Sabua, Siap Mengubah Warna Musik Indonesia Yang Monoton

Sabua, Siap Mengubah Warna Musik Indonesia Yang Monoton Sabua ©KapanLagi/Akrom

Kapanlagi.com - Musik pop, melayu, rock, atau alternative bisa jadi musik yang paling menjual bagi masyarakat. Berani tampil beda, sebuah grup musik bernama Sabua baru saja merilis album yang berisi lagu-lagu daerah asal Maluku.


Sabua boleh jadi di plot sebagai band baru yang mampu mengubah warna musik Indonesia yang monoton. Nggak cuma sekedar bermusik, band yang berisi talenta berbakat asal Maluku ini juga sekaligus menjaga budaya Maluku tetap eksis dan elite.


"Kami mulai mikir kalau budaya kami sudah terkontaminasi dengan budaya asing. Sementara di luar sana banyak yang bersuara ketika budayanya sudah direbut sama negara lain lalu marah-marah. Sadar hal itu, kami ingin membangun sendiri budaya kami," ungkap sang vokalis, Aldisyah, saat ditemui di Les Molucans.


Sabua ©KapanLagi.com/AkromSabua ©KapanLagi.com/Akrom


Pada album perdananya ini, Sabua menyajikan 10 lagu lama dari Maluku dengan aransemen sederhana. Lagu-lagu seperti Tanase, Beta Berlayar Jauh, Papeda Dingin, dikemas apik sesuai filosofi nama Sabua sendiri.


"Sabua itu kan artinya tenda atau tempat pesta sederhana dimana orang-orang bisa tetap berkumpul. Ya kami buat musik yang sederhana tapi semua orang bisa kumpul untuk mendengarkan," terang Aldisyah.


Sabua terbentuk dari pertemanan keenam personil yang sering bermain musik dan berkumpul di sebuah tempat bernama Les Molucans. Mengisi musik di film CAHAYA DARI TIMUR arahan Glenn Fredly, Sabua ingin mengajak semua masyarakat Indonesia untuk mencintai dan melestarikan budaya Indonesia.


"Semoga album ini jadi pemicu buat teman lain untuk mengeluarkan sesuatu yang berbahasa daerah. Nggak perlu malu untuk itu. Bukan cuma Maluku, tapi semoga daerah lain mau mencoba seperti kami," tuntas Aldisyah.

(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)

(kpl/pur/ntn)

Rekomendasi
Trending