Lorde, 'PURE HEROINE', Kesegaran Yang Memabukkan

Selasa, 28 Januari 2014 20:50 | 

Lorde

Lorde, 'PURE HEROINE', Kesegaran Yang Memabukkan
Lorde: PURE HEROINE




KapanLagi.com - oleh: Rea

Sebelum mulai bicara soal musik, baiknya kita sama-sama tahu bagaimana menyebut nama Lorde. Ucapkan tanpa huruf E. Huruf terakhir itu merupakan imbuhan Lorde sendiri, semata terlihat lebih feminim.

Namanya Ella Maria Lani Yelich-O'Connor, usianya 17 tahun, dan dia berasal dari Selandia Baru. Dua hal terakhir menjadi fakta mencengangkan seiring lagu Royals menjalar bak racun tanaman rambat di negara-negara lain. Masalah asal-usul ini menjadi menarik karena, well, bisakah kamu menyebutkan nama penyanyi yang berasal dari Selandia Baru?

Tidak banyak, memang. Satu nama yang cukup dikenal adalah Kimbra yang membantu Gotye dalam Somebody That I Used to Know. Namun seperti juga nasib Gotye yang kemudian menjadi persis seperti judul superhit-nya, demikian pula Kimbra. Lorde muncul membawa konsep gelap yang menakutkan sekaligus menarik. Misterius.



Lana Del Ray kerap menyanyikan lagu serupa Royals, namun dia sangat cantik, bertubuh indah, sehingga mudah menonjol. Lorde berbeda. Parasnya tidak amat menarik, pacarnya keturunan Asia, aksennya aneh, tetapi di antara kesempurnaan Lana, Taylor Swift, dan Selena Gomez, Lorde jadi mencuri perhatian.

Tidak berhenti di situ. Lorde pun tidak menyanyikan soal cowok melulu. Di usia 17 tahun yang seharusnya dipenuhi keceriaan kencan atau kegalauan cinta, dia memilih menyanyikan lirik puitis yang menggigit, seperti "Don't you think that it's boring how people talk?" dalam nada rendah.

10 lagu dimasukkan ke PURE HEROINE, sesungguhnya itu saja sudah lebih dari cukup untuk membuatmu kecanduan. Lorde tidak meninggalkan aksen Selandia Baru-nya, membuat lagu-lagunya lebih mempesona lagi.



400 Lux berada di antara Tennis Court dan Royals. Yang terakhir pasti kamu sudah tahu, megahit memabukkan, menampilkan mata indah Lorde dengan rambut keritingnya, penuh percaya diri memberikan pernyataan yang bahkan tidak terdengar meminta, "Let me live that fantasy."

Ribs dibuka lebih banyak ambient, disambut nada rendah dan lirik dengan rhyme mengesankan semacam, "Lover's spit' left on repeat." Buzzcut Season dan Team menyusul berturut-turut, sekilas mengingatkan pada Lana Del Ray, kecuali bahwa Team lebih mencekam karena pengulangan lirik sebelum drum dan synthesizer masuk.

Beberapa titik mengingatkan pada Feist, namun sangat rendah. Agak menyeramkan sebenarnya, mengingat Lorde baru 17 tahun namun sudah menyanyikan lirik bijak dan berima. Glory and Gore dan Still Sane masih dibawakan dengan suara smoky-nya, yang makin lama makin terasa nyaman.



White Teeth Teens adalah lagu yang sangat menggelitik, liriknya bahkan lucu. Sebagai lagu terakhir, A World Alone tercatat sekaligus yang terpanjang, meski tak sampai lima menit durasinya. Mengejutkan, ketukan dansa di dalamnya terasa dramatis dengan vokal Lorde.

Dan inilah lagu di mana Lorde menyatakan segala sesuatu yang ingin dinyatakannya. Di usia 17 tahun, dia sudah menjadi seorang feminis, kritikus tak kenal takut yang menyinggung Taylor Swift di sebuah wawancara, dan menolak menjadi aksi pembuka Katy Perry. Lorde telah menempatkan kata 'remaja' di garis level baru, kategori baru di mana kata 'rambut pirang', 'imut', 'manis' dan 'kencan di akhir minggu' tidak termasuk di dalamnya.

Lorde mencatatkan banyak keinginan, bahkan juga menjadi a beauty queen, namun seperti yang dikatakannya, dia tak peduli apa pemikiranmu. Ironi yang indah, terutama dengan kejujurannya, dan fakta bahwa dia mengetahui banyak kosakata sulit daripada sekadar pesta. Jadi itulah sebabnya dia didaulat menjadi Penyanyi Solo Terbaik di Grammy 2013, mengalahkan Katy Perry

(kpl/rea)



Lihat Arsip Musik

- - -