuti penggemar dengan senang hati, Sting melompat ke tahun 1993. Ya, Seven Days! Lagu indah dari album TEN SUMMONER'S TALES.

Demolition Man, I Hung My Head, The End of The Game membuat penonton agak tenang. Tenang, beda artinya dengan diam. Saya nonton di kelas festival (kelas terbaik untuk merasakan atmosfer konser) yang barangkali, kondisinya tidak sepadat show-show penyanyi atau band lain.

Tetapi, justru di sana bagian terbaiknya! Semua orang di kelas festival menyanyi, tertawa dan menari. Tidak sibuk sendiri dengan gadget canggih masing-masing, atau mengobrol dengan kawan dan pasangan. Semua menganggukkan kepala, atau menggoyangkan tubuh. Begitu menyenangkan!

Fields of Gold kembali menaikkan tensi show, diikuti Driven to Tears, lalu Heavy Cloud No Rain yang membuat penonton kembali menggemakan koor. Message in a Bottle disambut gegap gempita, MEIS terlonjak-lonjak dibuatnya.

Elegannya Shape of My Heart menyusul, kemudian The Hounds of Winter. Sting mengembalikan tahun 1983 dengan Wrapped Around Your Finger dan De Do Do Do De Da Da Da. Di akhir lagu klasik album ZENYATTA MONDOTTA ini, para bintang unjuk kebolehan. Mulai dari keyboard, ke violin, lalu drum.

Sting jelas merasa nyaman dengan bandmate-nya, juga sebaliknya. Pertemanan bertahun-tahun berdampak amat baik di panggung. Satu-satunya wanita di sana, Jo Lawry, menampilkan pesona luar biasa dengan kekuatan vokalnya. Show berkualitas tinggi ini berjalan sekitar dua jam, nyaris tanpa break, menunjukkan stamina dan vokal Sting yang tak goyah sedikit pun.

Roxanne lagi-lagi membuat gelombang koor penonton, mengiringi Sting, "Roxanne, you don't have to put on the red light." Lagu ini jadi agak panjang, dengan permainan yang mengundang applause. Dijamin bikin tubuh bergoyang! Di akhir lagu, Sting memperingatkan, "Jakarta, I'll be watching you!"

video by: @fetboy_slim

Desert Rose, King of Pain meluncur kemudian, disambung Every Breath You Take yang jadi klimaks. Penonton bertepuk tangan tiada henti sepanjang lagu. Keenam orang di atas panggung beranjak masuk, sementara penonton terus bergemuruh.

Selang beberapa detik, Sting dan bandmate kembali ke panggung. Panasnya suasana dijaga stabil dengan Next to You. Setelah itu, mereka menghilang. Penonton yang agak kebingungan baru diyakinkan ini adalah akhir konser.

Konser tanpa encore? Mana mungkin! Tak lama bertanya-tanya apa yang dijadikan encore, Sting memberi kejutan dengan Fragile. Lagu ekstra indah, lirik luar biasa, aransemen yang bikin merinding, begitu menawan rasanya diperdengarkan sendiri oleh Sting. Seketika tensi menjadi dingin, dan konser berakhir sesuai dengan citra sang bintang: berkelas, bersahaja ketika dia berkata dengan tenang, "Jakarta, good night, thank you."

video by @fetboy_slim

Sting memang tidak banyak berkomunikasi. Dia berbicara melalui gestur tubuh dan lagu-lagu. 20 lagu dibawakan pria Inggris ini. Tanpa penari latar, tanpa kostum seksi, tanpa perlu melontarkan hal negatif dari atas panggung, Sting telah menunjukkan kelasnya sebagai musisi.

Sabtu, 15 Desember 2012, saya bersama sekitar 8000 orang lain menjadi saksi keajaiban. Kamu bisa saja kehilangan kepercayaan terhadap tangga lagu Top 40, atau stasiun televisi musik, tetapi  Sting tidak akan mengecewakanmu. Don't ever lose faith in him. Every little thing Sting does, is magic.  

 

 

(kpl/rea)


Sting akhirnya kembali mengunjungi Indonesia untuk kedua kalinya.
13 FOTO

Lihat Arsip Musik

- - -