Hammersonic 2013, Perayaan Wisata Metalhead Indonesia [Part II]

Rabu, 01 Mei 2013 17:00 | 

Cradle of Filth

Hammersonic 2013, Perayaan Wisata Metalhead Indonesia [Part II]
Cradle of Filth @KapanLagi.com®/Bambang E Ros




KapanLagi.com - oleh: Rea

Kelelahan akibat terlalu seru berpesta di hari pertama dan kegembiraan berlebihan bisa bertemu teman-teman lama yang datang demi Hammersonic Festival membuat tubuh membutuhkan istirahat panjang. Itu sebabnya saya baru menyeberang jalan raya menjelang sore, Minggu (28/4).

Nyaris mencapai gerbang utama Hammersonic di Ecopark, Ancol, terdengar Suckerhead sedang jadi penguasa panggung. Hari ini adalah hari kedua perhelatan festival yang digadang terbesar se-Asia Tenggara, dengan puluhan band dari dalam dan luar negeri, yang bangga memainkan metal.

The Amenta, Seringai, Gorod, As I Lay Dying, Destruction, Cannibal Corpse dan Cradle of Filth memenuhi jadwal hari kedua. Sebelum istirahat saat Magrib, ada Putrid Pile di panggung Hammer. Aksi tunggal Shaun LaCanne yang otak di balik tujuh album Putrid Pile jelas mengesankan banyak orang. Dia memang mengerjakan proyek ini sendirian, untuk vokal, gitar, bas, dan programming.

The Amenta menarik perhatian dengan dandanan dan aksesoris lensa kontak mereka. Sang basisst, Dan Quilan, yang plontos memilih tampil dengan sejenis cat hitam yang seolah diguyurkan dari atas kepala, sementara vokalisnya, Cain Cressall, mencoreng-moreng wajah dan seputar mata dengan cat warna sama. Band death metal dari Australia ini ngebut dengan kecepatan penuh, seolah memberi peringatan, jangan harap bisa mengendurkan syaraf di hari terakhir.

Salah satu band Indonesia dengan konsep terbaik, Seringai dari panggung Hammer memastikan masih menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Para Serigala Militia dengan dandanan khas memenuhi area panggung, melompat dan bernyanyi, sementara screen menampilkan visual keren, ditambah tata lampu panggung yang dimainkan oleh tim mereka. Band yang layak didengar dan dihargai.

Seringai ©Rendha Rais/@facebook/seringai.comSeringai ©Rendha Rais/@facebook/seringai.com


Dari Prancis, Gorod terlihat sangat bersemangat tampil di Jakarta. Mereka terus-menerus memperbaharui status di jejaring Facebook dan memuji metalhead Indonesia. Terpaksa tidak menyaksikan dengan mata kepala karena perut lapar memaksa kaki bergerak ke kawasan foodcourt, pendengaran masih menangkap kegembiraan Gorod, yang disampaikan dalam bahasa Inggris dengan aksen aneh. Namanya pesta, apapun yang dikatakan Julien Dyeres (vokal) selalu disambut riuh.

@KapanLagi.com®/Bambang E Ros@KapanLagi.com®/Bambang E Ros


Empat aksi yang tersisa tidak boleh dilewatkan, apalagi perut sudah terisi penuh. As I Lay Dying meramaikan pesta dengan aksi singkat mereka. Atau setidaknya, terasa singkat. Di lagu-lagu lama, penonton pun tak ragu angkat suara. Saya meninggalkan panggung Hammer lebih awal karena di panggung Sonic akan hadir band legendaris dari Jerman, Destruction.

                                            @fahmi aditya

Sesuai harapan, Destruction menampilkan musik yang padat menggigit. Menunjukkan kualitas, mereka memamerkan mengapa layak masuk dalam Tiga Besar Teutonic Thrash Metal Jerman bersama Kreator dan Sodom. Mengingat mereka ini legenda, nyaris terharu rasanya bisa ikut merasakan thrash metal khas Jerman. Sebelumnya, oleh penyelenggara, nama Destruction disembunyikan sebagai special guest star. Bayangkan, mereka sudah ngebut sejak 1982 dan tak sedikitpun mengurangi kecepatan di 2013.

                                           @suicidal604

Ketika band New York, Cannibal Corpse kembali memuntahkan raungan demi raungan dari atas panggung, saya memilih mundur. CC baru saja tampil di Jakarta jelang akhir tahun 2012, jadi saya tidak mengharapkan ada hal baru dari mereka. Namun toh penampilan ketiga mereka di Indonesia ini (Rock in Solo 2012 jangan lupa dihitung juga) tidak berkurang juga penggemarnya. Saya tersenyum melihat kepala-kepala yang berputar, ber-headbanging. Semua orang punya cara masing-masing menikmati pesta, bukan?

Para metalhead yang terduduk kelelahan di atas rumput seketika bangkit setelah CC selesai meneror Hammersonic. Tak sedikit yang membangunkan teman mereka yang tertidur. Lantas semua menuju ke satu titik, panggung Sonic. Untuk pertama kalinya, Cradle of Filth asal Inggris akan show di Indonesia.

Banyak yang bisa dinanti jelang show COF ini. Pertama, mereka selalu tampil mengenakan kostum. Lelucon yang beredar di antara para metalhead mengatakan personel COF bakal tampil dengan kostum ala kuntilanak dan pocong. Kedua, apakah Nymphetamine bakal dibawakan juga?

Nymphetamine dinyanyikan Dani Filth, beserta penonton Hammersonic. Keenam personel COF tampil lengkap dengan kostum warna gelap, tetapi tidak ada yang mengenakan seprai warna putih. Sayangnya, band yang kerap memasukkan puisi dan literatur dalam musik mereka ini tidak tampil maksimal.

                                       @ivan victor lucas

Menurut informasi, COF datang baru pada Minggu sore, tertunda akibat delay penerbangan dan mungkin, macet khas ibukota. Sangat disayangkan memang, namun toh mereka tetap menyajikan encore demi memenuhi tuntutan penonton. Setelah keenam personel COF masuk ke balik panggung, pesta rakyat metal ini pun resmi selesai.

Penonton membubarkan diri, saling bergumam dengan kawannya. Sebagian terpuaskan, yang lain masih merasa antiklimaks, dan sisanya sudah menyiapkan daftar artis yang ingin ditonton di Hammersonic 2014.

Ya, kenapa tidak? Berharap boleh saja, toh daftar artis internasional yang datang ke Indonesia semakin panjang. Sebagian artis manca di Hammersonic 2013 terlihat sangat senang dengan metalhead Indonesia. Bukan tidak mungkin mereka membawa kabar gembira kembali ke negara masing-masing.

Sebenarnya, cara seperti itu sudah lama digunakan oleh kawan-kawan yang memainkan musik underground. Berkabar lewat surat elektronik atau jejaring sosial, serta memperluas konektivitas dengan cara mereka sendiri. Tidak sedikit di antara band-band lokal tersebut yang sudah terbang ke luar negeri tanpa memerlukan publikasi berlebihan di televisi.

Semua orang punya cara sendiri, termasuk memilih dan menikmati musik. Tidak ada yang salah dengan musik metal, sebuah bahasa universal yang bisa dipahami tanpa perlu dibicarakan. Lihat saja, para penonton Hammersonic melakukan headbanging, stage dive, dan membentuk circle pit sesering yang mereka bisa. Tak jarang hal itu membuat dua tubuh bertubrukan, atau terkena tajamnya sikut, namun tetap tertawa, dengan mata berbinar-binar. Tak ada yang bisa menyangkal kesenangan yang dibawa musik metal.

 

 

 

 

(kpl/rea)



Lihat Arsip Musik

- - -