Big Sound Festival 2013, Menggapai Mimpi Masa Kecil

Kamis, 16 Mei 2013 20:00 | 

Blur

Big Sound Festival 2013, Menggapai Mimpi Masa Kecil
Damon Albarn (Blur) di Jakarta: @KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros




KapanLagi.com - oleh: Rea

Blur adalah kenangan masa sekolah. Masih jelas dalam ingatan, sebelum berangkat sekolah dan sepulangnya, selalu putar kaset Blur. Kaset ya, tahun 90-an tidak ada mp3. Semua berbentuk rilisan fisik, hal vital yang membedakan generasi 90 dengan 2000-an.

Semangat itu terasa membakar saat menembus macetnya Jakarta Selatan di jam pulang kantor. Macet bukan apa-apa kalau mengingat Blur baru bereuni dan bagaimana lagu-lagu mereka turut mem'besar'kan. Adalah Big Sound Festival yang mewujudkan mimpi generasi 90-an ini, berusaha meraih generasi yang lebih muda dengan membawa serta Tegan and Sara dan The Temper Trap.

Dalam wawancara di siang harinya, Tegan dan Sara sudah terlihat sangat bersemangat, sehingga saya yakin mereka bakal memberikan yang terbaik. Gara-gara berburu T-shirt dan mengantri, saya baru masuk menjelang akhir show Tegan and Sara yang mendapat jatah 45 menit. Seperti sudah diduga, Closer menjadi lagu penutup. Penonton membubarkan diri dari Lapangan D Senayan untuk membeli makanan atau minuman, sementara The Brandals bersama Berandalan-nya mulai berteriak di panggung lain di bagian luar lapangan.

Tegan and Sara di Big Sound Festival @KapanLagi.comŽ/Bambang E RosTegan and Sara di Big Sound Festival @KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros


Sebelum usai The Brandals, saya beranjak masuk ke lapangan besar. The Temper Trap bakal main setelah ini, baru kemudian Blur. Di luar dugaan, The Temper Trap menampilkan pertunjukan sangat menarik. Lagu-lagu mereka asyik buat bergoyang, dan itulah yang kami lakukan di tanah luas ini. Dougy Mandagi (vokal) benar-benar bisa bernyanyi, dan dia melakukannya dengan sangat baik. Improvisasi mengesankan dipamerkan band yang melejit luar biasa setelah turut dalam soundtrack film 500 DAYS OF SUMMER ini. Tentunya, Sweet Disposition menjadi pamungkas yang menyisakan senyum di wajah penonton.

The Temper Trap: @KapanLagi.comŽ/Bambang E RosThe Temper Trap: @KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros

Panggung pun kosong. Penonton mulai menyemut ke depan. Saya memilih tetap di belakang. Dua screen yang tidak terlalu besar dipasang di kanan-kiri panggung. Orang-orang di FOH (Front of House) berganti, dan di sana-sini, kelompok-kelompok kecil mulai bernyanyi, "Come on come on come on, get through it. Come on come on come on, love's greatest thing." Setiap satu suara hilang dari sebuah kelompok, kelompok lainnya menyanyikan bait yang sama.

Teman baik yang datang bersama meremas lengan saya. Dia tampak sangat bahagia. Berbagai rentang usia memenuhi Lapangan D, dari 20-an sampai menjelang 40 tahun, berbicara dalam berbagai bahasa, dan paling asyik, kaos band yang dikenakan berbeda-beda. Mulai dari Blur sampai Queen of The Stone Age dan Jamiroquai.

Girls and Boys jadi pembuka. Rasanya seperti bermimpi. Blur. Ini Blur, di depan mata! Kami melompat, menari, bernyanyi menemani Damon Albarn sejak bait pertama.

Siang harinya, di hotel, dalam obrolan bersama Graham Coxon dan Alex James, sang gitaris sempat bertanya, "How many people will come tonight?" Hal yang sama pernah ditanyakan drummer Weezer, Patrick Wilson, pada Desember 2012, dalam obrolan eksklusif KapanLagi.comŽ. "You'll be surprised. They're coming from everywhere, every city in Indonesia," adalah jawaban saya. Nyaris menyerupai sebuah janji.

Alex James dan Graham Coxon saat interview, Rabu (15/5) siang @KapanLagi.comŽ/Bambang E RosAlex James dan Graham Coxon saat interview, Rabu (15/5) siang @KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros

"Oh, really?" tanya Graham, Rabu (15/5) siang, yang langsung tampak bersemangat. "Are they gonna sing a long with us?"

"Absolutely!" jawab saya, lagi-lagi nyaris menyerupai sebuah janji. Tetapi saya yakin bisa menepati janji itu. Blur terlihat terkejut melihat massa mereka, yang setia berteriak dan melompat. Semangat itu menular, sehingga Graham bergerak ke sana-kemari dan Damon tak ragu menari.

Popscene, There's No Other Way dan Badhead tetap dikawal paduan suara penonton. Damon pasti terkesan, karena kemudian dia memuji dengan aksen British-nya, "You have a good strong voice," katanya sebelum Beetlebum. Penonton bergemuruh dalam kebanggaan dipuji sang idola dan bernyanyi makin keras lagi.

                                 video: @aldy firstanto

Beetlebum! Baru intro, penonton bertepuk tangan mengiringi musik. "And when she lets me slip away, she turns me on, all my violence is gone," seru serempak seisi Lapangan D yang tak peduli debu lapangan masuk ke tenggorokan. Out of Time, Trimm Trabb, dan Caramel disambut meriah. Tentu saja, lagu kotak susu yang legendaris tak boleh dilupakan. Ya, maksud saya, Coffee and TV.

Damon tersenyum ketika semua orang mengangkat tangan dan menggoyangkannya sembari memadu suara dalam Tender, "Come on come on come on, get through it. Come on come on come on, love's greatest thing." Bagian reff membuatnya menerawang sejenak. Lampu biru di panggung bikin suasana terasa syahdu, dan seketika Lapangan D diselimuti kasih sayang. Rasanya, semua orang saling mencintai.

Sejenak, Damon menerawang di tengah lagu Tender @KapanLagi.comŽ/Bambang E RosSejenak, Damon menerawang di tengah lagu Tender @KapanLagi.comŽ/Bambang E Ros

End of a Century, Death of a Party, This Is a Low memperpanjang setlist. Ketika intro masuk ke Parklife, personel Blur berlarian dari ujung ke ujung, Damon melompat-lompat dan menendang-nendang, membuat penonton makin bersemangat berteriak, "All the people, so many people, they all go hand in hand, hand in hand through their parklife! PARKLIFE! PARKLIFE!"

                                        video: @Fetboy Slim

Damon bikin penggemarnya menggila ketika dia turun panggung dan memanjat ke penonton dalam Country House. Seorang gadis di sebelah saya berseru dengan suara serak, "Enak banget sih itu yang di bawah Damon!" Pernah nonton konser Blur di Hyde Park, London, pada 2009? Persis seperti itulah yang terjadi.

Blur membawa serta dua orang penyanyi latar wanita yang terus-menerus tersenyum, serta tiga orang seksi tiup yang selalu berhasil melegakan penonton. Jelas, Graham, Alex, Damon dan Dave Rowntree senang dalam show semalam, karena mereka juga banyak tertawa dan tersenyum. Senang sekali rasanya melihat Damon menari-nari di lagu Parklife!

Menjelang pukul setengah 11, panggung kembali kosong. Saya memilih diam untuk mengumpulkan tenaga, karena tahu mereka pasti kembali. Empat lagu dipasang sebagai setlist penutup: Under The Westway, For Tomorrow, The Universal dan Song 2.

Under The Westway adalah lagu baru Blur, yang dimainkan Damon dari balik organ, di bawah sorot lampu panggung warna biru. Sekalipun sudah berusia 45 tahun, gadis-gadis di sekitar saya menjerit-jerit memuji ketampanan sang vokalis. The Universal, lagu indah yang sangat kuat, membuat Damon menggerakkan tangan memimpin paduan suara sampai diakhiri dengan seksi tiup yang megah. "You are genuine, an inspiration tonight. Thank you so much, fantastic," kata Damon kepada publik.

                                    video: @Ayi Mahardhika

Mudah diduga, Song 2 menjadi lagu terakhir. Lagu pembebas dari segala tekanan menjadi dewasa, seperti kembali ke masa sekolah. Lagu yang juga menjadi salah satu ikon tahun 90-an. Di sebelah saya, seorang ibu setengah baya, berhijab, menyanyi hampir di semua lagu, walaupun tak ikut melompat. Agak di depan, seorang bocah yang datang bersama keluarganya mengangguk-anggukkan kepala. Tidak ikut bernyanyi atau menari, namun dia telah mendapatkan pengalaman keren.

Dalam kamus Bahasa Indonesia, dituliskan, kenangan: ke.nang.an
[n] (1) sesuatu yg membekas di ingatan; kesan: ~ manis telah berlalu. Blur membawa kembali memori 20 tahun lalu, seperti ketika orang masih berkunjung ke rumah temannya untuk mengobrol, bertatap muka, bukannya melalui BlackBerry Messanger. Menimbulkan perasaan senang dan nyaman, sama seperti kalau mengingat masakan rumah.

 

 

 

 

(kpl/rea)



Lihat Arsip Musik

- - -