Kurt Cobain: Kejeniusan di Balik Raungan Distorsi

Rabu, 18 April 2012 11:17 | 

Kurt Cobain

Kurt Cobain: Kejeniusan di Balik Raungan Distorsi
Kurt Cobain




KapanLagi.com - Oleh: Fajar Adhityo

Mungkin sejarah karirnya terlalu singkat, namun dia tetap menjadi legenda dalam dunia musik khususnya grunge. 8 April kemarin menjadi hari yang tak akan dilupakan oleh para grunge people seluruh dunia, untuk mengenang kematian Kurt Donald Cobainyang tragis.

Namun kali ini kita tidak akan memflash back kehidupanáKurt bersama Nirvanaserta bagaimana dia meninggal yang menimbulkan kontraversi apakah dia bunuh diri atau dibunuh, namun kita akan mereview sebuah karya fenomenal di balik distorsi kotor tersebut yang ia mainkan.

Meski Nirvana telah bubar 18 tahun silam, hingga kini lagu-lagu Kurtmasih diputar oleh banyak orang. Bahkan tak sedikit orang yang terinfluens untuk bermain musik setelah mendengarkan karyanya.

Kord yang simple dan banyak pengulangan di beberapa part memang tampak mudah. Namun di balik semua itu tersimpan sebuah muatan lirik dan kemarahan, frustasi serta jeritan seorang monster yang siap memangsa.

Kebosanan rutinitas Aberdeen sebuah kota kecil di Seattle membuat pemuda bertubuh kecil ini merasa muak. Musik menjadi pelarian Kurt yang tak ingin kehidupannya menjadi seorang penebang kayu. Pertemuan dengan Krist Novoselic menjadi momentum lahirnya Nirvana hingga mengeluarkan satu single yang merusak lagu milik Shocking Blues, Love Buzzmembuat band iniá mendapat sambutan yang meriah dari kalangan collego radio rock.

Sub Pop label indie yang menaungi Nirvana segera menyusun band tersebut untuk membuat EP guna menindak lanjuti sambutan yang sangat antusias. Nirvana yang seblumnya telah memiliki stok lagu segera memoles ulang karyanya. Namun proses rekama ini sendiri tak berjalan mudah, banyak tekanan yang harus dihadapi oleh Kurtdan kawan-kawan, pasalnya Bruce Pavitt pemilik Sub Pop menginginkan band ini memiliki karakter sound yang sama dengan band gunge lainnya.

Album BLEACH adalah kemuakan dan kemarahan yang ditangkup menjadi satu. Teriakan Kurt akan banyaknya campur tangan dalam musiknya, kemarahan pada kehidupan sosialnya dituangkan dengan cerdas di setiap lagu. Pun begitu hal ini menjadi jiwa dalam lagu ini dan berhasil ditangkap dengan baik oleh Jack Endino yang bertindak sebagai produser. Tanpa disadari, album ini menarik perhatian para penikmat musik kala itu sehingga membuat popularitas Nirvanapun menanjak.

NEVERMIND menjadi album kedua yang melambungkan popularitas Nirvana di seluruh dunia. Namun banyak kalangan pengamat musik yang mengritik album ini karena dianggap manis dan berbeda dengan album BLEAChyang masih digarap secara independen.

Kejeniusan Kurt dalam mengulik lirik terlihat sangat matang. Dia memetaforakan sebuah kejadian tragis menjadi lagu yang manis. Polly adalah sebuah lagu yang didedikasikan untuk para perempuan yang menjadi korban pemerkosaan. Jika band lain memaparkan secara lugas dan frontal, namun Nirvana memilih bahasa yang rumit dalam menyampaikan protesnya. Untuk musik bahkan jauh dari distrosi yang memekakkan telinga, Nirvanamemainkan dalam tempo sedang dan sangat teramat manis. Begitu kontras dengan kisah ironis di liriknya.

Popularitas dan pemujaan ternyata membuat Kurt menjadi benci. Meski kala itu dia telah dalam posisi mapan dan banyak penggemar di seluruh dunia tak membuat Kurt merasa nyaman. Dia mengkritisi hal ini dalam In Bloom, sebuah lagu yang sangat depresif yang ditujukan betapa apapun bisa dijadikan uang dan menjadi bagian dari konsumtif.

Kurtmengibaratkan bahwa dirinya saat ini menjadi konsumsi bagi mereka yang haus dengan sebuah trend. Yup tahun ini menjadikan trend di kalangan anak muda dengan dandanan ala grunge yang tidak tahu apa-apa selain untuk mengkonsumsi.

Tuntutan dari para pelaku industri musik membuat kemuakan Kurt semakin menjadi-jadi. Dia merasa diperas dan dituntut untuk menjadi hitmaker. IN UTERO menjadi kritik sinisme Nirvanaantara idealisme para kapitalis yang mengatur band ini dengan serangkaian poin-poin kontrak yang mengikat.

Kontorversi pun terjadi seiring penggarapan album ini. Nirvana kembali tampil garang dengan sound kasar dan mentah seperti di awal debut mereka dan melupakan sisi manis di album NEVERMIND. Sayangnya pihak Geffen Recpords menolak album ini karena dianggap terlalu kasar dan mentah dan dinilai kurang menjual. Geffen pun meminta Nirvanamerekam ulang yang akhirnya ditolak secara mentah-mentah dengan mengancam akan cabut dari label.

Perasaan diperas dan dituntut untuk menciptakan lagu yang bisa dijual berjuta-juta copy dituangkan oleh Kurt ke dalam Rape Me. Kurt merasa dirinya beserta karyanya diperkosa untuk kepentingan konsumtif agar label mendapatkan untung. Lagu ini menjadi puncak kebosanan Nirvanayang merasa dibatasi dalam mengkesplorasi karyanya.

Banyak yang salah mengartikan lagu ini. Judulnya yang vulgar membuat para petinggi Geffen merasa khawatir dengan dampak yang akan ditimbulkan. Mereka beranggapan bahwa Rape Me adalah lagu tentang seksualitas. Bahkan saat tampil dalam MTV VMA 1992 Nirvana sengaja membuat panik para petinggi MTV yang sebelumnya melarang lagu ini dimainkan. Yah sekali lagi Kurtberhasil mengemasnya dengan jenius.

IN UTERO seakan menjadi perang antara Nirvana dengan industri. Simak Penny Royal Tea sebuah lagu yang memiliki makna ambigu. Kegamangan akan kehidupan sosial dan popularitas yang menanjak membuat Kurtbereaksi keras. Dia merasa bahwa hidupnya beserta bandnya hanya dijadikan pengeruk uang bagi para label.

Penny Royal Tea sendiri memiliki makna yang sangat dalam, Royal Tea adalah permainan kata dari Kurt untuk mempelesetkan kata Royalti, sedangkan kata Penny di Amerika berarti recehan. Disimpulkan bahwa Kurt ingin menyampaikan bahwa Nirvana adalah mesin untuk menghasilkan uang bagi label di tengah demam grunge. Uniknya Kurtmendendangkan lagu ini dengan manis tanpa ada teriakan yang menyiratkan bahwa ini adalah lagu protes.

INCESTISIDE mungkin tak sengepop album NEVERMIND ataupun segarang BLEACH dan IN UTERO, akan tetapi album ini memiliki sensibilitas tersendiri. Ini merupakan karya melodik punk ala Nirvana yang mereka racik sendiri. Pun begitu dalam penggarapannya, Nirvana tetap menerima gesekan dari label yang mencoba mengatur musikalitasnya. Nirvanatetap bersikukuh dengan mengontrol penuh pada karyanya.

Meski album ini tidak terlalu laris di pasaran, namun tidak bisa dikatakan sebagai album biasa-biasa saja. Lagu-lagu di album ini memiliki hook yang sangat catchy dengan permainan musik yang sangat dinamis. Album ini menjadi perjalanan terakhir dari Nirvana hingga kematian tragis Kurtpada tahun 1994.

jika kita telaah lebih dalam Nirvana tak hanya grup yang memainkan musik rock yang mentah dan kasar. Lirik-lirik yang cerdas dan bisa dibilang jenius dipaparkan oleh mereka. Sebagai seorang frontman, Kurt mengemasnya secara berbeda dan baik. Dia berhasil mematahkan penilaian para pengamat musik bahwa Nirvanaadalah grup yang tidak bisa memainkan musiknya dengan benar.

Bagi mereka yang menyelami grunge, Kurt adalah seorang maestro di balik distorsi serta kebisingan yang ia ciptakan. Sepertinya karyanya akan tetap abadi terus diputar dan diperdengarkan untuk selama-lamanya.

(kpl/faj)



Lihat Arsip Musik

- - -