CLEAR Java Jazz 2014 - Hari 1: Menarilah, Berdansalah!

Kamis, 06 Maret 2014 10:50 | 

Jamie Cullum

CLEAR Java Jazz 2014 - Hari 1: Menarilah, Berdansalah!
Jamie Cullum: @KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros




KapanLagi.com - oleh: Rea

Masih mengambil lokasi yang sama di PRJ Kemayoran, hari Jumat 28 Februari 2014 saya menembus macetnya Jakarta dengan penuh semangat. Di hari pertama CLEAR Java Jazz 2014 ini, sudah ada puluhan penampil dalam dan luar negeri yang dijadwalkan. Festival tahunan ini diselenggarakan selama tiga hari berturut-turut sampai 2 Maret 2014, dengan special event dari Jamie Cullum dan Natalie Cole.

Menonton festival selalu seru. Berlari dari satu stage ke stage lain, 'mengenal' artis-artis di luar playlist ponsel, merayakan musik adalah hal yang menyenangkan. Saya berkeliling lokasi dulu, seperti biasa, mencari di mana menyediakan apa.

Ada Mian Tiara di Delta Female Stage. Sudah cukup lama tidak menyaksikan live-nya, buru-buru saya mencari panggung kecil itu. Mian Tiara yang kini berambut pendek mengenakan rok selutut, menyanyikan lagu baru berjudul Kutunggu Kau di Salemba. Tidak tahu ada apa di Salemba, tetapi saya mengesampingkan pertanyaan itu karena kemudian dia melantunkan Disapih. Cengkeraman kuat lagu itu memudar ketika Mian Tiara menutup show-nya dengan Ini Rindu, sebuah aransemen brilian dengan klimaks nanggung yang bikin ingin putar lagunya, lagi dan lagi.

video: Youtube/TheBoyersProduction

Selepas Mian Tiara, saya menyempatkan menonton Dewa Budjana Band, sebelum lari ke D2 CLEAR Hall. Saya ingin menari di lagu September, diiringi langsung oleh Earth Wind and Fire. Sayang, jadwal yang molor membuat saya gagal melaksanakan niat itu, karena harus mengantri di panggung Allen Stone.

Nama yang ini sudah menjadi perhatian sejak tahun lalu. Ini menjadi kedatangan pertama Allen Stone di Indonesia, sehingga saya menetapkan diri harus menontonnya. Dia adalah penyanyi Amerika yang dibesarkan dengan musik gospel. Serunya, dia berkulit putih. Praktis, musiknya memang masih underrated untuk saat ini, tetapi bukankah apapun yang dilakukan dengan sepenuh hati, akan baik hasilnya?

Sedikit merasa tak nyaman menonton aksi Allen Stone sambil duduk, tetapi yang penting dapat baris terdepan. 23 menit setelah pintu dibuka, sang artis memasuki panggung dengan senyum ekstra lebar. Dia mengenakan kaos tua abu-abu, warnanya sudah memudar, serta celana jeans dan sepatu sneakers yang juga jelas dipakainya sehari-hari. Tak ada kesan glamor, apalagi rambut gondrongnya pun diurai begitu saja.

"Selamat malam. Apa kabar? Nama saya Allen Stone. Terima kasih banyak," sapa Allen dalam bahasa Indonesia terpatah-patah. Sorakan tak sabar menyambutnya. Sleep menjadi pembuka setlist, penonton menggoyangkan bahu dan kepala dari kursi masing-masing. Blitz kamera berkelebatan, makin banyak orang memenuhi bagian depan panggung. Karena penonton diharapkan duduk saja di kursi, maka tak ada pembatas antara audiens dan panggung.

Di Celebrate Tonight, Allen meminta penonton maju dan bergoyang di depan panggung. Saya menyeruak maju, berebut tempat dengan puluhan penonton lain. Sebenarnya, jazz bukanlah basic musik Allen. Dia lebih cenderung ke soul dan RnB. Jika kamu sudah menikmati penampilan Allen di Youtube, kamu mendapatkan berkali lipat kesenangan menonton live-nya!

video: YouTube/Allen Stone

Mengapa demikian? Karena Allen tak pernah menanggalkan senyum saat dia bernyanyi, demikian pula band-nya. Melalui Last to Speak, Contact High, Million, Figure It Out dan Tell Me Something Good, show Allen jadi sangat menyenangkan. Dia dan band-nya berhasil membangun atmosfer intim yang begitu hangat. Apalagi ketika pria 26 tahun itu meletakkan gitar akustiknya, meraih mike, dan berkata, "I wanna get some intimacy here."

Sembari bernyanyi Contact High, dia mendekati penonton, bahkan duduk di pinggir panggung. Beberapa orang penonton bergerak cepat mengambil foto selfie dengan Allen, yang diladeni sang penyanyi tanpa ragu. Jelas, Allen menikmati panggung pertamanya di Indonesia. Dia berulang kali mengucapkan "Terima kasih banyak", sekali lagi disertai senyum lebarnya.

Lebih dari itu, Allen menikmati musiknya. Dia bergerak begitu smooth, menari dan melompat di setiap ketukan yang dihasilkan band-nya, bernyanyi sepenuh jiwa, menularkan energi kepada penonton yang penuh semangat menurutinya bergoyang dari kiri ke kanan. Sebenarnya, tanpa dikomando pun, audiens sudah menari sendiri. Rasanya seperti menonton seorang kawan lama tampil, bukan seorang artis internasional.  

Perasaan itu diperkuat ketika saya menyadari T-shirt yang dikenakan Allen berlubang. Bukan cuma satu lubang, tetapi ada banyak, lubang yang biasa ada di sehelai T-shirt yang sudah dimiliki bertahun-tahun. Melihatnya, saya tak mampu menahan senyum. Betapa apa adanya pria ini! Tak ada kesan keartisan. Dia hanya menyukai musik dan berbagi kesenangan itu.

video: YouTube/The Mahogany Sessions

Allen sempat memperkenalkan lagu baru, berjudul Voodoo. "What voodoo do you do? What voodoo do yo do, doo doo," kata Allen, mengajari publiknya bernyanyi. Dengan senang hati, semua mengikuti contoh yang diberikan. Beberapa orang di belakang berteriak meminta Allen menyanyikan Is This Love, salah satu lagu coveran Allen yang populer di YouTube.

Satisfaction yang bergaya rock n roll menjadi penutup setlist. Allen berhasil memberikan penampilan terbaiknya, persis seperti yang kamu tonton di YouTube, hanya saja lebih bersemangat. Dia melahirkan senyum di wajah semua orang, juga di wajahnya sendiri dan wajah personel bandnya. Saya tidak sempat meneriakkan "We want more!" karena harus mengejar jam Jamie Cullum.

Sulit untuk tidak terpesona pada Jamie Cullum, yang berperawakan kecil namun penuh semangat. Pada 2007, dia sudah pernah bernyanyi di Java Jazz, tetapi itu tujuh tahun lalu. Mengakui dirinya sudah 'tua' dan tak sanggup lagi menari seperti dulu, Jamie masih begitu atraktif di panggung. Dia tak hanya bernyanyi sembari memainkan tuts piano, dia juga melompati piano itu, memukul-mukulnya, bahkan sedikit ber-boombox dengan lagu Drop It Like It's Hot (Snoop Dogg feat Pharrell Williams) sampai Get Lucky (Daft Punk feat Pharrell Williams).

Jazz yang dimiliki Jamie memang bukan tipikal jazz ortodoks. Dia banyak mencoba bereksperimen, kadang mengejutkan, seperti sensasi dinginnya es krim dalam sepotong kue lava, namun menyenangkan. Lampu panggung warna biru menjadikan show ini dramatis, sehingga audiens pun tak rela saat Jamie masuk ke balik panggung.

Jamie Cullum di CLEAR JJF 2014 @KapanLagi.comŽ/Bambang E RosJamie Cullum di CLEAR JJF 2014 @KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros

Jamie Cullum, super keren! @KapanLagi.comŽ/Bambang E RosJamie Cullum, super keren! @KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros


WE WANT MORE!! Jamie kembali ke depan piano, tersenyum lebar, menangkupkan kedua tangan di depan dada, seolah tak percaya. Penggemar bersorak. Encore dimulai, penonton kembali dihanyutkan dalam pesona unik Jamie. Penyanyi ini telah tampil di banyak panggung, namun dia tetap bersikap ini kali pertamanya. How sweet is that?

Sudah hampir dini hari ketika saya melangkah keluar venue. Perasaan hangat menjalari hati. Allen Stone dan Jamie Cullum memenuhi ekspetasi saya, bahkan memberi lebih. Allen masih akan tampil di show kedua hari Minggu, 2 Maret. Masih ada dua hari tersisa di gelaran CLEAR Java Jazz 2014. Yang pertama telah berakhir, sensasi senangnya setelah menari bahkan masih terasa di dalam perut, seperti jatuh cinta.

 

(kpl/rea)



Lihat Arsip Musik

- - -