Resensi Musik, Apakah Kolom Kecil Ini Perlu Dibiarkan Mati?

Natanael Sepaya  |  Jumat, 27 Mei 2016 20:22
Resensi Musik, Apakah Kolom Kecil Ini Perlu Dibiarkan Mati?
Resensi Musik © Istimewa
Kapanlagi.com - Apapun bentuknya, fisik maupun digital, kolom resensi dalam sebuah portal musik selalu jadi salah satu hal yang menarik untuk dibaca. Yap, di kolom inilah kita bisa membaca ulasan tentang sebuah album secara terperinci mulai dari judul, sampai artwork cover.

Tapi kalau saya melihat kondisi dan tren penikmat musik sekarang, rasanya kolom tersebut mulai ditinggalkan secara perlahan oleh para pembacanya. Lebih menarik lagi ketika saya membaca interview antara Tomi Wibisono dan Soni Triantoro bersama Wend Putranto dari Rolling Stone dalam buku mereka yang berjudul Questioning Everything, kumpulan interview terbaik - menarik yang pernah dimuat Warn!ng Magazine.

"Seberapa penting resensi musik saat ini?"

Wendi yang pernah aktif di skena musik ibukota dan kini menjabat sebagai managing editor Rolling Stone Indonesia itu pun menjawabnya dengan santai. Menurutnya, resensi musik pun dinilai sudah tidak efektif lagi untuk menjadi guide, sebuah panduan untuk para penikmat musik sebelum pergi mengunjungi toko-toko yang menjual rilisan fisik dan membelinya.

Benar, seharusnya resensi musik bisa menjadi sebuah panduan sebelum kita benar-benar membeli rilisan fisik suatu band atau musisi kecuali anda memang sangat mengagumi karya salah satu sosok di dunia musik tanpa mempedulikan penilaian atas karyanya tersebut. Nah, sayangnya penikmat musik saat ini lebih menyukai tren atau saran temannya, kurang tertarik dengan kisah, musik, atau tema apa yang diusung dan disampaikan oleh pembuatnya.

Masihkah kolom kecil ini dibiarkan terus hidup? © KapanLagi.comMasihkah kolom kecil ini dibiarkan terus hidup? © KapanLagi.com

Lalu, apakah resensi musik memang sudah tidak diperlukan lagi? Kalau memang masih penting, seharusnya toko-toko penjual rilisan fisik masih tetap ada sampai saat ini. Ya, tapi di sisi lain, ada penikmat musik yang masih memiliki hasrat untuk tetap memiliki CD, kaset tape, atau vinyl sebuah band. Tidak banyak, memang, tapi anda masih bisa menjumpai orang-orang yang memiliki hasrat tinggi untuk memiliki rilisan fisik di Record Store Day, Cassete Store Day, atau online shop yang semakin menjamur saat ini.

Ada yang mencarinya hanya karena mengagumi si pemilik karya, sekedar melengkapi koleksi, bahkan ada juga yang memang datang dengan rasa penasaran setelah membaca ulasan di kolom resensi musik sebuah media online maupun cetak. Lebih jauh, resensi musik juga tidak hanya sekedar mengulas sebuah karya saja.

Yap, lewat resensi musik juga kita bisa menilai seberapa jauh pemikiran sang kritikus dalam mengulas sebuah karya. Lebih jauh, tidak sedikit orang yang kemudian tertarik dengan cara pikir sang kritikus, entah dari segi musik, film, atau mungkin setiap partikel kecil kehidupan yang ada di keseharian kita.

Meski saat ini tak lagi banyak yang melihat kolom resensi musik pada sebuah majalah atau portal musik online, rasanya ulasan kecil atas suatu karya tetap penting, patut, dan layak untuk disimak, terlepas dari esensi musik yang seharusnya dinikmati secara audio, bukan visual. Jika kolom kecil yang mampu membuka pemikiran kita atas sebuah karya secara luas dan kritis ini hilang, cukup menyedihkan bukan?

Sudah Baca Yang Ini Belum?

Muncul - Tenggelam, Boyband Itu Fenomena Baru Atau Tren Dadakan?

Mengenal Prince, Sosok Besar Yang Menjadi Soundtrack Dunia

Penikmat Musik Metal Indonesia Rata-Rata Adalah Orang 'Berduit'?

Fakta Yang Luput Dari Setiap Lagu Terakhir di Album Taylor Swift

Benarkah Acara Musik Televisi Kita Sudah Mati?

(kpl/ntn)


Lihat Arsip Musik

- - -