Mengenal Prince, Sosok Besar Yang Menjadi Soundtrack Dunia

Natanael Sepaya  |  Jumat, 22 April 2016 13:22
Mengenal Prince, Sosok Besar Yang Menjadi Soundtrack Dunia
Prince © Istimewa
Kapanlagi.com - Prince Rogers Nelson, atau yang lebih dikenal dengan nama Prince adalah sosok besar bagi dunia musik dan film. Lahir di Minneapolis, Minnesota, pada 7 Juni 1958 silam, bisa jadi tidak banyak generasi 90an yang tumbuh besar bersama karya-karya sang pangeran. Penyanyi, musisi, produser musik, sampai director dan aktor film adalah sejumlah ranah seni yang dikuasainya.

Prince sendiri dikenal dengan kejeniusan dan kreatifitasnya yang tinggi dalam menciptakan musik. Karya-karyanya pun telah menciptakan ruang baru untuk menikmati musik dalam skala yang lebih luas. Ya, musiknya kemudian menjadi pionir yang memunculkan warna musik baru bernama Minneapolis Sound pada sekitar akhir era 70an.

Minneapolis Sound banyak memasukkan DNA musik seperti funk, pop, synth-pop, dan rock. Kemudian musik ini mulai mendapat perhatian besar sekitar pertengahan era 80an berkat sederet musisi Minnesota yang dipengaruhi oleh Prince seperti Los Angeles, Flint, atau California's Cherrelle. Minneapolis Sound lalu dikenal sebagai bentuk lain dari musik funk-rock.

Prince Rogers Nelson, pionir Minneapolis Sound sebelum terkenal di era 80an © instagram.com/princePrince Rogers Nelson, pionir Minneapolis Sound sebelum terkenal di era 80an © instagram.com/prince

Prince mempunyai lingkup gaya bermain musik yang cukup lebar seperti funk, rock, R&B, soul, hip hop, disco, psychedelia, blues, dan pop. Sangat menarik saat melihat permainan Prince dan 3RDEYEGIRL membawakan She's Always In My Hair atau ketika ia menyihir seluruh penonton Super Bowl XLI untuk mendekat ke panggungnya dan bernyanyi bersama di tahun 2007 silam.

Yap, suara dan pesonanya baik di atas maupun luar panggung bagaikan magnet kuat untuk setiap orang, sulit dibayangkan bagaimana sederet karyanya telah mempengaruhi banyak orang. Salah satunya adalah album PURPLE RAIN (1984) yang kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul yang senada. Film ini seolah mengingatkan kalau Prince memang terlahir sebagai salah satu seniman terbaik dunia untuk ranah musik maupun film.

Selesai memerankan The Kid dalam film yang di-direct oleh Albert Magnoli, Prince lalu melangkah ke film berikutnya, UNDER THE CHERRY MOON (1986), tapi bukan untuk menjadi seorang aktor. Ya, ini adalah film di mana Prince ada di posisi sebagai director. Setahun berselang, ia kemudian meretas album sekaligus film dengan judul yang sama, SIGN O'THE TIMES. Bisa dibilang ini adalah film murni milik Prince di mana ia menjadi director, script-writer, dan membuat musik untuk filmnya sendiri sebelum ia kembali berperan sebagai The Kid di film GRAFFITI BRIDGE, 3 tahun berikutnya.

Lewat sederet karyanya, Prince memberi ruang untuk orang-orang menikmati musik secara lebih luas © instagram.com/princeLewat sederet karyanya, Prince memberi ruang untuk orang-orang menikmati musik secara lebih luas © instagram.com/prince

Hanya saja semua kesuksesan itu cukup kontras dengan kehidupan personal sang pangeran. Selama bertahun-tahun, Prince banyak menjalin hubungan dengan sejumlah selebritis seperti Kim Basinger, Madonna, Vanity, Sheila E, Carmen Electra, Susanna Hoffs, Anna Fantastic, termasuk Susan Moonsie. Kisah cintanya pun bisa dibilang tidak selalu berakhir manis.

Di tahun 1985, Prince bertunangan dengan Susannah Melvoin dan berujung perpisahan. Saat ia berumur 37 tahun, Prince lalu menikahi perempuan yang menjadi backup singer sekaligus dancer-nya yang masih berusia 22 tahun, Mayte Gracia pada hari Valentine di tahun 1996. Sebenarnya ia sempat dikaruniai seorang putra yang bernama Boy Gregory. Sayang, penyakit yang diderita Gregory memanggilnya kembali ke tangan Tuhan, seminggu setelah ia lahir ke dunia. Pernikahan tersebut pun bertahan hanya dalam 3 tahun sebelum ia kembali menikah kembali 2 tahun berselang dan bercerai di tahun 2006.

Sepanjang sepak terjangnya di dunia musik, Prince berhasil memegang 7 piala Grammy Awards, 1 Golden Globe Award dan Academy Award. Pemilik gitar Yellow Cloud ini juga sukses menjual lebih dari 100 juta keping rekamannya ke seluruh dunia dan membuat namanya masuk dalam jajaran Rock and Roll Hall of Fame di tahun 2004. Pelantun lagu I Wanna Be Your Lovers itu juga menempati posisi 27 dalam jajaran 100 Greatest Artists of All Time milik Rolling Stone.

Sampai hari kepergiannya, Prince masih terus menjadi soundtrack orang-orang di seluruh dunia © instagram.com/princeSampai hari kepergiannya, Prince masih terus menjadi soundtrack orang-orang di seluruh dunia © instagram.com/prince

Walau tidak semua penikmat musik, terutama generasi muda, tahu sosok Prince dengan baik, tapi sederet karyanya yang legendaris dan pengaruhnya masih menjadi soundtrack bagi jutaan orang di seluruh dunia sampai hari ini. Walau berbagai buku, artikel, review, dan jutaan kata lainnya telah menulis sosok besar sang pangeran, rasanya akan tetap sulit bagi siapa pun untuk bisa menggambarkan kehebatan Prince.

(kpl/ntn)


Lihat Arsip Musik

- - -