Bruno Mars 'Kunci' Penggemar di 'Surga' Emas MEIS

Selasa, 25 Maret 2014 21:50 | 

Bruno Mars

Bruno Mars 'Kunci' Penggemar di 'Surga' Emas MEIS
Bruno Mars: @Facebook/BrunoMars




KapanLagi.com - oleh: Rea

Ketika UNORTHODOX JUKEBOX keluar, Bruno Mars menawarkan konsep baru secara keseluruhan. Sebagai salah satu album pop terbaik yang bahkan memenangkan Grammy Award untuk kategori Best Pop Vocal Album pada 2014 kemarin, dengan cerdas Bruno justru memberi sentuhan vintage di saat chart didominasi oleh dentum elektronik.

Menariknya, Bruno menerapkan gaya yang sama untuk keseluruhan paket. Akhirnya vintage menjadi sebuah konsep sukses. Dia masih menyanyikan lagu-lagu pop dan sedikit reggae, namun dengan lebih banyak soul. Single pertamanya, Locked Out of Heaven, mengingatkan banyak orang pada The Police. Itu baru awalnya.

24 Maret 2014, MEIS Ancol menjadi venue konser kedua Bruno di Jakarta. Konser pertamanya tahun 2011, sukses besar. Setelah tiga tahun, dia semakin dinanti. Pukul sembilan lebih sedikit, setelah publik menyanyikan Indonesia Raya, tirai bergambar pohon kelapa raksasa diturunkan dan Bruno muncul, membawa Moonshine.

Bruno tidak hanya membawa gambar pohon kelapa dan cahaya bulan, dia juga membawa tim produksi dan band yang berhasil memberi 1,5 jam pengalaman keren menutup bulan Maret ini. Pencahayaan mewah, panggung bertabur lampu emas yang mengingatkan pada era The Jacksons, serta 'pasukan' yang saya percaya terlahir untuk tampil di panggung.

Soulful! Bruno tancap gas bersama Natalie setelah Moonshine, sederhana menyapa, "Jakarta, it's good to be back," dan membuat ribuan penggemarnya bergemuruh dengan Treasure. Panggung besar itu penuh oleh dua set drum yang salah satunya digebuk penuh semangat, penanggungjawab seksi synthisizer-keyboard, seorang gitaris, seorang bassist, tiga orang pasukan tiup, seorang backing vocal yang tak pernah berhenti tersenyum, dan Bruno.

Mereka tahu bagaimana berpesta! @Facebook/BrunoMarsMereka tahu bagaimana berpesta! @Facebook/BrunoMars

Bermandikan lampu-lampu merah, biru dan hijau yang menyorot bagai laser, setlist padat dilantunkan. Meriah, karena semua orang di panggung itu suka menari. Mengenakan vest di atas kemeja dan topi yang sudah menjadi ciri khas, Bruno tampak lelah sekaligus gembira di bawah lampu sorot panggung. Dia tidak banyak berbasa-basi dengan audiens, namun ketika menatap penggemarnya, beberapa kali dia tak bisa menahan seringai senang.

Personel bandnya bukan hanya memberi semangat kepada Bruno yang harus menjalani tur ekstra padat sampai pertengahan April mendatang, percayalah, mereka melengkapi 'nyawa' show dengan kekompakan koreografi yang begitu menghibur, sampai membuatmu mengangkat tangan dan bergoyang bersama.

Money yang dibuat rock and roll, di-medley dengan Billionaire, single Travie McCoy dari album LAZARUS. Megahit ini memang punya nada hampir sama dengan Santeria dari Sublime, sehingga tak mengherankan ketika Show Me menyusul. Tentu saja, karena Bruno pernah bekerjasama dengan Damian Marley, putra Bob Marley dalam Liquor Store Blues, dia tahu yang dilakukannya.

Backing vocal Bruno memang istimewa. Namun saat dia mulai toasting lengkap dengan sedikit delay ala dub, saya tak bisa menahan antusiasme. Ini superkeren! Our First Time menuntaskan Show Me, berkebalikan dengan gaya Jamaican music yang bikin berdansa, Our First Time beratmosfer seksi seperti liriknya, membuatmu tersipu.

Bruno menikmati kemenangan rayuannya melalui Marry You dan If I Knew. Emosi penonton dibuat naik-turun sesuai tempo lagu dan cahaya lampu, wanita-wanita menjerit-jerit, ratusan gadget teracung tinggi dari sektor Green yang tepat di depan panggung. Dan Bruno memohon sepenuh hati, "Put your cam down, put your cam down. Can't we talk tonight? "

Fenomena gadget di konser ini memang dilematis. Sebagai negara berkembang di dunia ketiga, punya gadget canggih menjadi semacam kebanggaan tersendiri. Namun dalam sebuah konser, ada sejumlah etika tak tertulis, salah satunya adalah cara menonton. Masalahnya, siapa yang tahu apakah yang datang menonton sungguh-sungguh menyukai si artis, atau hanya untuk menjaga eksistensi sosial semata?

Tak mengubah mood, Bruno melanjutkan setlist. Di The Lazy Song yang sontak menyatukan suara penonton, sang backing vocal mempersembahkan sebuah gimmick sangat lucu. Bahkan Bruno pun tak bisa menahan tawa. Count on Me diubah ala country, mengajak audiens berhitung bersama.

Memasuki lagu berikutnya di mana lampu panggung menyorot warna biru, mudah ditebak saat Bruno berkata, "This is the hardest song." When I Was Your Man meluluhkan hati MEIS Ancol, balada penyesalan powerful yang bakal bikin kamu patah hati juga.

Bruno masuk ke balik panggung sejenak, mungkin mengobati luka hatinya. Sang keyboardist mengambil alih perhatian, mengembalikan atmosfer konser sebelum Bruno melemparkan Grenade kepada publik. Mengumumkan setlist sudah berakhir, Just The Way You Are masih menyimpan gimmick strike-a-pose. "Here's our pic, take it, take it," kata Bruno seraya bergaya bersama teman-temannya di tengah panggung.

Strike a pose! @Facebook/BrunoMarsStrike a pose! @Facebook/BrunoMars

Memperkenalkan personel bandnya yang memberi hormat dengan gaya dan tarian masing-masing, sesi ini bahkan terasa seperti pesta! Tidak butuh waktu lama untuk mengembalikan Bruno ke panggung untuk encore, hanya saja kali ini dia memilih duduk di balik set drum yang memang belum tersentuh.

Gimmick drum ini sudah dinanti banyak orang memang, gadget-gadget kembali teracung tinggi. Menyadari intro masuk ke Locked Out of Heaven, penonton melompat dan bernyanyi bersama. Confetti emas jatuh dari langit MEIS, audiens berpesta bahagia di 'surga' yang diciptakan Bruno.

Lalu lampu MEIS dinyalakan, panggung yang tadinya gemerlap kembali gelap. 'Surga' berdurasi 1,5 jam itu sudah selesai, waktunya kembali ke kehidupan nyata. Banyak pertanyaan terlontar seiring audiens menyemut keluar venue. Kenapa begini kenapa begitu? Menilik jadwal Moonshine Jungle Tour yang demikian padat, yang dilakukan Bruno bersama tim di atas panggung MEIS tadi seharusnya bisa melekatkan rasa 'surga' di hati.

 

Toasting: istilah ini lazim dikenal dalam musik yang berasal dari Jamaika, yaitu ska beserta turunannya, sampai reggae, dub dan dancehall. Kurang lebih artinya adalah berbicara atau melantunkan lirik diiringi beat, sebenarnya merupakan tradisi budaya Afrika.

(kpl/rea)



Lihat Arsip Musik

- - -