'DJANGER BALI', Salah Satu Catatan Penting Bagi Jazz Indonesia

Natanael Sepaya  |  Rabu, 28 Oktober 2015 17:50
'DJANGER BALI', Salah Satu Catatan Penting Bagi Jazz Indonesia
Djanger Bali © Demajors

Kapanlagi.com - Tidak bisa dipungkiri kalau musik jazz saat ini sudah menjadi salah satu tren musik bahkan menjadi bagian dari gaya hidup. Hal semacam ini pun akhirnya lepas dari imej musik yang kerap dikaitkan dengan hal-hal mewah dan intelektual.

Namun perjalanan musik jazz sendiri tidak semudah orang mengatakan kalau musik yang satu ini enak untuk didengar. Hal itu pun berlaku bagi band jazz lawas Tanah Air, The Indonesian All Stars.

Terdiri dari Bubi Chen, Maryono, Benny Mustafa Van Diest, Jack Lesmana, Jopie Chen, dan Tony Scott, mereka pun merekam album DJANGER BALI, sebuah momen penting bagi sejarah musik Tanah Air di mata dunia. Jelas tidak berlebihan mengingat ini adalah kolaborasi pertama komposisi musik Indonesia yang diracik dengan musik jazz dan ditukangi oleh band Jazz Tanah Air bersama musisi Amerika di luar Negeri.

Dilansir kalau album ini berada di naungan label SABA, Jerman, pada tahun 1967. Bukan cuma itu saja, album ini juga sempat dirilis ulang dalam format vinyl oleh MPS Records (Jepang) dan MPS Records-BASF (Jerman) di tahun 1971. Walau begitu DJANGER BALI yang diproduksi secara terbatas ini tidak pernah didistribusikan ke Indonesia.

Dari press release Demajors yang kami terima, sejumlah situs penjualan rekaman internasional menyebutkan kalau album ini termasuk rare-vinyl records. Bahkan sebuah catatan pernah menulis kalau harga album ini terjual dengan harga mencapai US$ 325 tahun lalu di mana penawaran dimulai dari harga US$ 170.

Segera lakukan pre-order untuk album langka ini! © DemajorsSegera lakukan pre-order untuk album langka ini! © Demajors

Tidak banyak yang tahu, namun DJANGER BALI jadi salah satu bukti sejarah tidak hanya untuk perjalanan musik jazz Indonesia, tapi juga dunia. Pasalnya, album ini jadi catatan bertajuk Jazz Meets the World, sebuah serial proyek rekaman Joachim Ernst-Berendt dengan Saba Records.

Lebih dalam lagi, album ini juga mencatat perjalanan The Indonesian All Stars di JazzFest Berlin pada tahun 1967 yang diinisiasi oleh Joachim-Ernst Berendt. Yap, ia adalah seorang tokoh yang aktif mempopulerkan world music atau istilah yang digunakan untuk menyebut musik tradisi dari berbagai musik dunia.

Penampilan grup ini lantas mengejutkan banyak pengamat musik jazz yang akhirnya membuat Bubi Chen terpilih sebagai pianis JazzFest Berlin All Stars dan muncul di sejumlah majalah jazz bergengsi di Amerika. Karena itu untuk kamu yang menyukai musik jazz, album ini patut untuk kamu miliki.

Bertepatan dengan proses pembuatan rekaman DJANGER BALI 48 tahun lalu, pada tanggal 27 Oktober kemarin Demajors Independent Music Industry resmi mengumumkan kalau album tersebut bisa beredar di Indonesia dalam format CD dan bisa di pre-order mulai sekarang.

Lalu apa kamu yakin cuma menjadikan musik jazz sebagai tren semata? DJANGER BALI adalah salah satu kunci untuk kamu memahami perjalanan musik jazz terutama Indonesia yang akan dirilis Desember nanti. :)

Sudah Baca Yang Ini?

Festival Jazz Kota Tua 'Damaikan' Musisi Lokal dan Mancanegara

Java Jazz Penuh Musisi Pop, Rio Sidik: Jadi Lebih Berwarna!

Tampil di JJF 2015, Jessie J Bikin Artis-Artis Universal Gembira!

Super Mantap, Jessie J Ciptakan Lagu Spontan di Java Jazz 2015

(kpl/ntn)


Lihat Arsip Musik

- - -