[Interview] Konspirasi, 4 Frontman Dalam 1 Rumah

Selasa, 12 Juni 2012 11:38 | 

Konspirasi

[Interview] Konspirasi, 4 Frontman Dalam 1 Rumah
KapanLagi.com ngedate bareng Konspirasi




KapanLagi.com - Apa jadinya jika ada band yang berisi 4 frontman? Pastinya bakal seru. Seperti Konspirasi ini. Terdiri dari Chandra Hendrawan Johan atau Che (vokal), Marcell Siahaan (drum), Edwin Marshal Syarif atau 'Edwin Cokelat' (gitar), dan Romy Sophian (bass) - keempatnya harus mampu menahan ego masing-masing.

Kehadiran mereka bukan hanya untuk meramaikan industri musik, tapi untuk menciptakan musik yang dapat mencerdaskan penggemarnya. Mereka pun mengaku tidak merasa insecure meski jalur yang dipilih jauh dari mainstream.

Untuk Anda yang memang mendambakan sebuah suguhan musik yang apik dan berbeda namun sarat akan makna, Konspirasi merupakan pilihan yang tepat. 4 nama besar yang memotori Konspirasi ini telah meluncurkan single pertama mereka yang berjudul MELAWAN ROTASI dan juga single kedua mereka yang merupakan soundtrack dari film dengan judul yang sama, yaitu Dilema.

Musik grunge yang kerap kali disebut dengan nama seattle sound mulai populer di dunia pada tahun 90-an, terutama setelah dirilisnya album Nirvana dan Pearl Jam. Para personil Konspirasi mengaku merupakan penikmat musik grunge. Dan inilah yang diusung Konspirasi sebagai genre andalan mereka. Siapa dan apa sih visi misi Konspirasi? Yuk kenal lebih dekat lewat chit-chat bareng KapanLagi.com. Mari ber-Konspirasi.

Konspirasi sendiri terdiri dari banyak nama yang sudah tidak asing lagi, apa yang melatarbelakangi kalian berempat untuk bersatu dan membentuk sebuah band baru?
Edwin: Kalau bicara sejarah Konspirasi berdiri dari akhir 2009, waktu itu gue menghubungi Marcell, gue bilang gue mau bikin sebuah band grunge yang konsepnya lebih ke side project pada saat itu, akhirnya Marcell setuju dan kita mulai jalan. Hal yang melatarbelakangi terbentuknya Konspirasi adalah gue pengen bikin side project band yang sudah berpengalaman, jadi bukan dengan orang-orang yang baru. Gue ajak orang-orang yang berpengalaman di mana dimensi profesionalismenya udah sama.

Musik grunge sendiri kan mungkin hanya dinikimati oleh beberapa kalangan tertentu saja, kenapa Edwin tetap memilih jalur grunge?
Edwin: Gue pilih grunge karena musik grunge sendiri merupakan referensi terbesar gue, dan gue tahu banget kalau Marcell, Che, dan Denny Hidayat yang merupakan bassist kita pada saat itu juga merupakan pendengar grunge. Setelah Denny cabut, kita ketemu Romy, dan Romy sendiri juga penyuka grunge.
Marcell: Kita besar di era 90-an yang notabene memang merupakan zaman keemasan grunge.

KonspirasiKonspirasi

Awalnya kan Konspirasi ini sifatnya side project, tapi pada akhirnya kalian juga merilis album. Kenapa akhirnya Konspirasi ini diformat seperti bukan sekedar band side project?
Edwin: Dari awal kita membentuk Konspirasi kita memang tidak punya rencana harus bagaimana jalannya band ini, karena kita memang berkumpul karena musik dan bersenang-senang dengan membuat lagu-lagu bernuansa grunge. Satu tahun Konspirasi berjalan, Denny keluar karena harus konsentrasi menjadi pilot. Lalu Romy masuk karena diajak sama Marcell, dan pada tahun tersebut kita hanya melepas tiga single di MySpace, di mana pada tahun tersebut kita cuma manggung di acara-acara komunitas grunge, setelah satu tahun kita berjalan seperti itu, akhirnya kita sama-sama berpikir untuk membuat master dengan sangat serius. Pada akhirnya kita meng-hired seorang produser, membuat rekaman dengan kualitas yang lebih baik, pokoknya semuanya dibuat lebih matang. Setelah jadi master pun kami belum punya rencana yang pasti untuk Konspirasi, terus produser kami bilang mau menawarkan masternya ke beberapa major label, setelah ditawarkan ke major label, ternyata beberapa major label tertarik, dan akhirnya kita pilih untuk bekerja sama dengan E-motion. Dari situ akhirnya konsepnya lebih jelas, tapi sebetulnya perjalanan ini tidak kami rencanakan sebelumnya.

Untuk pembuatan album perdana konspirasi ini memakan waktu berapa lama?
Edwin: Kurang lebih satu setengah tahun.

Setiap personil Konspirasi ini memiliki kesibukan masing-masing dan di luar Konspirasi sendiri kalian mungkin memilih jalur musik yang berbeda, adakah perdebatan yang terjadi di saat proses penggarapan album?
Marcell: Ya berantem-berantem unyu sih ada ya. Perkelahian itu engga ada, tapi orang lain berkelahi karena kita kayaknya banyak.
Edwin: Waktu penggarapan album sih engga ada kendala, karena kita mungkin sudah melewati fase itu. Kami membentuk sebuah band dengan orang-orang yang berpengalaman, jadi ada perbedaan di proses perintisannya, dengan membuat sebuah band dengan orang-orang yang baru. Kami memilih musik grunge karena kami semua mengenal musik ini dengan baik,jadi saat penggarapan materi kami sudah bisa membayangkan materi yang ada baiknya dibuat seperti apa. Mungkin nanti di album kedua ada kali ya, karena kami sendiri belum tahu album kedua maunya seperti apa.
Che: Gue berjumpa dengan orang-orang yang yang kalau menerima kritikan suka berpikir dalam kepalanya, "Boleh jadi dia benar, tapi aku pasti lebih benar." Lucunya di Konspirasi tuh ada Edwin yang kita bisa melihat bagaimana kiprahnya dalam membangun Cokelat, Marcell juga bukan sekedar penyanyi, dia mengkonsepkan albumnya dia juga. Romy juga, saya juga di band saya. Lucunya sampai album ini dikeluarkan kami belum pernah ada perdebatan mulut, lucunya ada 4 frontman dalam satu rumah tapi bisa diredam ego masing-masing.

Marcell di syuting DilemaMarcell di syuting Dilema

Genre musik yang kalian pilih kan sangat berbanding terbalik dengan tren yang ada di industri saat ini, sebetulnya goal kalian dalam bermusik itu apa?
Che: Ya memang kami sudah gila ya nampaknya, merilis album Konspirasi di tengah keadaan industri yang seperti ini,
Marcell: Secara keseluruhan, goal kami adalah tidak sekedar meramaikan belantika musik Indonesia, karena memang sudah ramai. Kami ingin membuat sesuatu yang berkualitas, berbeda dari rata-rata, dan tetap orisinil. Goal saya personal, adalah bermusik. Ya jualan, ya berkarya, ya menyenangkan orang lain, ya menjadi mata pencaharian banyak orang. Buat kita bermusik itu seperti jihad, karena saat kita membuat musik dan didengarkan oleh banyak orang, pasti ada efek yang ditimbulkan, liriknya akan mempengaruhi logika berpikir dan hati seseorang. Kita menjalani Konspirasi dengan santai, karena kita tidak mau Konspirasi menjadi beban untuk siapapun. Romy yang merupakan highly demanded bassist, Edwin yang terus menghasilkan karya dengan Cokelat, dan Che yang sangat produktif dengan Cupumanik yang baru saja pulang dari Kanada untuk mengikuti sebuah festival musik alternatif dunia yang disponsori oleh pemerintah Kanada dan pemerintah Indonesia bahkan engga tahu. Kita melihat Konspirasi sebagai keluarga, karena kita bisa berdiskusi dan saling mengerti. Sejauh ini Konspirasi ini punya misi.
Edwin: Untuk goal pasti secara personal berbeda-beda, tapi untuk Konspirasi sendiri kami ingin kehadiran kami bisa mengembalikan wibawa musik rock, karena musik rock ini sudah jauh sekali dari akarnya. Kami juga jarang mendengarkan musik rock di media mainstream seperti di radio, di TV, atau ada di chart lagi. Kami harap dengan keberadaan kami musik rock bisa menggeliat lagi ke permukaan. Musik adalah hidup saya dan saya hidup untuk bermusik. Musik itu tentang kualitas, hasilkan karya yang baik, dan semuanya akan mengikuti.
Che: Selama saya menceburkan diri saya di jalur musik, saya sadar bahwa musik tidak berhenti di musik. Musik memiliki aspek sosiokultural yang luar biasa, karena dapat menimbulkan efek yang luar biasa kepada siapa saja. Ya benar kata Marcell, bermusik itu seperti berjihad, hanya saja kami tidak menggunakan sorban, tapi tujuan kami adalah untuk memanusiakan manusia dengan nilai-nilai positif yang kami sampaikan lewat karya kami.
Romy: Harapan kami dengan adanya Konspirasi sih semoga pendengar musik bisa peka sama lirik-lirik cerdas yang ditulis Che sehingga jadi lebih cerdas, jadi tidak perlu jadi pribadi yang gampang mellow dan galau.

Edwin CokelatEdwin Cokelat
Romy SophianRomy Sophian

Banyak yang bilang kalau lirik dari lagu-lagu Konspirasi cenderung 'dalam' dan filosofis. Bagaimana tanggapan kalian tentang hal ini?
Marcell: Banyak yang bilang seperti itu, padahal banyak sekali orang yang sudah tidak menggunakan logika yang sehat jadi ketika kita berbicara tentang sesuatu yang natural orang lain menganggap hal tersebut terlalu 'dalam' padahal kita ngomong dengan cara yang biasa, namun kebanyakan orang sudah terbiasa melihat sesuatu secara instan dan terbiasa memandang sesuatu tidak secara mengakar akhirnya membuat orang berkata bahwa, "Konspirasi dalam banget ya lirik dan lagunya." Padahal engga juga, ini cuma masalah seberapa sering kita menggunakan akal sehat dan logika kita. Kalau logika kita tiap hari cuma mikirin hal yang unyu-unyu doang ya susah. Kami dari Konspirasi ingin mengembalikan pola pikir manusia ke titik awal karena di industri musiká ini sudah terlalu banyak juga yang oknum yang berpikir secara instan. Mengaku berada di jalur rock tapi ternyata rocknya dikontaminasi oleh pasar secara berlebihan.

Konspirasi memiliki tujuan yang mulia untuk menyembuhkan dunia musik, tapi apakah kalian sendiri bisa menjamin kualitas musik yang kalian suguhkan?
Marcell: Master kita tidak diganggu gugat oleh siapapun, termasuk pihak label. Kita dari awal berangkat dari pemikiran yang memadai untuk industri, komunitas, dan tentunya memadai untuk kami. Sampai sejauh ini tidak ada yang mengganggu master kami dan ini adalah sebu bukti bahwa musik seperti kami bisa bertahan. Tidak perlu takut label akan begini, label begitu. Kita juga sempat mengalami hal itu, saat kita mengajukan materi kepada label, ada satu lagu slow, dan label tersebut ingin kita membuat lagu seperti itu. Nah, kita langsung stop di situ karena perbedaan visi.

Untuk Che sendiri yang membuat lirik, karena lirik Che sendiri sangat cerdas dan tidak rata-rata. Bagaimana cara Che meng-observe sesuatu sampai bisa mencapai pemikiran yang sangat mengakar?
Che: Ada sebuah ilmu bernama Faal. Faal adalah bahasa dunia, bahasa semesta, dan butuh kepekaan untuk bisa menangkap tanda-tanda itu, dan apa yang saya tulis adalah apa yang saya tangkap, yaitu bahasa jiwa dunia atau makna dari apa yang kita lihat. Kita harus bisa menangkap arti dari apa yang kita lihat melalui penalaran. Banyak sih yang bilang kalau lirik yang gue tulis cuma bisa dipahami sama gue dan Tuhan hahaha...
Romy: Banyak yang bilang Che itu dulunya tinggal di matahari makanya pemikirannya berbeda hahaha...
Che: Sebetulnya yang saya lakukan bukan mengobservasi ya, dari segi bahasa kalau memang susah dimengerti mungkin karena gue memperbanyak kosakata dengan membaca. Jadi kata-kata yang dihasilkan tidak terdengar umum.

Ada berapa lagu cinta di album perdana Konspirasi ini?
Che: Ada Simfoni Cinta, Melawan Rotasi, Kekuatanku. Sebetulnya semua lagu tentang cinta, tapi cinta dalam ruang lingkup hubungan asmara ada di lagu Simfoni Luka, Libidinal, Melawan Rotasi. Libidinal itu lagu tentang aktifitas ranjang yang gue tuangkan dalam kata-kata, tapi tetap hubungan di atas ranjang yang bermartabat.
Marcell: Seks yang bermartabat dan sesuai dengan kearifan lokal
(semua tertawa)

Che di syuting DilemaChe di syuting Dilema

Selain memilih jalur grunge, lirik dari lagu-lagu Konspirasi menyimpan makna yang sangat dalam dan sangat filosofis, siapa saja tokoh yang kalian look up to dalam masalah pemikiran?
Che: Dalam hal pemikiran saya penyuka seorang penulis asal Iran yang bernama Ali Syariati. Dia yang mengobarkan revolusi di Iran, bahkan saat revolusinya berhasil dia akhirnya sudah tiada. Buku-bukunya sangat menginspirasi, salah satu penulis luar yang jadi referensi saya untuk masalah pemikiran. Kalian harus baca karya beliau.
Romy: Kalau saya suka Mahatma Gandhi, di rumah juga saya punya sebuah gambar besar yang saya beri pigura juga, isinya adalah 7 sins menurut Mahatma Gandhi, salah satunya berbunyi "Politik tanpa prinsip." Gue suka banget deh sama pemikiran Mahatma Gandhi.
Che: 7 sins tuh artinya 7 dosa ya, berarti lo emang doyan bikin dosa ya? (sambil tertawa).
Edwin: Gue pribadi emang bukan pembaca buku, tapi kalo tokoh yang gue suka dari sisi pemikirian sih belakangan ini gue lagi suka sama Mourinho pelatihnya Madrid. Yang gue suka dari dia adalah dia arogan, tapi punya prestasi. Ambisius, big mouth, tapi big action.
Che: Sayangnya timnya Mourinho baru kalah lawan tim jagoan saya! (tertawa)
Marcell: Saya bukan pembaca buku juga, tapi ada salah satu filsuf Hindu yang saya suka sekali pemikirannya, namanya Osho. Saya lupa nama aslinya, tapi dia yang menciptakan konsep balance. Dia yang mencetuskan konsep "Live your life to the fullest". Di satu sisi kita harus bisa menjadi orang yang bersih juga. Saya juga suka pemikiran Bruce Lee, dia punya salah satu teori bela diri yang berbicara tentang masalah originalitas. Intinya teori ini berbicara tentang segala skill yang kita punya tidak ada gunanya kalau kita tidak punya originalitas. Ada juga pendiri The Satanic Church namanya Anton Lavey, emang kedengarannya aneh sih, tapi dia punya pemikiran yang sedikit membuka mata saya, bahwa ternyata selama ini orang punya pandangan yang negatif tentang satanis tapi logikanya bagus. Pola pikirnya sangat rasional dan sangat manusiawi, intinya teori ini menceritakan bahwa manusia itu sebetulnya binatang. Tidak semua orang bisa memahami hal ini. Satu orang yang saya sedang dalami saat ini adalah Muhammad Hisyam Kabbani, di adalah salah satu orang yang sangat penting dalam dunia sufisme.

Setelah single pertama Melawan Rotasi dan Dilema, next nya lagu apa yang akan dijadikan single?
Che: Lagu Melawan Rotasi dulu kita pilih setelah melakukan hearing MD. Kalau Dilema karena waktu itu menjadi soundtrack film. Nah, untuk single ketiga kita serahkan kepada pihak label. Lagu apapun yang bisa bikin kita makin populer ya silahkan saja lah.
Semua: Hahaha...

(kpl/bin/boo)



Lihat Arsip Musik

- - -