Panasnya Musik, Politik dan Musisi

Kamis, 29 Mei 2014 08:01 | 

Jokowi

Panasnya Musik, Politik dan Musisi
Iwan Fals ©KapanLagi.com®/ Bambang E Ross




KapanLagi.com - Oleh: Trian

Yup! Tahun ini adalah tahun yang sangat panas. Momen Pemilihan Umum di Tanah Air memang selalu menghadirkan gejolak dan riak menarik di segala lapisan. Enggak terkecuali menyentuh lapisan orang-orang yang berkarya di dunia musik.

Musik, politik dan musisi seakan sekelompok teman dekat. Musik adalah kendaraan musisi untuk mengekspresikan emosi dan gagasannya. Sedangkan politikus dan partai menggunakan politik untuk memperjuangkan agenda ideologisnya. Politikus dan musikus bertemu pada satu titik. Pelaku politik memanfaatkan popularitas musisi untuk mencari posisi. Akibatnya, fenomena musikus berubah jadi politikus jadi sering terjadi.

Keadaan ini jadi topik hangat yang dibincangkan banyak orang. Soalnya, keberpihakan musisi kini diposisikan sebagai corong kampanye. Baik partai politik ataupun tim sukses, seakan berebut mencari penyanyi dan musisi yang akan dijadikan juru kampanye. Sudah bukan rahasia, para publik figur itu digunakan untuk meraih simpati calon pemilih.

Ahmad Dhani, tegas dukung salah satu Capres ©KapanLagi.com/AgusApriyantoAhmad Dhani, tegas dukung salah satu Capres ©KapanLagi.com/AgusApriyanto

Beberapa waktu lalu, Jokowi mendatangi Slank di markasnya, Gang Potlot. Yang menarik, Slank memberikan 'PR' kepada Jokowi, seandainya ia terpilih nanti. Band yang baru merilis album Slank Nggak Ada Matinya itu menyerahkan nama-nama negarawan agar masuk kabinet Jokowi. Sementara itu, Prabowo Subianto mendapatkan dukungan penuh dari Ahmad Dhani dan Anang untuk jadi Presiden. Bahkan, mantu dari Soeharto tersebut sempat mengejutkan publik ketika muncul di final Indonesian Idol 2014.

Lantas saja, kemesraan musisi dan politikus yang tergambar di atas ditanggapi beragam. Salah satunya adalah Jerinx dari Superman Is Dead. Drummer yang terkenal vokal menyuarakan tolak reklamasi Bali tersebut memiliki pendapat sendiri terkait musisi yang berpihak kepada salah satu Capres.

"Sah-sah saja musisi/band pro pada salah satu Capres. Tapi jika nanti capres tersebut 'disetir' untuk kepentingan parpolnya, siap-siap saja menanggung malu," ujar drummer berotot tebal tersebut di Twitter Selasa lalu (27/5).

Jerinx, memilih idealis ©KapanLagi.com®Jerinx, memilih idealis ©KapanLagi.com®

Jerinx melanjutkan pendapat kritisnya. "Bagi saya pribadi, musisi ya memang idealnya enggak memihak capres manapun. Opisisi selamanya."

Fenomena musisi berpihak kepada salah satu calon presiden yang sedang berjuang di pemilihan umun bukan hal yang awam. Sejarah sudah mencatat bagaimana Beethoven mendedikasikan lagu Eroica (Symphony No. 3) untuk Napoleon Bonaparte. Atau, gerombolan musisi besar seperti The Rolling Stones, Jay Z, Bono, dan Arcade Fire yang mendukung Presiden Barrack Obama pada saat Pemilu. Tapi, apa artinya itu di mata Jerinx?

"Parpol bisa bayar orang-orang jenius untuk membuat pencitraan yang sedemikian rapi dan membuminya sampai-sampai kita lupa jika semua ini adalah ilusi," terangnya.

Di lain pihak, Iwan Fals yang karyanya selalu sarat pesan politis merasa enggak perlu menunjukkan keberpihakan kepada salah satu Capres selama Pemilu. Ungkapan ini, diucapkan penyanyi Bongkar tersebut saat melihat Nowela keluar jadi juara di Indonesian Idol 2014.

"Kalau soal milih Wi (Jokowi) atau Wo (Prabowo) biar saya dan kotak suara sajalah yang tahu. selamat Nowela," kicau Iwan Fals.

Iwan Fals, Rahasiakan dukungannya ©KapanLagi.com/BambangERossIwan Fals, Rahasiakan dukungannya ©KapanLagi.com/BambangERoss

Pengamat musik, Denny Sakrie punya gambaran menarik tentang posisi musisi di dunia politik. "Pemusik di mata politikus dianggap sebagai permen pemikat. Tujuan tercapai, permen dilepehin," ujarnya.

Selain itu pengamat musik kelahiran Ambon tersebut juga memuji sikap Iwan Fals. "Saya suka dengan sikap Iwan Fals yang tegas dan bukan oportunis cengeng," kata Denny di Twitter.

Di mata saya, momen Pemilu berhasil membuat hal menarik di peta musik Indonesia. Musisi seakan berada di posisi bimbang. Apakah harus tetap memiliki idealismenya dengan bersikap netral atau justru berpihak kepada pilihan Capres sebagai juru kampanye baik langsung atau pun enggak. Perdebatan dan adu opini pun cukup seru disimak, bahkan muncul istilah 'musisi dan politisi adalah teman selingkuh lama'.

Nah, bagaimana dengan kalian??

 

(kpl/trn)



Lihat Arsip Musik

- - -