Mayer Hawthorne: 'WHERE THIS DOOR GO', Bereksperimen Dengan Funk

Jumat, 02 Agustus 2013 17:00
Mayer Hawthorne: 'WHERE THIS DOOR GO', Bereksperimen Dengan Funk
Mayer Hawthorne - Where This Door Go?




KapanLagi.com - oleh: Rea A

Funky barangkali kata yang tepat menggambarkan album baru Mayer Hawthorne ini. Bila dia bertanya 'where this door go?', kamu tidak boleh hanya mengintipnya, namun harus mengikuti perjalanan musikal seorang Andrew Mayer Cohen yang dimulai dari MAYER HAWTHORNE & THE COUNTY DIRECT TO DISC dan HOW DO YOU DO (2011, Universal Music).

WHERE THIS DOOR GO dibuka dengan istimewa, sebuah preambule yang menunjukkan selera humor tinggi. Backseat Lover punya lirik menggemaskan, betotan bas super seksi, atmosfir vintage dan Mayer terdengar begitu menggoda di bagian "If you wanted more, ooh baby, I could show you the possibilities," sehingga rasanya ingin langsung menyeretnya ke kursi belakang mobil!


The Innocent masuk dengan begitu manisnya, disambung oleh tarian bas. Sampai di track ini, mulai timbul pertanyaan, ada siapa di balik album WHERE THIS DOOR GO? Jawabannya, ada Warren 'Oak' Felder yang telah bekerja bersama Toni Braxton, Chris Brown, Alicia Keys, Wiz Khalifa. Lalu ada Pharrell Williams yang memberi petunjuk jelas, sejelas-jelasnya, dari mana asal bebunyian synthesizer dengan tarikan suara tinggi seperti dalam Wine Glass Woman dan Reach Out Richard.

Sentuhan Pharrell Williams yang sangat khas mungkin mengingatkan sekilas pada Get Lucky-nya Daft Punk, apalagi Wine Glass Woman. Sayang, Kendrick Lamar di Crime berlalu begitu saja. Her Favorite Song adalah lagu rayuan di malam Sabtu, nakal menggoda tetapi masih tidak murahan.


Lantaran eksperimen soul sudah terdengar sejak di Backseat Lover, Where Does This Door Go mudah mencuri perhatian. Lambat, nyaris terasa aneh. Seperti sebuah awkward moment, seperti seseorang tiba-tiba mencurahkan kekecewaannya di tengah pesta.

Untungnya, diselamatkan oleh Robot Love yang funky. The Stars Are Ours hadir kemudian, memberi rasa modern di album bernafas retro ini. All Better menutup dengan bijak, mencengangkan. Mau tak mau, telinga dipaksa menyimak.

Mengingatkan pada The Beatles, Mayer berkata, "Love can make me all better, love can make me all right, love can pull me together, so just make me all better tonight." Indah, namun tidak se-epik I Wish It Would Rain (2009).

WHERE THIS DOOR GO adalah album yang penuh dengan godaan. Eksperimen funky tanpa meninggalkan gaya retro-soul yang menyenangkan, demikian pula suara falsetto Mayer. Musikalitas Mayer jelas berkembang dari album pertama, dengan tetap mempertahankan root soul dan hip hop-nya. Sayangnya yang satu ini kurang maksimal.

 

(kpl/rea)



Lihat Arsip Musik

- - -