Catatan Spesial Java Jazz Fest 2013: Yang Segar dan Yang Berkualitas

Jumat, 08 Maret 2013 12:00 | 

Lee Ritenour

Catatan Spesial Java Jazz Fest 2013: Yang Segar dan Yang Berkualitas
Lee Ritenour di Java Jazz Fest 2013: @KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros




KapanLagi.com - oleh: Rea A

Sabtu siang (2/3) itu agak mendung. Sesuai dugaan, hari kedua Java Jazz Festival 2013 di Kemayoran, Jakarta, malah bertambah ramai dibanding hari pertama. Wajah-wajah lelah kru Java Jazz menyambut sejak di gerbang, namun mereka tetap mengulas senyum.

Macet khas Jakarta membuat saya baru bisa memasuki venue setelah lewat magrib. Di JavaJazz Stage, disambut Bubugiri, duo yang sudah lama mencuri perhatian penyuka jazz Jakarta. Mereka kerap meng-cover lagu-lagu populer dan bermain di kafe-kafe seputaran Kemang, Jakarta Selatan, sehingga tanpa disadari membentuk basis massa tersendiri.

Bubu di vokal jelas mempunyai kemampuan. Dia benar-benar bisa menyanyi, dan justru terlihat makin cantik dengan tubuh besarnya. Dia sangat komunikatif, suaranya seksi, dan dia suka menari. Ramuannya tepat bersama Giri yang begitu groove. Menonton Bubugiri, saya langsung memutuskan mengikuti jadwal reguler mereka di kafe. Tak perlu lama berdiri, tahu-tahu saja tubuh sudah ikut bergoyang tanpa disadari dan bibir sudah tersenyum. Coba nikmati video di bawah ini.

                                           video: @adhli

Sebelum Bubugiri selesai di panggung JavaJazz, jam sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam. Waktunya untuk Lee Ritenour dan Dave Gruisin. Nama pertama adalah gitaris jazz asal Amerika yang sudah merekam lebih dari 42 album sejak 1976, sementara yang kedua merupakan seorang pianis peraih Grammy Awards dan Oscar.

Prestasi mereka terlalu panjang untuk dijabarkan di sini, yang jelas penampilan 1 jam 15 menit ini akan menjadi pengalaman berharga. A3 Hall sudah penuh ketika saya mendesak maju. Rasanya nyaman sekali mendengar musik indah dari Lee dan Dave. Keduanya memang sudah sering tampil bersama, itu sebabnya musik mereka terdengar mengalir.

Tidak terkejut juga ketika Lee tiba-tiba berkata, "Please welcome, Phil Perry!" dan penonton bergemuruh. Ibaratnya, mereka ini memang satu geng, memang sungguh berkawan. Meskipun tidak berhasil mengagetkan saya, namun harus diakui, suara Phil memang luar biasa.

Mereka membawakan It Might Be You, dan bisa terdengar desah-desah kekaguman dari sana-sini. Yang kamu tonton di bawah ini, sepersekian dari keindahan aslinya. Di atas itu semua, kamu bisa melihat mengapa mereka disebut musisi, bukan sekadar penyanyi atau gitaris.

video: @satyadw

Penonton bersorak kecewa ketika Phil masuk panggung setelah It Might Be You. Yah, namanya juga special guest star. Lee dan Dave pun sudah amat menghibur. Kembali larut dalam instrumentalia berkelas, tak terkira senangnya kami saat Phil Perry kembali muncul.

Bob Marley! Lee Ritenour memang punya album khusus yang didedikasikannya untuk Robert Nesta Marley, sehingga terlintas harapan pribadi, mudah-mudahan yang dibawakan yang Waitin in Vain, lagu cinta manis dari sang ikon.

Yang dipilih ternyata Get Up Stand Up. Ah, tak jadi masalah, masih bisa nyanyi bersama! Sekaligus jadi lagu penutup, rasanya senang sekali melihat kolaborasi berkualitas internasional seperti ini. Dari A3 Hall, mengantri lama di kamar mandi, harus langsung berlari menuju D1 Hall.

d Masiv Jazz Project menepati janjinya, membawa pasukan brass section. Berpenampilan rapi, mereka berhasil menjadi salah satu highlight di Java Jazz Fest 2013, hari kedua. Keluar dari D1, satu tujuan pasti membuat saya terburu kembali ke JavaJazz Stage.

Sudah lama sekali saya tahu Sister Duke, dan baru Sabtu lalu mendapat kesempatan menonton langsung shownya. Cantik mengenakan busana putih dengan signature topi hitam ekstra lebar, Nengah Krisnarini, nama aslinya, malu-malu mengakui dirinya sudah terlalu lama tak berkarya.

Sister Duke: @Facebook/SisterDukeSister Duke: @Facebook/SisterDuke

Membawakan lagu-lagu lama, termasuk MYOB yang diedarkan secara gratis beberapa tahun lalu, dengan cerdas Sister Duke menambahkan sound-sound baru. Meracik soul, nu jazz dan soulful house (menurut tulisan di Facebook resminya), musik mereka terdengar modern dan menggoda.

Sayang, saya tidak bisa menyelesaikan show sampai tuntas. Menurut jadwal, Tulus bakal tampil di Kementerian Perdagangan Hall. Ketika akhirnya saya menemukan venue yang dimaksud, antrian mengular sudah terbentuk di depan pintu yang masih ditutup. Walah!

Show ini molor 30 menit dari waktu yang ditentukan. Saya terdesak di antara ratusan pria dan wanita pertengahan usia 20-an dengan gadget-gadget canggih mereka teracung ke atas, dan histeria yang lebih dahsyat. Tulus memang sedang naik daun belakangan ini. Satu album debut tampaknya sudah cukup menjadi amunisi.

Lirik berbahasa Indonesia cerdas dan kemampuan vokal melejitkan Tulus di antara pesaing yang tidak banyak. Untuk sekadar dicatat, dia mempunyai sejumlah video klip berkelas. Ratusan penggemar muda yang rela menunggu bernyanyi bersama hampir di tiap lagu, kecuali ketika Tulus menyanyikan preview lagu barunya yang berjudul Sepatu.

video: @Btari Istighfarrah

Menjelang pukul satu dini hari, penggemar muda berpakaian modis membubarkan diri dari venue. Terbawa arus, saya memutuskan pulang sebelum jadi sukar mendapatkan taksi dan jalanan macet. Terpuaskan, yang masih terngiang di benak adalah Get Up Stand Up dari Lee Ritenour, Dave Gruisin dan Phil Perry.

Hari ini, mudah untuk menjadi artis atau selebriti. Namun tidak pernah gampang menjadi musisi. Cinta, pengorbanan dan dedikasi bertahun-tahun ditunjukkan oleh penampil internasional yang tadi saya tonton. Dengan bibit-bibit lokal segar Indonesia, semoga 20 tahun lagi ada yang masih menelurkan album berkualitas. Saya yakin ada.

 

 

 

 

 

 

(kpl/rea)



Lihat Arsip Musik

- - -