CLEAR Java Jazz 2014 - Hari 2: The Power of Music

Kamis, 06 Maret 2014 20:50 | 

Tulus

CLEAR Java Jazz 2014 - Hari 2: The Power of Music
Incognito di CLEAR Java Jazz 2014: @KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros




KapanLagi.com - oleh: Rea

CLEAR JJF 2014 hari pertama yang berakhir 28 Februari 2014 berhasil bikin saya susah tidur. Masih agak mengantuk saat saya menyeret kaki memasuki pelataran JIExpo Kemayoran, Jakarta. Hawanya tak enak, seperti akan hujan malam nanti.

Perasaan itu hilang ketika kemeriahan CLEAR JJF 2014 menyambut. Lebih ramai, lebih banyak penonton, meskipun tak ada special event hari ini. Tetapi, ada JKT48. Keberadaan idol group (bukan girlband) itu di CLEAR JJF menjadi perhatian publik tersendiri. Banyak yang mempertanyakan apa motivasi diundangnya idol group yang penggemarnya disebut Wota tersebut, bahkan ramai jadi pembicaraan di Twitter.

JKT48 di CLEAR Java Jazz 2014: @KapanLagi.comŽ/DjokoJKT48 di CLEAR Java Jazz 2014: @KapanLagi.comŽ/Djoko

Sebelum JKT48, ada Tulus di B2 Garuda Indonesia. Saya tidak sempat datang di launching album GAJAH, jadi ingin tahu apakah Tulus membawakan lagu-lagu barunya. Sesampai di depan pintu masuk, antrian sudah mengular. Saya tidak heran. Kondisi serupa juga terjadi di Java Jazz Festival 2013. Tetapi, kali ini lamanya keterlaluan. Saya beranjak mendekat dan baru menyadari, Tulus sudah memulai setlist-nya.

"Sudah penuh! Sudah penuh!" seru penjaga keamanan berseragam hitam-hitam di depan pintu. Ternyata venue yang disediakan tak sanggup menampung antusiasme audiens Tulus. Mereka menerapkan sistem buka-tutup pintu, di mana bila sejumlah penonton beranjak keluar, yang masih mengantri bergantian masuk. Samar-samar, saya bisa mendengar penonton bernyanyi bersama Tulus

Tulus, bikin 'macet' di CLEAR Java Jazz 2014 @KapanLagi.comŽ/Agus Tulus, bikin 'macet' di CLEAR Java Jazz 2014 @KapanLagi.comŽ/Agus

Baiklah, saya mengalah. JKT48 menjadi pilihan selanjutnya. Lagipula, saya belum pernah nonton Nabila dan kawan-kawannya. Panggung JavaJazz terletak di depan, dan rupanya bukan saya satu-satunya yang penasaran. Pelataran terbuka itu sudah penuh sekali! Yang di deretan depan kebanyakan kaum adam, bersiap mengacungkan gadget mereka tinggi-tinggi.

Kemudian sekelompok gadis memakai rok mengembang berlarian masuk panggung, berteriak-teriak heboh. Ah, ini dia JKT48. Saya menyimak penampilan cewek-cewek yang punya massa luar biasa itu selama beberapa saat, sebelum beranjak ke Delta Female Stage. Banyaknya pemberitaan soal Latasha belakangan ini membuat saya ingin menonton live-nya.

Wah, Latasha memilih menyanyikan lagu Pertama milik Reza Artamevia. Pilihan menarik, mengingat hari ini, tak banyak lagu pop-jazzy sekelas karya Ahmad Dhani dari album KEAJAIBAN tersebut. Saya ingin tinggal lebih lama, menunggu Latasha menunjukkan kemampuan lebihnya, namun Drew dijadwalkan main di panggung outdoor Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif Stage.

Sudah cukup lama tidak nonton Drew, mereka memang lama tidak manggung. Sashi (vokal) masih dengan gaya lamanya, malah lebih keren sekarang. Di sebelah kiri, dua wanita yang cukup dikenal mengumbar senyum. Mian Tiara dan Emily Laras rupanya bakal senang-senang bersama Drew, dan ups, ada Aditya dari Neurotic/Easy Tiger juga!

Berbeda dari pengisi panggung-panggung lain, Drew nge-rock sejak awal setlist. Wah, ini menarik! Kesepian dan Radio melanjutkan sesi. Di pembuka Tak Sengaja, Sashi memberitahu penonton yang memadati depan panggung, "Kalau lo diselingkuhin, selingkuhin balik aja." disambut tawa dan sorakan penonton. Mereka juga sempat meng-cover lagu Ellie Goulding, Figure 8, yang diakui Sashi sebagai favorit-nya (untuk saat ini). Menjelang akhir, Drew memperkenalkan lagu baru yang dikatakan sudah selesai klipnya, berjudul Hey DJ. High ditempatkan sebagai penutup show.

Menonton Drew selalu menyenangkan. Sepertinya, album baru mereka layak diantisipasi. Apakah musik mereka benar-benar berkembang seperti kilasan yang saya dapat? Mengingatkan diri untuk mewaspadai Drew, saya buru-buru pindah ke panggung Incognito. Dan pengalaman indah saya digenapi band Inggris yang sudah berkarya selama 30 tahun lebih itu.

Dimatangkan oleh panggung, apa mau dikata, kualitas memang tak bisa dibohongi. Jean-Paul Maunick, be-nickname Bluey, adalah seseorang yang mencintai musik. Dia menyukai yang dilakukannya, mengerjakannya sepenuh hati. Gairah itu membuat Incognito terus bertahan selama 35 tahun. 35 tahun!

Secara personel, Incognito (pernah) mempunyai banyak sekali personel, yang terdiri dari berbagai kewarganegaraan. Di panggung, Bluey memberitahu, pemain perkusinya baru berusia 23 tahun. Menurutnya, semangat dari personel muda inilah yang menyuntikkan energi di dirinya. "Without the young people, there is no way I can do it all," ujar Bluey.

@KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros@KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros

@KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros@KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros

Incognito membuat audiens-nya berdansa dengan track-track manis macam Love Has Come Around, Roots, It's Just One of Those Things, Above The Night, I Hear Your Name, sampai Giving It Up. Dira Sugandi bergabung dengan mereka untuk lagu Where Do We Go From Here (ya, mereka memang punya cerita bersama). Still Friend of Mine masih mendapatkan sambutan ekstra meriah, sebagai sebuah anthem. Tak lupa, personel unjuk kemampuan, menjelaskan mengapa Incognito bisa menjaga eksistensi mereka.

Pastinya, ada encore juga. Menyenangkan, karena Incognito memilih karya Stevie Wonder, As. Di akhir penampilan, sebelum masuk ke balik panggung, Bluey berkata, "Beyond the skin colour, we are one nation." Penonton bertepuk tangan, merayakan musik yang nyata mempersatukan manusia, tak peduli warna kulit, ras, dan agama, ketika One Love, lagu legendaris milik Bob Marley mengalun.

@KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros@KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros

Semua orang mengangkat tangan, bersama berteriak, "One love, one heart, let's get together and feel alright". Sebagai ikon musik, Bob Marley memang sangat layak dihormati. Dia menyampaikan banyak pesan perdamaian yang masih relevan bahkan berpuluh tahun setelah meninggalnya. The power of music!

Bahagia, dari Incognito saya pindah ke Earth Wind and Fire Experience. Lagi? Yang kemarin kan belum sampai selesai! Terobsesi oleh keinginan berdansa di lagu September, saya memilih tempat agak di belakang. Mengamati penonton yang rata-rata berusia setengah baya, datang bersama pasangan atau keluarga mereka, semua tersenyum.

Sungguh indah ketika musik bisa dibagi, dirasakan oleh begitu banyak orang yang mempunyai berbagai latar belakang berbeda. Saat ini, dunia tengah membicarakan kemungkinan terjadinya Perang Dunia III, namun untuk sehari, sungguh menyenangkan berbagi kesenangan yang sama, bahkan ketika bahasa yang dipakai sehari-hari tak sama.

(kpl/rea)



Lihat Arsip Musik

- - -