Tika And The Dissidents, Alunan Dongeng Para Pembangkang

Minggu, 28 Maret 2010 18:06





  • Tika And The Dissidents, Alunan Dongeng Para Pembangkang
    Tika and The Dissidents - THe Headless Songstress

KapanLagi.com - Di saat topik cinta, patah hati serta perselingkuhan menjadi suguhan utama kebanyakan penyanyi solo, duo, trio maupun band di tanah air, Tika and The Dissident hadir menawarkan cita rasa yang berbeda. Tema cinta memang masih menjadi komoditas panas para musisi Indonesia. Karena tema ini sangat universal dan bisa dinikmati hampir oleh semua kalangan penikmat musik tanah air.

Namun, Album THE HEADLESS SONGSTRESS (2009) ini menyuguhkan sebuah pilihan tema yang unik, mulai dari buruh, kritik pemerintahan, bahkan sampai tema yang menyentil pun, homoseksualitas, tersaji dalam album ini. Tidak berarti tema cinta itu usang, namun hadirnya Tika and The Dissident yang dimotori oleh Kartika Jahja (vokal), Susan Agiwitanto [bass], Lucky Annash [piano] dan Okky Rahman Oktavian [drums] ini membawa perspektif baru dalam memandang kehidupan.

Kartika Jahja, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Tika ini sebelumnya pernah mengeluarkan album FROZEN LOVE SONG (2005) dan DEFROSTED LOVE SONGS (2006). Kedua album tersebut sama-sama mengusung genre musik jazz, swing, dan bossanova. Walau tersemat kata love songs pada judul albumnya, jangan harap mendengar lagu tentang cinta yang penuh kehangatan. Tika menyajikan sepotong kisah cinta dengan dingin dan kelam. Namun, di album yang kedua ini, Tika bergabung bersama para pembangkang (The Dissidents) menyebarkan aroma pemberontakanya melalui album yang bertajuk THE HEADLESS SONGSTRESS ini.

Selain sajian tema yang unik, album yang berisi 12 track ini menawarkan beragam genre, atau lebih tepatnya tidak bisa dimasukkan dalam genre tertentu. Mulai jazz, rock, blues, country, tango dan waltz tumpah ruah di album ini. Bahkan ada juga song track yang direkam dalam format accapella.

Layak jika album ini mendapat review positif dari Time dan bahkan didapuk jadi Artist of The Year 2009 versi majalah Tempo. Menilik daftar edarnya yang sudah berlalu (tahun 2009-red), atau bahkan bisa dibilang so yesterday, tidak berarti album yang satu ini harus diacuhkan. Tanpa tendensi apapun, album ini siap memanjakan dahaga para penikmat musik tanah air dengan sajian yang menyegarkan.

Mengutip peribahasa populer, dari mata turun ke hati, album THE HEADLESS SONGSTRESS ini sudah membuat pembeli jatuh cinta bahkan sebelum mereka mendengarkan musiknya. Tidak seperti kebanyakan CD album yang dikemas dalam wadah persegi berbahan mika, album yang satu ini dikemas dalam diary persegi dengan kolase gambar retro dan vintage serta dibungkus dalam dompet kain bermotif floral dan kotak, yang berbeda-beda di tiap CDnya.

Salut bagi Head Records dan Demajors yang menjualnya dengan harga hanya Rp. 38.000, berbahagialah orang yang menghargai CD asli dan membeli album dengan cover bergambar malaikat tanpa kepala dan memegang megafon ini.

Pemilihan lagu Tantang Tirani sebagai menu pembuka pada album ini adalah sebuah pilihan yang cerdas. Tantang Tirani adalah sebuah lullaby yang mengalun lembut, membuai para pendengarnya untuk masuk kedalam dongeng versi TIKA and THE DISSIDENT dalam lagu-lagu berikutnya. Tanpa iringan alat musik pun lagu acapella yang satu ini berhasil membuat penikmat musik terhanyut dalam irama nina bobo yang dialunkan Tika. Tengok sepenggal baris pada lagu ini, "Jadilah kau lelaki nan lantang. Jangan takut tantang tirani." Sungguh lirik yang menggelitik untuk sebuah lullaby, yang biasa dinyanyikan seorang ibu untuk menidurkan anaknya.

Nikmati irama broadway swing yang terdapat dalam Red Red Cabaret. Suara bass yang begitu dinamis, irama snare drum yang begitu ritmis, serta permainan piano mengiringi Tika bercerita. Tersaji dalam bahasa Inggris, Red Red Cabaret bercerita tentang drama kehidupan selebriti.

Setelah cerita tentang kabaret selebriti ia rangkum dalam Red Red Cabaret, di Tentang Petang, akan menghadirkan sisi kelam dari kehidupan. Secara garis besar lagu ini bercerita tentang doa seorang wanita pada pasangannya agar tidak pulang saat malam tiba, sederhana namun menarik. Keraguan dan ketidaknyamanan akan kondisi sebuah negara boleh jadi merupakan inspirasi bagi Tika and The Dissident untuk membuat lagu ini. Rasa mencekam dan ketakutan sepertinya jadi jualan Tika disini. Dengan memainkan organ dan piano sebagai instrumen utama suasana mencekam yang ingin dibangun pastilah terangkai sempurna. Terlebih suara male choir yang menjadi latar semakin membuat bulu kuduk berdiri.

Coba dengarkan mars enerjik dengan paduan hentakan drum, bass eletrik, raungan gitar, sampling elekronik, serta suara seruan "Oi oi oi" yang bisa membangkitkan semangat dalam Mayday. Lagu ini bercerita tentang buruh dan kesamaan hak. Irama yang dibangun sesuai dengan tema yang di angkat, semangat perjuangan sangat terasa di lagu ini. Apalagi suara vokal Tika yang terdengar seperti berteriak, layaknya orator yang sedang membakar semangat para demonstran. Karena tema yang diangkat, kabarnya lagu ini menjadi mars buruh di salah satu negara bagian di Amerika.

"Marry loves Betty they are both so happy. But daddy wants Marry to marry Eddy. But Eddy loves Larry, people think its crazy. But Larry knows Marry and they are okey dokey with it."

Siapa yang tidak tergelitik nurani saat mendengar penggalan lirik Clausmophobia di atas? dari penggalan itu saja sudah ketahuan bakal bercerita seperti apa nantinya. Homoseksualitas memang jadi tema di lagu pamungkas album ini. Dengan iringan gitar country. Lagu ini lebih seperti balada yang dinyanyikan Tika untuk menyentil orang-orang yang memang jarang membahas tentang isu sensitif yang satu ini. Coba dengarkan lagu ini secara utuh maka akan ketahuan mengapa Tika memilih judul Clausmophobia yang mungkin diambil dari gabungan kata claustro-homo-phobia. Jempol untuk Tika and The Dissident yang berhasil menyulap isu sensitif ini menjadi sebuah lagu easy-listening yang catchy.

Overall, mendengarkan album ini secara keseluruhan seperti membaca buku harian seorang gadis yang bertutur tentang keresahannya pada dunia, lingkungan, dan kesehariannya. Ada perasaan sedih, marah, senang, takut, riang yang tersampaikan dalam kedua belas lagu di album ini. Album ini memberikan sebuah sisi lain musik Indonesia yang digarap secara apik secara seimbang lirik dan musiknya.

Track List:

1. Tantang Tirani

2. Polpot

3. Venus Envy

4. 20 Hours

5. Uh Ah Lelah

6. Red Red Cabaret

7. Ol Dirty Bastard (featuring Anda)

8. Infidel Castratie

9. Waltz Muram

10. Tentang Petang

11. Mayday

12. Clausmophobia (kpl/dka)


Nama
Email
Komentar
Komentar yang tidak sopan akan dihapus.

Komentar Pembaca (0)

Lihat Arsip Musik

- - -