Fenomena Haters di Belantika Musik Indonesia

Jumat, 14 Maret 2014 14:35 | 

Agnes Monica

Fenomena Haters di Belantika Musik Indonesia
Ilustrasi: @rebeccaniziol.com




KapanLagi.com - Oleh: Rizal B. Ramadhan

Sebagai penikmat musik, saya merasa beruntung dapat mengenyam masa-masa di mana industri musik Indonesia masih 'baik-baik saja', di mana keberagaman berkarya menjadi semangat para pelakunya. Era 90-an banyak di cap sebagai masa puncak kejayaan musik tanah air. Saya pribadi setuju.

Jika ditelaah lagi, di masa tersebut masyarakat dengan legowonya selalu rajin mencermati lantas menikmati musik-musik yang mereka dengarkan. Maklum saja, di masa itu jarang terdengar celetukan, 'Ah, nanti download aja di Internet,' seperti sekarang.

Artinya para fans rela merogoh kocek untuk membeli CD atau kaset demi mendengarkan karya musisi-musisi idolanya. Para musisi pun akan sangat dengan cermat melakukan quality control terhadap karya-karya mereka karena khawatir akan mengecewakan para fans. Peran label saat itu juga tak selancang sekarang, karena mereka hanya tinggal duduk manis dan mengorbitkan karya tanpa harus ikut campur soal chord, lirik lagu, serta penampilan para roster-nya.

Ya, zaman pra-internet ini berhasil mendisiplinkan para pelaku sekaligus penikmat musik di tanah air, menikmati musik dengan tetap memasang batas nalar. Karena nyatanya, di masa tersebut istilah haters sama sekali belum terdengar, atau setidaknya masih sayup-sayup dan tak separah sekarang.

Haters di dunia musik, menurut definisi saya sendiri, adalah mereka yang senantiasa punya waktu untuk sekedar melampiaskan rasa tak sukanya kepada sosok tertentu, dalam hal ini musisi. Mereka rela mengorek dan mencari lebih dalam demi menemukan kejelekan-kejelekan musisi tersebut dan membaginya dengan orang lain.

Apalagi hari ini teknologi internet telah sedemikian maju. Situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter jadi makanan utama masyarakat kekinian. Seseorang dengan mudah mengumpulkan orang- orang di sekitarnya yang ternyata punya interest yang sama. Hal ini tentu makin memanjakan para haters melakukan aksi-aksinya.

Setelah saya amati, keberadaan haters tertentu rupanya disokong oleh beberapa faktor. Kita ambil contoh saja, haters Agnes Monica. Mereka tak menyukai Agnes Monica bukan tanpa alasan. Ada yang tak suka gara-gara musiknya, gaya dan aksi panggungnya, kesuksesannya, dan bahkan fans fanatiknya.

Ya, tingkah laku fans fanatik Agnes Monica yang dianggap 'nggak banget' jadi salah satu alasan mengapa haters-nya eksis. Lebih lanjut, kerap kali para haters dan fans fanatik ini bersinggungan langsung meskipun hanya sekedar lewat situs jejaring sosial.

Saya ingat di pertengahan tahun 2008 silam, Pee Wee Gaskins menjadi salah satu band indie yang paling dielu-elukan namanya waktu itu. Dochi dkk sukses meramu musik pop punk dengan ornamen synthesizer yang unik. Selain itu gaya berpakaian mereka yang dianggap 'funky', jadi daya tarik tersendiri.

Lambat laun seiring makin melejitnya nama mereka, Pee Wee Gaskins mempunyai fan base bernama Dorks. Yang namanya fans, tentu manusiawi sekali jika mereka kemudian meniru gaya berpakaian idola mereka.

Pee Wee Gaskins pun makin nge-hype, lagu-lagu mereka seperti Welcoming The Sophomore atau Di Balik Hari Esok, hampir tak pernah terlewatkan di playlist para remaja modern saat itu. Fan base Dorks pun makin besar.

Hal ini rupanya membuat segelintir orang kemudian merasa muak. Entah siapa yang memulai, namun banyak kemudian muncul grup-grup di Facebook yang menamakan diri mereka Anti Dorks, Anti Pee Wee Gaskins, dan lain-lain. Mereka adalah kelompok-kelompok haters yang tak senang dengan apapun mengenai Pee Wee Gaskins beserta fan base-nya.

Bagi saya pribadi, rasa suka atau tidak suka seseorang kepada penyanyi/band tertentu adalah wajar, karena pilihan akan selalu ada dan luas. Namun apapun alasan di balik keberadaan para haters, rasanya susah bagi saya untuk mencerna.

Musik dengan sifatnya yang super duper universal, sekaligus salah satu bentuk berkesenian yang positif, seharusnya menjadi salah satu medium pemersatu banyak orang, bukan malah memecah belah. Namun jika melihat keadaan industri musik Indonesia yang saat ini sedang layu akan kualitas, rasanya susah juga untuk memerangi fenomena haters ini, karena mereka akan selalu punya alasan untuk membenci.

Akhirnya ungkapan Taufiq Rahman, jurnalis musik sekaligus co-founder situs Jakartabeat.net di salah satu interview-nya ini muncul dan diharapkan jadi punchline penutup yang epic.

"Come on man, it’s only rock and roll, tidak ada yang suci. Tidak usah menjadi berhala baru. It’s only music, for god sake,"

 

 

(kpl/zal)



Lihat Arsip Musik

- - -