Musik Komedi: Telinga Masih Butuh Hiburan Ringan

Natanael Sepaya  |  Jumat, 21 Oktober 2016 08:22
Musik Komedi: Telinga Masih Butuh Hiburan Ringan
Orkes Moral PMR © KapanLagi.com/Agus Apriyanto

Kapanlagi.com - Entah kenapa, saya selalu suka mendengarkan musik komedi ketika telinga mulai jenuh mendengar hal-hal yang terlalu serius atau terlalu dalam. Malah, sepertinya bukan cuma saya saja yang merasa seperti itu.

Selain ide yang sederhana, kebanyakan liriknya tidak dikemas dalam gaya bahasa yang terlalu ribet, begitu juga dengan musiknya. Tapi sayangnya unsur komedi pun memiliki nasib yang nyaris sama seperti lagu-lagu anak sekarang ini.

Tidak terlalu banyak pilihan baru yang bisa didengarkan, akhirnya kembali ke era di mana masih banyak sejumlah sosok yang menjadikan unsur komedi ini sebagai komoditi utama karyanya. Sebut saja P Project yang selalu menggelitik para pendengarnya lewat sejumlah hal kecil yang ada di kehidupan kita dengan kemasan komedi, baik secara audio maupun visual.

Orkes Moral PMR, selalu berhasil menyajikan sebuah lagu komedi dengan musik lokal tanpa terkesan norak sama sekali © KapanLagi.com/Agus Apriyanto Orkes Moral PMR, selalu berhasil menyajikan sebuah lagu komedi dengan musik lokal tanpa terkesan norak sama sekali © KapanLagi.com/Agus Apriyanto

Tak perlu terikat dengan batasan ataupun aturan, sederet lagu Project Pop pun tetap menyenangkan untuk didengar sampai hari ini. Mulai dari Metal VS Dugem, Bukan Superstar, sampai Goyang Duyu. Atau, siapa yang bisa menolak Pengantar Minum Racun dengan lagu Judul-Judulan miliknya? Tak perlu menyukai unit orkes Ibukota ini, saya cukup yakin kalau siapapun yang mendengarnya pasti ikut tertawa, atau minimal tersenyum lah.

Tapi kembali lagi, sekarang ini tidak banyak sosok yang membawa unsur komedi ini sebaik para musisi sejawat yang saya sebutkan sebelumnya. Bukan berarti musisi sekarang tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk membawakan sebuah unsur komedi ke dalam karyanya, tapi bisa jadi karena segmentasi hiburan atau tren lah yang membuat sedikitnya pilihan sebuah musik berunsur komedi.

Padahal, unsur komedi pun cukup menarik dan bisa menjual dalam sebuah karya. Lagu Nasib Anak Kost misalnya, secara pribadi P Project sukses merangkum semua keluhan anak rantau pada era yang masih serba jauh dari kemudahan yang ditambahkan unsur komedi di dalamnya. Alhasil, setiap orang pun bisa membayangkan dan seolah terhubung dengan kehidupan sebagai anak kost sekaligus sindiran kecil terhadap sebagian orang.

Project Pop, tak pernah lepas dari unsur jenaka © KapanLagiProject Pop, tak pernah lepas dari unsur jenaka © KapanLagi

Hanya saja tidak mungkin rasanya meminta mereka atau minimal, Harapan Jaya untuk kembali tampil dan menghibur telinga kita dengan lirik-lirik yang ringan dan jenaka. Juga, kita pun sebagai penikmat tidak berhak untuk kecewa atau malah menghakimi lalu menyalahkan tren musik modern, apalagi saya.

Terkesan konservatif? Tentu saja, tapi sangat disayangkan jika musik pun mulai kehilangan unsur komedi yang menggelitik namun smart, seperti sejumlah tayangan sekarang. Karena bagaimanapun, telinga kita tetap butuh mengkonsumsi hiburan yang ringan, tidak terpaku pada tema yang itu-itu saja.

Sudah Tahu Yang Ini?

Film Kartun Hingga Dada Robot Disensor, Seporno Itukah Kita?

Boyband: Hilangnya Pendobrak Kejenuhan Industri Musik Mainstream

Rich Chigga, 'Kunci' Indonesia Tembus Industri Hip Hop Dunia?

Kegelisahan Pada Tema Kesedihan Dalam Musik Pop

Mudahnya Bagi Seseorang Untuk Mendapat Label Bernama 'Haters'