Deftones, dan Obituari Melalui Sehelai T-Shirt

Senin, 03 Juni 2013 18:30 | 

Deftones

Deftones, dan Obituari Melalui Sehelai T-Shirt
Deftones di Bandung: @instagram:deftonesband




KapanLagi.com - oleh: Rea

Hari Rabu, menjelang pukul sebelas malam, ponsel berbunyi. "Selamat, kamu mendapatkan tiket Deftones!" seru suara di seberang, yang waktu itu bahkan belum saya kenal.

Telepon itulah yang membuat saya berada di tol menuju Bandung keesokan harinya, Kamis (30/5). Teman-teman sudah berada di Kota Kembang. Yang perlu saya lakukan hanyalah sampai di venue yang belum pernah saya ketahui letaknya, menemui seseorang yang belum pernah saya kenal, dan menikmati aksi Deftones. Gampang!

Instagram: @deftonesbandInstagram: @deftonesband


Tidak segampang itu kalau cuacanya hujan dan banjir. Menembus macet yang sangat mirip dengan kemacetan ibukota, saya memasuki Eldorado di Lembang sekitar pukul tujuh malam. Ah, terlambat untuk Burgerkill. Sayang sekali...

Di depan panggung, saya bertemu seorang sahabat lama yang mengaku bertumbuh besar dengan lagu-lagu Deftones. Ekspresinya membuat saya tersenyum. Dia terlihat seperti anak kecil yang begitu bersemangat diajak bermain di pasar malam. Andre, nama sahabat saya ini, salah satu yang membiasakan telinga saya dengan Deftones. Malam itu dia memakai T-shirt warna hitam bergambar wajah Chi Cheng, bassist Deftones yang baru meninggal bulan April lalu setelah koma selama empat tahun.

T-shirt itu dia buat sendiri, dikenakannya penuh kebanggaan. Venue-nya sendiri ternyata tidak besar, dan ada tempat duduk di bagian belakang. Saya dan seorang teman yang habis kehujanan memutuskan mundur ke sana. Andre menitipkan tasnya pada kami. Harus dijaga baik-baik, karena ada beberapa benda keramat di dalamnya, yaitu vinyl Deftones.

Diamond Eyes dari album tahun 2010 menjadi pembuka, langsung disusul Rocket Skates. Kalau sudah begini, apalagi cuaca Lembang yang sangat dingin, rasanya ingin melempar diri ke kerumunan depan panggung. Namun saya belum sempat menyaksikan Deftones waktu mereka ke Jakarta, jadi rasanya lebih bijak menonton dari tempat sekarang, agar semua terlihat jelas.

                                         video: entulista

Rumor yang beredar di depan meja tiket sana menyebutkan, Deftones sempat marah-marah karena kelelahan ketika terjebak macet berjam-jam dari Jakarta menuju Bandung. Apakah kondisi tersebut bakal mempengaruhi show malam ini?

Be Quiet and Drive, My Own Summer, Lhabia, Knife Party berturut-turut dimainkan, dan entah kenapa, saya masih merasa kedinginan. Sepertinya penonton di depan panggung kurang hangat, padahal sound tidak jelek, panggung tidak besar, dan lighting cukup nyaman. Baru setelah Chino (vokal) berbasa-basi sedikit, atmosfer jadi lebih asyik, lebih menyerupai konser, bukan seperti nonton bioskop.

Rosemary, Poltergeist, Tempest, Swerve City diselipkan di songlist. Keempatnya datang dari album terbaru KOI NO YOKAN. Chino ternyata punya gaya sendiri kalau sedang bernyanyi tanpa gitar, gaya yang saya sebut 'cute', sementara Stephen Carpenter (gitar) tampil sangat atraktif. Setelah Feiticira, Digital Bath dan Elite, Chino mengalungkan gitar akustik di leher dan berkata, "This song is for Chi." Semua orang mengangkat tangan mereka, atmosfer venue langsung berubah.

                                       video: @entulista

Bulu kuduk saya meremang ketika Chino membuka, "I've watched you change, into a fly, I looked away, you were on fire," dengan suara rendah. Penonton ikut bersuara, lampu panggung warna biru bikin suasana makin... Bukan sedih yang cengeng, bukan pula syahdu atau mellow. Ada yang berbeda. Apalagi gestur Chino menunjukkan dia sangat emosional di lagu ini. Semua jadi terbawa, menggoyangkan tangan di atas kepala sambil berseru, "I watched a change in you, it's like you never had wings. Now you feel so aliveee!"

Mencekam. Mengharukan.

Bloody Cape cukup berhasil membuat stabil perasaan, meski emosi di Change (in the House of Flies) masih kuat tertinggal. Kelima personel Deftones masuk ke balik panggung. Penonton terdiam, entah terlalu dingin untuk meminta encore, atau memang masih terpaku oleh Change. Kelompok-kelompok kecil memanggil Deftones, dan akhirnya mereka kembali.

Di sela lagu, saya memperhatikan seorang pria bertubuh besar yang jelas datang bersama rombongan Deftones. Dia tidak berada di panggung, melainkan melantai bersama penonton. Tujuh kali dia bolak-balik, setiap kali terlihat marah-marah sembari mengusir tujuh orang berbeda. Dilarang merokok di dalam venue, dan  pria tersebut mengusir orang-orang yang nekat menyulut batang rokok. Padahal, penyelenggara memakai seragam panitia dan petugas keamanan juga berada di lokasi yang sama, namun tak ada yang bergeming. Jangan tanya kenapa.

Empat lagu di-set sebagai encore, Bored, Root, Engine #9 dan tentu, 7 Words yang disambut gegap gempita. Tetapi bagi saya, Root menjadi yang paling istimewa. Di intro lagu, Chino sudah berteriak, "Chi! Chi!" dan menampilkan emosi yang nyaris sama seperti dalam Change. Di tengah lagu, dia kembali meneriakkan nama bassist-nya, serempak bersama penonton, "Chi! Chi! Chi!". Kemudian Chino mengangkat sebuah T-shirt hitam bergambar wajah Chi, disambut sorak kerinduan penggemar.

                                           video: @entulista

Kawan di sebelah saya menoleh, "Itu bukan kaosnya Andre?" tanyanya. Saya tidak menjawab. Setelah 7 Words yang membuat Eldorado bergetar, Deftones mengucapkan terima kasih dan masuk panggung. Andre berlari dari depan, bersimbah keringat, senyum paling lebar di wajahnya, dan bertelanjang dada.

Kami berpandangan, saya tersenyum selebar senyum Andre. Ya, yang diangkat Chino tadi adalah T-shirt Andre. Ketika Chi meninggal pada 13 April 2013, saya mengirim pesan singkat kepadanya, menyampaikan ikut berduka. Saya tahu arti Deftones bagi sahabat satu ini, yang terbayarkan dengan konser tersebut, apalagi ketika akhirnya dia berhasil mendapatkan songlist asli Deftones.

Di perjalanan dari Jakarta menuju Bandung, ada sebuah mural bergambar wajah Chi. Momen tersebut ditangkap oleh Deftones, dan memasukkannya dalam Instagram mereka. Selepas konser, Andre pun mengajak kami, "Ayo foto di muralnya Chi!"

Instagram: @deftonesbandInstagram: @deftonesband


Saya tidak ikut berfoto, tetapi saya bangga ikut memberikan penghormatan kepada Chi. Kadang-kadang, kehilangan bukan berarti benar-benar hilang. Seperti Andre, yang langsung terlibat pembicaraan dengan seseorang yang tak dikenalnya di luar venue. Dari T-shirt, obrolan beranjak ke kesukaan terhadap Deftones dan berakhir dengan menukar nomer telepon.

Pada akhirnya, orang yang disayang akan selalu punya arti di hati, sekalipun dia sudah tak berwujud sama. Rest in peace, Chi Cheng.

 

 

(kpl/rea)



Lihat Arsip Musik

- - -