Solidair: 'TERBITLAH TERANG', Penerang Grunge Indonesia?

Rabu, 12 September 2012 15:45
Solidair: 'TERBITLAH TERANG', Penerang Grunge Indonesia?
Solidair




KapanLagi.com - Oleh: Rena

Judul album yang cukup ambigu, bukan? Kalau suka grunge, merasa tertarik dengan sebutan grunge modern, coba dengar keseluruhan album ini.

Datang dari Jakarta, Vic, Biqi, Gilang dan Wu terbilang berani menawarkan sound rock dan distorsi gitar yang kental. Di halaman Reverbnation mereka, tertulis sounds like Soundgarden, Audioslave dan Pearl Jam. Sebaiknya Anda tidak berharap jauh dari itu.

Baru bersama sejak 2010, mini album berisi lima lagu ini terbilang tidak jelek. Terbitlah Terang di track satu, intro-nya mengingatkan pada lagu Creed yang juga ditulis sebagai salah satu pengaruh Solidair. Ketika vokal Vic masuk, gaya bernyanyinya akan membuat Anda ingat pada Chris Cornell (Soundgarden), terutama ketika suaranya meninggi di, "Habis gelap, terbitlah terang/ Tunjukkan jalanmu/" tak perlu lagi dipertanyakan siapa pengaruhnya.

Sama sekali bukan tentang RA Kartini, TERBITLAH TERANG justru tentang kepercayaan mereka terhadap sesuatu yang mereka yakini, apapun itu.

Free ada di track kedua, lagu yang bakal membuat Anda bilang, Chris Cornell banget! Di track tiga, memilih judul Special Indonesia, seharusnya lagu ini benar-benar spesial. Distorsinya lebih rock daripada grunge di lagu ini. Kalau soal lirik, tak perlulah dibicarakan. Seperti halnya band-band grunge lain seperti Cupumanik dan Navicula, Solidair pun berbicara mengenai hal-hal sosial, seperti tanah air dan pertemanan (Hey Kawan, track kelima).

Heartbreaker di garis keempat, menyejukkan meski judulnya tidak sejuk. Liriknya, 'Aku tak mau patah hati lagi, seperti dulu'  terdengar cukup cheesy, ditambah vokal cowok Vic membuatnya jadi aneh. Padahal, sound gitar-nya oke. Sudahlah, ketika ikut bersenandung bagian "Patahkan sayapkuuuu," semua tak terlalu jadi masalah.

Tentu saja tak adil langsung membandingkan Solidair dengan Navicula atau Cupumanik, namun setidaknya Solidair berani tampil keluar, tak hanya di scene sendiri. Jika berharap aksi panggung menarik di situs Youtube, sebaiknya Anda menunggu beberapa saat lagi sampai mereka benar-benar matang, secara penampilan maupun atraksi.

Demikian pula jika Anda menanti sesuatu yang eksperimental dari istilah grunge modern yang diusung Solidair, Anda akan kecewa. Pattern-pattern-nya sudah terduga. Bukan tidak enak, hanya saja terlalu biasa. Bahkan font yang dipakai di cover album pun menunjukkan gaya konservatif mereka.

Dari luar negeri, sering digembar-gemborkan kebangkitan grunge dengan lahirnya album baru Soundgarden dan Alice in Chains. Di dalam negeri, mampukah Solidair menjadi tonggaknya? Mungkin baru bisa dibuktikan melalui full album mereka, kelak. Semoga mereka sanggup memberi terang di musik Indonesia.

(kpl/rea)



Lihat Arsip Musik

- - -