Tokio Hotel: 'HUMANOID,' Bukan Dari Jepang, Tapi Dari Jerman

Kamis, 03 Juni 2010 01:17





  • Tokio Hotel: 'HUMANOID,' Bukan Dari Jepang, Tapi Dari Jerman
    Tokio Hotel: HUMANOID mtv.com

KapanLagi.com - Oleh: Noviana Indah

Meskipun dari namanya terdengar seperti ke-jepang-jepang-an, namun Tokio Hotel digawangi oleh empat musisi asal Jerman. Namun, nama itu rupanya memberikan keberuntungan bagi Bill Kaulitz, Tom Kaulitz, Georg Listing, dan Gustav Schafer.

Dengan musik nu metal/acoustic rock, Tokio Hotel mengingatkan pada karakter Mayday Parade, Aiden, dan City Sleeps, namun kekhasan suara Bill masih dapat dianggap sebagai sebuah kekuatan tersendiri. Dan dengan album studio berbahasa Inggris kedua mereka ini, mereka jelas menunjukkan diri pada pasar remaja.

Sayangnya, banyak lagu-lagu mereka yang 'terasa' meniru musisi lain. Single utama mereka, Automatic, menggunakan efek auto tune yang seperti kebanyakan hip hop yang sedang in di Amerika. Dan dengan suara keyboards yang bubbly, Dogs Unleashed seperti lagu-lagu new wave pop era 80-an. Hey You terasa seperti band metal 80-an dengan rambut tergerai melambai dan Human Connect to Human terdengar seperti Personal Jesus milik Depeche Mode.

Dan elemen-elemen yang 'dipinjam' dalam HUMANOID ini memang memberikan kesan familiar pada pendengarnya. Namun, di waktu yang sama, mereka akhirnya terdengar gampang ditinggalkan.

Tapi, ada kalanya Tokio Hotel benar-benar menggerakkan hati Anda. Suara Bill yang merupakan elemen paling menonjol dalam musik Tokio Hotel terutama dalam lagu yang bertempo lebih lambat akan membuat Anda merasakan sesuatu yang berbeda. Dan World Behind My Wall memberikan sebuah musik gloomy yang indah namun tak membuat patah semangat. The Pain of Love juga tak bisa dianggap enteng. Bahkan Zoom Into Me yang menutup album HUMANOID membuatnya terasa klimaks.

HUMANOID memang masih menunjukkan pola sama seperti yang dipakai oleh Tokio Hotel dalam SCREAM. Memang terasa lebih hitam dan beremosi, namun mereka masih terjebak dalam kotak pasar remaja. Mungkin benar yang mereka katakan dalam World Behind My Wall, 'but i never know, the world behind my wall.' Jadi, mereka benar-benar harus melihat apa yang ada di balik tembok itu. (kpl/npy)


Nama
Email
Komentar
Komentar yang tidak sopan akan dihapus.

Komentar Pembaca (0)

Lihat Arsip Musik

- - -