Jazz, Dimainkan dan Didengar Dengan Cinta

Jumat, 04 Mei 2012 18:41 | 

Bubi Chen

Jazz, Dimainkan dan Didengar Dengan Cinta
Foto: @istimewa




KapanLagi.com - oleh: Renata Angelica

Mungkin terlewat oleh banyak orang, sejak jazz bukan genre yang sangat populer seperti halnya pop atau rock. Selama ini, genre jazz lebih banyak tersegmentasi pada kalangan tertentu saja. Sampai-sampai, ada anggapan jazz adalah milik kaum the have.

Jazz sendiri merupakan genre yang berkembang di Amerika Serikat pada awal abad 20. Dulu, jazz hanya dimainkan oleh orang-orang kulit hitam. Ia merupakan perpaduan dari musik tradisi Afrika dan Eropa. Seiring berjalannya waktu, lambat-laun jazz berkembang dan dimainkan pula oleh kaum kulit putih. Kini jazz menjadi salah satu genre dengan sub terbanyak, meluas ke berbagai negara di setiap benua.

Di Indonesia sendiri, jazz diceritakan masuk tahun 1930-an. Yang membawanya adalah musisi-musisi Filipina yang mencari pekerjaan melalui bermain musik. Jazz yang dimainkan kebanyakan berirama Latin. Sekitar tahun 1948, kurang lebih 60 musisi Belanda datang ke Indonesia untuk membentuk orkestra simfoni yang berisi musisi lokal. Dari sana, terbit nama-nama lokal seperti Bill Saragih, Jack Lesmana, Bubi Chen dan sederet pahlawan jazz lainnya.

Hari ini, musik jazz telah diterima bahkan di kalangan anak muda. Ia tak lagi tercitra eksklusif. Yang berjasa membawa jazz ke lingkaran umum antara lain Maliq & D'Essentials, Andien dan RAN. Sebuah acara tahunan bertitel Java Jazz juga membuat genre seksi ini berhasil disimak lebih banyak orang.

30 April adalah Hari Jazz Internasional. Karena masih bulan April, kami mencatatkan 5 nama wanita Indonesia yang memilih jazz sebagai genre mereka. Mungkin nama-nama berikut ini belum pernah Anda dengar, tetapi percayalah, mereka punya kelas dan kualitas.

- Dira Sugandi

Mojang Bandung ini kelahiran tahun 1979, memulai karirnya dalam lingkaran lokal dari kafe ke kafe. Titik baliknya terjadi saat ia menonton konser Incognito di Jakarta. Ketika Incognito mengajak seorang penonton bernyanyi bersama di atas panggung, Dewi Fortuna menaungi Dira. Incognito begitu terkesan atas vokal gadis ini sehingga mengundangnya ke belakang panggung untuk mengobrol. Dari obrolan tersebut, Dira melahirkan sebuah album internasional pertamanya, SOMETHING ABOUT THE GIRL.

Harap digarisbawahi, album internasional. Ini berarti kiprahnya justru dimulai dari luar Indonesia. Sebanyak 11 lagu termuat dalam SOMETHING ABOUT THE GIRL yang dirilis di Inggris tahun 2010, di bawah Expansion Records. Jika Anda mendengar lagu-lagunya tanpa mengetahui siapa si penyanyi, niscaya Anda akan berpikir ia berasal dari luar negeri. Bukan hanya musiknya saja, namun juga vokal dan caranya mengucapkan lirik bahasa Inggris dengan sangat baik.

Dira SugandiDira Sugandi

- Nita Aartsen

Wanita yang satu ini selain bernyanyi, juga piawai memainkan jari di atas tuts. Mempelajari musik klasik sedari kecil, Nita Aartsen sampai ke Rusia dan berkeliling dunia untuk mengajar jazz. Bahkan, ia pernah menjadi pianis negara selama lebih dari 15 tahun! Ia bermain di depan Bill Clinton, pernah juga ditonton Pangeran Bernard dari Belanda. Kemudian ia juga bermain bersama Michael Paulo dan Pauline Wilson di Amerika Serikat.

Baginya, musik datang dari hati. Ia tak pernah peduli berapa banyak orang datang menonton, penampilan maksimal selalu disuguhkannya. Di atas panggung, Nita sering berkolaborasi dengan musisi jazz lainnya. Dalam dunia jazz, ini memang sebuah hal yang sangat lazim. Pada tahun 2009, ia merilis sebuah album bertitel ALL NITE OUT, di mana di dalamnya Nita mengajak serta Anda Perdana untuk sebuah lagu yang sangat seksi, Selamanya. Album kedua dijadwalkannya keluar tahun ini.

Nita AartsenNita Aartsen

- Mian Tiara

Nama ini sama sekali bukan nama baru. Gadis manis ini terlibat dalam pembuatan soundtrackRUMAH KE TUJUH. Dari sana, kerjasamanya bersama Indra Lesmana terus berlanjut ke proyek-proyek lain. Salah satunya, lagu Sahabat Setia yang dinyanyikan Andien merupakan ciptaan keduanya. Selain menciptakan lagu untuk penyanyi lain, Mian juga sering membuat jingle-jingle iklan. Tahun 2010, ia menumpahkan isi hatinya melalui THE COMFORT OF MY OWN COMPANY, sebuah album yang sangat personal namun berkelas yang dikerjakannya dalam studio milik Riza Arshad, satu lagi nama lama di dunia jazz Indonesia.

Dalam perjalanannya, Mian Tiara berkolaborasi dengan banyak musisi dan band jazz lainnya, seperti SORE, Anda Perdana dan Tika & The Dissidents. Gadis ini mempunyai kembaran bernama Mian Meuthia, yang juga sedang menggarap sebuah album solo jazz. Mungkin suatu hari nanti, kita bisa melihat penampilan langsung sepasang kembar yang dalam berpenampilan masih tetap menyukai celana jeans dan kemeja flanel ini? Siapa tahu? Tentu menarik melihatnya!

Mian TiaraMian Tiara

- Sister Duke

Pada awalnya, Sister Duke adalah duet musikal yang dikepalai oleh Nengah Krisnarini. Duet itu tidak bertahan lama, sehingga akhirnya Nengah berjalan sendiri dalam produksi album debut berjudul HIGHLIGHT OF THE DAY, dirilis akhir 2007. Di dalamnya, ada nama-nama semacam Barry Likumahuwa dan Rayendra dari Parkdrive.

Tahun 2010, lagu Kreyzie masuk dalam kompilasi MERCEDES-BENZ MIXED TAPE VOLUME 30, menjadikan Sister Duke sebagai artis pertama Indonesia yang terlibat dalam proyek ini. Terakhir, di awal tahun ini ia baru mengeluarkan single MYOB (Mind Your Own Business) yang diedarkan secara cuma-cuma di internet.

Sister DukeSister Duke

- Olive Latuputty

Satu lagi pemain lama jazz Indonesia. Barangkali Anda pernah dengar band acid jazz Parkdrive? Nah, Olive Latuputty adalah lead singer-nya. Album debut selftitled trio ini dirilis tahun 2005. Ketika kemudian Parkdrive terpaksa vakum, Olive pun meneruskan perjuangan di jalur solo.

Sebanyak 3 album telah dilahirkannya, 1 di antaranya adalah album gospel. Menariknya, album gospel ini dirilis di Amerika Serikat, berjudul SHINING. Kemudian ia memiliki FANTASY dan YOU, di mana di kedua album ini Olive sepenuhnya mendaur ulang lagu-lagu lama semacam Do That To Me One More Time, Fallen, How Deep Is Your Love dengan gaya dan suara khasnya.

Olive LatuputtyOlive Latuputty

Tentu saja masih banyak nama-nama lain yang berkiprah di ranah jazz Indonesia. Karena sebuah komunitas, biasanya satu penyanyi masih terkait dengan penyanyi lainnya. Cara mudahnya, kalau memang Anda menyukai musik ini, beli cd asli dan baca credit title-nya. Yang ditulis di sini hanyalah segelintir orang yang mempercayai dan menjalani idealisme mereka dengan penuh cinta. Perkara masuk televisi atau tidak, itu bukan prioritas bagi mereka. Atau kalau dilihat dari sudut lain, barangkali media yang kurang terbuka pada komunitas ini, mengingat prestasi dan kualitas yang dimiliki jelas membanggakan.

(kpl/rea)



Lihat Arsip Musik

- - -