Sederet Fakta dan Lika-Liku Musisi Indie di Indonesia, Usaha Maksimal Tapi Cuan Minimal?

Rabu, 22 Februari 2023 20:15


Musisi Indie berjuang melawan arus dan tren musik masa kini (credit: Dokumentasi Pribadi)

Kapanlagi.com - Berkarir di dunia musik Tanah Air bagi sebagian besar orang memang sangat menjanjikan. Siapa yang tidak tertarik dengan popularitas serta keuntungan yang didapat dari stream sampai penjualan merchandise?

Namun ternyata, bagi segelintir musisi Indie, faktanya tidak seindah imaji. Mulai dari usaha yang maksimal, sampai dana yang dikucurkan, semua butuh niat yang tinggi. Jangankan balik modal, untuk berpikir jauh sampai menggelar konser tunggal saja masih terlalu muluk-muluk.

KapanLagi.com berhasil menghimpun beberapa musisi Indie yang tersebar dari seluruh Indonesia untuk dikulik soal perjuangan serta cuan yang dihasilkan dari digital platforms. Seperti apa ya kira-kira perjuangan mereka? Intip di sini!

 

1. Perjuangan di Balik Layar

Setiap musisi memiliki perjuangan yang berbeda untuk mencapai tujuannya. Ada yang sudah memiliki privillege, namun ada juga yang tak memiliki koneksi. Seperti halnya yang dialami oleh Waluyo atau yang biasa dikenal dengan nama panggung Bejho. Ia mengaku mengucurkan cukup banyak dana demi mempromosikan lagu-lagunya yang bertajuk Ikhlasku dan Mundur Alon Alon.

"Di awal-awal bikin lagu, perform sana sini,senang banget. Karena belum berpikir lagu ini akan laku apa tidak yang penting eksis. Tapi ya lama-lama akhirnya berpikir bagaimana lagu ini bisa dikenal banyak orang. Mulai lah sedih, karena untuk promosi ternyata dibutuhkan banyak dana. Di sini lah kendalanya," tuturnya, ketika dihubungi oleh tim KapanLagi.com.

Pendapat serupa juga dikemukakan oleh musisi Indie lain yang bernama Regalia. Berkarir cukup lama di industri musik membuatnya sadar kalau tak hanya sekadar 'bagus' saja, namun keberuntungan juga berperan penting.

"Well, industri dunia musik Indie itu adalah jalur yang menurut saya mudah. Namun untuk mencapai ekspektasi yang mengarah kepada karir yang eksponensional mungkin dibutuhkan faktor luck atau hoki yang gede. Tapi sekali lagi, bermusik adalah hal yang idealis di mana tujuan sebenarnya kita bermusik adalah untuk menelurkan karya kita dalam bentuk lagu," ucapnya.

 

2. Idealisme Bentrok Dengan Selera Pasar

Salah satu keuntungan menjadi musisi Indie adalah tidak terikat dengan label, dalam artian, musisi tersebut bebas untuk mengekspresikan karyanya tanpa harus mengikuti arus selera pasar. Namun, di sisi lain, ada faktor yang membuat mereka bimbang.

Faktanya, ketika mengikuti selera pasar, musik yang dirilis mempunyai potensi untuk meroket lebih cepat. Namun, tak semua musisi Indie punya selera yang sama dengan publik kebanyakan.

Tak dipungkiri, idealisme musisi Indie ini lah yang kerap menjadi boomerang. Namun, benarkah kenyataannya demikian?

Pendapat tersebut ternyata diamini oleh Devi Sudiani atau yang akrab disapa Suvils Kon. Ia sendiri mengaku tertantang untuk menabrak arus pasar dengan musik yang ia ciptakan sendiri.

"Always believe in yourself. Saya justru merasa tertantang untuk memperdengarkan genre yang saya bawa kepada pendengar yang memang bukan peminatnya," ungkapnya tegas.

Berbeda dengan Suvils Kon, Gardela, seorang musisi yang sudah berkecimpung sejak tahun 2019 memiliki cara berbeda dalam menyikapi hal tersebut. "Kalau aku pastinya menggabungkan antara idealisme dan realisme. Aku juga harus bisa meneropong selera pasar saat ini dan bisa menggabungkan karakter dari musikku," cetusnya.

Hal serupa ternyata juga diungkapkan oleh Aditha Irawan. Ia mengaku untuk merilis sebuah lagu tak perlu harus mengikuti arus dan selera pasar.

"Untuk saya pribadi ketika kita membuat karya itu tidak ada patokan harus mengikuti pasar atau tidak. Seniman yang sesungguhnya itu ketika kita menciptakan sebuah karya, itu tulus dalam hati tidak melihat kanan dan kiri yang lagi trend apa saat ini. Bukan itu yang kita ciptakan. Karena membuat karya itu diciptakan dari perjalanan spiritual seseorang dengan pesan moral yang baik," ucapnya.

 

3. Tak Menjanjikan dan Kerap Diremehkan

Tantangan lain yang kerap diterima oleh para musisi Indie Tanah Air adalah masalah personal yang terjadi di sekeliling mereka. Kerap tak dianggap sebagai pekerjaan yang menjanjikan, sebagian mengaku sempat mendapat pengalaman yang kurang menyenangkan.

Mulai dari diremehkan sampai dicibir oleh sekitar seolah sudah jadi makanan sehari-hari. Namun, hal tersebut sama sekali tak menyurutkan perjuangan mereka untuk terus berkarya. Seperti halnya yang dilakukan oleh Dedi, personil sekaligus gitaris dari Alexis Band.

"Aku sudah paham pahit getirnya dunia Indie. Yang namanya perform hanya dikasih makan dan minum bahkan sampai tidak dibayar juga pernah aku alami. Selain itu untuk rilis di platform digital pun kita harus secara masif mempromosikan lagu kita, jika stuck atau jalan di tempat maka tidak akan ada pendengar atau publik tidak tahu soal lagu tersebut," ungkapnya.

Namun, hal berbeda justru diungkapkan oleh Aditha Irawan yang sudah merilis single bertajuk Salah Ku. Menurut pendapat pribadinya, Aditha Irawan percaya kalau karya yang baik pasti akan mendapat hasil serupa.

"Jika kita berusaha dan membuat karya terbaik pasti akan membuahkan hasil. Apalagi di zaman yang sudah digital seperti sekarang ini sangat mudah untuk kita berkarya dalam bentuk apapun. Itu semua tergantung dalam diri manusianya itu sendiri. Sudah banyak kok contoh musisi indie yang meraup kesuksesannya dari musik indie. Kita sebut saja SLANK, Payung teduh, dan masih banyak lagi band indie di indonesia yang sukses seperti mereka. Hanya saja kita yang tidak melihat itu untuk sebagai contoh," tuturnya.

 

4. Budget Yang Dikeluarkan Untuk Merilis Lagu

Bukan rahasia lagi, jika berkarir di dunia musik, terutama Indie, membutuhkan dana yang tidak kecil. KLovers pasti juga penasaran berapa biaya yang dikeluarkan oleh para musisi Indie untuk merilis satu single atau album?

Menurut pengakuan Dhiralova, ia bisa menghabiskan sekitar Rp 5 juta hanya untuk merilis satu single saja. Yang lebih mengejutkannya, harga tersebut menurutnya sudah cukup murah dan bersahabat.

"Bervariasi tergantung tarif dari masing-masing studio rekaman dan pencipta musiknya serta konsep lagu sampai jadi video clip. Tapi karena aku masih jadi musisi indie yang baru merintis karya dari nol, jadi aku masih mencari yang low budget. Kira kira per lagu sampai jadi video clip masih di bawah kisaran 5 jutaan," ungkapnya.

Berbeda dari Dhiralova, Bejho juga ikut membongkar berapa budget yang ia keluarkan demi merilis sebuah single. Nggak main-main, pria yang dulunya berprofesi sebagai MUA ini sampai rela menggelontorkan uang puluhan juta.

"Saya mengalami 2 fase produksi di awal itu sekitar 50 jutaan untuk 5 single (tak berlanjut kerjasamanya). Ini sempat bikin aku ngedrop, tapi karena kecintaan terhadap musik dunia entertainment aku berusaha kesana kemari untuk tetap produktif. Nah produksi kedua aku sebagai Bejho karena dibantu teman-teman musisi yang rela berkorban demi teman 1 lagu plus video musik kisaran 5 jutaan," bongkarnya.

 

5. Usaha Keras Tapi Hasil Minimal?

Setelah mengulik tuntas soal budget, kali ini KapanLagi.com mencari informasi dari para musisi Indie soal hasil atau keuntungan yang mereka peroleh dari kerja keras tersebut. Apakah kira-kira sebanding?

Bejho, yang baru saja mengikuti ajang Indonesia's Got Talent langsung blak-blakan buka suara mengenai hal ini. Menurutnya, apa yang dihasilkan sekarang memang belum sebanding dengan usaha atau uang yang ia keluarkan.

"Untuk saat ini memang belum menghasilkan pundi-pundi atau keuntungan secara materi. Sejujurnya, saya belum berpikir untuk mendapatkan keuntungan dari karya ini, tapi nggak munafik juga ingin ada pemasukan dari karya, tapi itu belum menjadi keutamaan yang aku kejar. Kalau karya booming dan disukai ya bersyukur, kalau belum ya nggak apa-apa. Jujur berkarya di musik ini buat aku NAGIH. Ada semacam kesenangan lahir batin," ungkapnya.

Hal yang sama ternyata juga diungkapkan oleh Gardela. Sebagai seorang musisi Indie, ia merasa uang bukan lah patokan nomor satu dalam berkarya. Sejauh ini, ia justru sangat bersyukur karena kemampuannya dalam menulis lagu perlahan melesat naik.

"Karena menurutku, songwriting is about process. Aku yakin dalam 2 atau 5 tahun ke depan, kemampuan songwritingku bisa meningkat dan bisa relatable dengan banyak insan di dunia ini," pungkasnya.

Nah, kalau menurut KLovers dari penuturan para musisi Indie di atas gimana nih? Adakah dari kalian yang juga sedang merintis karir di dunia musik juga dan punya pengalaman seru?

Yuk Baca Juga!

Judika, Bunga Citra Lestari, Hingga Disc Jokey Asal Amerika, Cas Cash Akan Tampil Spesial Di W Superclub Gatsu

Diiringi Orkestra Erwin Gutawa, Barasuara Rilis 'Merayakan Fana' Sambut Album Ketiga

Bertema Giant Steps, The Other Festival 2023 Tawarkan Experience yang Berbeda dari Gelaran Lainnya

Coach Ican Rangkai Kepingan Cerita Cinta Orangtuanya Lewat Lagu 'Lirsyah & Lina'

Comatra Ingin Wakili Orang yang Tak Sanggup Ungkap Isi Hati Lewat Lagu 'Silence'

 

(kpl/tmd)