Musik dan Agama: Sebuah Propaganda Atau Tren Musik

Selasa, 08 Februari 2011 20:10
Musik dan Agama: Sebuah Propaganda Atau Tren Musik
As I Lay Dying @asilaydying.com




KapanLagi.com - Oleh; Fajar Adhityo

Menyebarkan sebuah agama melalui musik mungkin sah-sah saja dan bahkan sudah dilakukan oleh banyak orang sedari dulu. Namun Apa yang kita bayangkan jika menyampaikan melalui musik metal. Mendengar kata metal di benak kita pasti muncul sebuah musik keras yang banyak menceritakan sadistis dan hal negatif lainnya. Yah mungkin imej kita akan tertanam pada band-band black metal yang lebih ekstrim dengan lirik-liriknya yang menghujat serta menistakan agama.

Namun tak semua musisi metal mengusung tema yang sama, lahirnya Christian metal atau disebut White Metal seakan menjadi alternatif bagi para penggemar musik metal yang religius. Walau sebenarnya bukan hal yang baru lagi, akan tetapi perkembangan musik white metal saat ini mendapat porsi imbang dan cukup diperhitungkan.

Sebenarnya kemunculan white metal atau Christian metal sudah ada sejak tahun 80an. Grup band heavy rock, The Stryper telah mengenalkan musik rock dengan lirik-lirik yang religius dan positif Di tengah ganasnya imej musik rock saat itu yang terkenal dengan slogan Sex, Drugs and Rock n Roll, The Stryper memberi warna lain dari musik rock.

Dan di tahun 2000an white metal kembali merebak dan diusung oleh musisi-musisi muda. Band-band seperti As I Lay Dying, Norma Jean, Underoath, Zao, POD dan lainnya mengemas musik metal dengan lirik positif yang erat kaitannya dengan religi. Dari segi aransemen pun mereka seakan tak kalah dengan band metal lainnya,bahkan dari pakaian mereka juga tak ubahnya dengan band metal masa kini. Namun jika kita tilik dari lirik yang ada di sleeve CD tampak pesan religius dan positif mereka hantarkan kepada fansnya.

Tak hanya pada agama kristen saja, kepercayaan lain juga di anut oleh para musisi dan ditampilkan di dalam musiknya. Band hardcore seperti Shelter, 108 dan masih banyak lagi mengambil ajaran Hare Krishna untuk disampaikan melalui musiknya. Bahkan terkadang dalam penampilan Shelter tampil dengan pakaian seperti petapa.

Tak hanya di Amerika ataupun di luar negeri sana saja di tahun 90an fenomena white metal juga terjadi di Indonesia. Grup band bernama Kekal memberi warna baru dalam kancah musik metal Indonesia yang saat itu sedang dilanda demam death/black metal. Prestasi Kekal juga tak bisa dipandang sebelah mata, mereka dengan sukses menggelar tur di Eropa dan tampil di even musik independen bergengsi di sana.

Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah muslim juga berpengaruh kepada anak-anak muda ini untuk membuat band white metal dengan pedoman islam. Walau masih bisa dihitung beberapa, namun perkembangannya tampaknya semakin naik. Bahkan ada julukan metal satu jari untuk band pengusung kita sebut saja islamic metal. Entah siapa yang mencetuskan nama ini sebelumnya, yang saat ini seakan menjadi identitas para penganut genre ini.

Musik seakan menjadi bahasa universal dan menjadi propaganda yang efektif seperti halnya agama. Tak ada batasan dalam musik membebaskan setiap individu untuk melangkah. Namun semua itu tergantung kita menyikapinya secara bijak karena pada dasarnya pilihan ada di tangan kita. (kpl/faj)


Nama
Email
Komentar
Komentar yang tidak sopan akan dihapus.

Komentar Pembaca (0)

Lihat Arsip Musik

- - -