Catatan Spesial Java Jazz Fest 2013: Pelajaran Hidup Sang Legenda, Jimmy Cliff

Kamis, 07 Maret 2013 12:00
Catatan Spesial Java Jazz Fest 2013: Pelajaran Hidup Sang Legenda, Jimmy Cliff
Jimmy Cliff di Java Jazz Fest 2013: @KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros




KapanLagi.com - oleh: Rea A

Sebelum Java Jazz Festival 2013 dimulai pada Jumat, 1 Maret 2013, nama Jimmy Cliff sudah sangat mencuri perhatian. Yang pertama, nama ini bukan dari scene jazz, justru berseberangan.

Jimmy adalah seorang legenda musik Jamaika. Harus diingat, reggae merupakan turunan dari ska, dan pria kelahiran tahun 1948 ini berperan besar dalam perkembangan kedua musik dansa tersebut. Kalau kamu belum pernah mendengar nama Jimmy Cliff, maka sudah saatnya kamu tahu, Jamaika tak melulu soal Bob Marley.

Tak hanya bernyanyi, Jimmy juga seorang aktor. Dia berperan dalam film legendaris THE HARDER THEY COME (1972), yang melahirkan lagu soundtrack The Harder They Come. Yang jadi catatan khusus, dia adalah satu-satunya penerima Order of Merit dari pemerintah Jamaika yang masih hidup. Garisbawahi itu, satu-satunya yang masih bernafas. Order of Merit adalah penghargaan tertinggi di Jamaika yang diberikan berdasarkan dedikasi seseorang terhadap negara dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan.

video: @mrdianpattinama

Beberapa tahun lalu, Jimmy sempat mengundang kontroversi, ketika dia berpindah kewarganegaraan ke Inggris. Dalam sebuah pertandingan sepak bola antara Inggris dan Jamaika di Inggris, dia menyanyikan lagu kebangsaan milik negara barunya. Tak ayal, keputusan ini menuai protes dan hujatan dari masyarakat Jamaika.

Tidak butuh waktu lama untuk menjadikan show Jimmy sebagai prioritas hari pertama perhelatan akbar Java jazz Festival 2013. Tak terpikir untuk mencari teman nonton, namun tak kaget juga bertemu kawan-kawan Skinhead dari Jakarta, Bandung dan Malang di JIExpo Kemayoran yang jadi lokasi. Dandanan Ben Sherman dan Fred Perry mereka terlihat unik di tengah parade celana ketat pendek dan baju-baju bermerk khas mall.

Sing a long with Jimmy Cliff! @KapanLagi.comŽ/Bambang E RosSing a long with Jimmy Cliff! @KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros

Sempat pontang-panting berlarian dari A3 Hall gara-gara ternyata masuknya lewat A2 Hall, kami langsung menyeruak, berusaha mendapatkan tempat terbaik. A3 Hall tidak bisa dikatakan penuh sesak, sebagian besar malah diisi oleh kaum ekspatriat. Tidak heran, penyuka Jimmy Cliff memang terbilang segmented.

Dan justru karena segmented itulah, show ini jadi istimewa! Semua orang bisa berdansa dan tertawa, sungguh menyenangkan. Jimmy dan pasukannya mengenakan pakaian seragam, didominasi warna merah dan hitam. Pria ini sudah berusia 64 tahun, namun energinya seolah dia masih berada di pertengahan 20-an. Jimmy bergerak tiada henti, bikin malu penonton yang hanya berdiam diri.

Jimmy Cliff dan tim yang luar biasa @KapanLagi.comŽ/Bambang E RosJimmy Cliff dan tim yang luar biasa @KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros

Durasi 1 jam lebih 15 menit terasa begitu pendek, berkat show atraktif Jimmy dan timnya yang terus-menerus mengajak audiens bergoyang. Bukan hanya sang bintang, namun band pengiring sampai penyanyi latarnya seolah memiliki 110% persen energi. Asyiknya lagi, Jimmy bahkan mengajari cara berdansa ska!

"You do it like this, and then like this," kata Jimmy seraya menggerakkan kakinya, melakukan sebuah tarian, "You see? This is how you do the ska. Before reggae, there is a music called ska."

Sebuah pelajaran dari sang legenda sendiri!

Jimmy membawakan lagu-lagu terpopulernya, seperti I Can See Clearly, Wild World dan The Harder They Come. Jelas, dia terkesan dengan audiensnya malam itu, yang bersorak dan menari tiada henti. Memasuki lagu bersejarah Many Rivers to Cross, penonton terdiam mendengar suara berkekuatan penuh Jimmy, sendirian tanpa iringan apa pun.

"Many rivers to cross, and it's only my will that keeps me alive. I've been licked, washed up for years, and I merely survive because of my pride," nyanyi Jimmy, membuat hati terasa bergetar.

video: @mrdianpattinama

Ada hal lain yang terasa menyentuh dalam show ini. Bukan lampu panggung keren, bukan pula harga tiket festival. Soul Jimmy yang membuat 1 jam 15 menit ini terasa begitu berharga. Dia menyanyi dari hati, bukan hanya karena dia harus, namun karena dia mencintai yang dilakukannya.

Semangat itu jelas sudah menjadi jiwa tim. Semua terlihat bahagia, apalagi ketika menyanyikan lagu Rivers of Babylon (milik The Melodians, 1970) yang juga ada di album soundtrack THE HARDER THEY COME.

Sempat memainkan gimmick klasik we-want-more, show keren ini ditutup dengan anti-klimaks, One More. Jimmy meninggalkan audiensnya meneriakkan "One more, one more," sambil melambai, masuk ke balik panggung, dan kami semua terdiam setelah itu. Sudah selesai? Benar-benar sudah selesai?

video: @mrdianpattinama

Ya, memang sudah selesai. Show boleh saja berakhir tepat waktu, namun Jimmy meninggalkan momen luar biasa di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 1 Maret 2013. Ska dan reggae adalah scene yang sangat jarang tersentuh media, apalagi promotor. Kedatangan Jimmy bagaikan oase di padang gurun, melimpahkan harapan, terutama ketika dia berkata, "This is my first time in Indonesia, and I'm sure it won't be the last."

Keluar dari hall, menghapus keringat sejenak, beberapa orang kawan Skinhead berlarian dari dalam venue, mengacungkan sejumlah vinyl. "Aku dapat tanda tangan Jimmy!" teriak mereka, dan saya tersenyum. Terkadang, yang minoritas lebih tahu arti perjuangan dan cara menghargai.

(kpl/rea)



Lihat Arsip Musik

- - -