'Let It Be Me', Sebuah Konflik Batin Homoseksual
Kapanlagi.com - Kisah nyata seorang pria homoseksual dalam konflik batin menemukan kebebasan menjadi diri sendiri diangkat dalam sebuah tari kontemporer garapan koreografer Yudhistira Syuman bertajuk Let It Be Me.
Lika-liku kehidupan dan konflik batin itu diolah dalam pertunjukan berdurasi 30 menit di Goethe Haus, Jakarta, Rabu (12/9) malam. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bertajuk 'Gelar Koreografi Kota'.
Dalam karya terbarunya, Yudhistira melalui empat penari pria yang semuanya mengenakan rok warna-warni berbentuk merekah seperti penari balet ini seolah menunjukkan identitas seorang homoseksual. Kendati secara fisik mereka seperti laki-laki, namun sesungguhnya rok itu menyimbolkan sosok feminin dalam diri mereka.
"Sebenarnya dalam diri seorang homoseksual ada dua sisi, yakni laki-laki dan perempuan," katanya usai pertunjukan.
Advertisement
Sementara penolakan dari lingkungan sekitar yang kerap menimpa kaum homoseksual ditampilkan dengan hadirnya empat penari perempuan yang sesungguhnya berharap agar pria-pria itu menjalani hidup seperti kodratnya.
Yudistira kemudian memperkuat alur ceritanya dengan beberapa penggalan lagu. Di antaranya IT'S MY LIFE milik grup Bon Jovi, yang seolah mempertegas keinginan tokoh utamanya yang untuk berontak, menunjukkan siapa dia sebenarnya, dan keinginannya untuk bebas menjadi diri sendiri.
Let It Be Me telah dipersiapkan Yudhistira bersama para penarinya selama tiga bulan dan khusus ditampilkan untuk memeriahkan 'Gelar Koreografi Kota'. Kegiatan ini menghadirkan sederetan pertunjukan tari kontemporer mulai 22 Agustus hingga 12 September di Goethe Haus.
Secara khusus gelaran koreografi tersebut mengambil tema tentang kehidupan manusia dan perubahan yang terjadi di perkotaan khususnya Jakarta.
Koreografer muda, Jecko Siompo usai pertunjukan mengatakan struktur cerita dan simbol-simbol yang diangkat sangat menarik, namun tema yang diangkat dalam Let It Be Me kurang spesifik menggambarkan keadaan yang terjadi di Jakarta.
"Sebenarnya masih banyak juga yang bisa dieksplorasi dari apa yang ditampilkan, tapi tampaknya sang koreografer terlalu gamblang menyampaikan pesan," katanya.
Pesan yang dimaksud, lanjut Jecko, lebih banyak disampaikan melalui kata-kata. Seperti misalnya ketika salah seorang penari perempuan menunjuk ke arah penari pria utama dan mengatakan 'kawin' atau ketika para penari pria itu berteriak lantang 'kami adalah sebuah misteri, siapa sih yang mau dilahirkan seperti ini?' dan juga kalimat tentang homoseksual yang impoten dalam kalimat 'aku hanya untuk dinikmati, tapi aku tak bisa menikmati'.
Sementara itu seorang penonton dari Jakarta Selatan, Ratna, menilai tidak ada sesuatu yang baru dalam tema yang diangkat Yudhistira. Ia menilai sudah banyak koreografer yang mengangkat tentang kisah kaum homoseksual dalam karya-karyanya.
"Seharusnya karena ini bercerita tentang homoseksual di Jakarta, maka secara spesifik harus menonjolkan bagaimana kaum tersebut di kota ini, sebab yang namanya kaum homoseksual kan tidak hanya ada di Jakarta. Tapi juga ada di daerah lain," ujarnya.
Yudhistira Syuman adalah penari kelahiran Jakarta, 11 November 1968. Ia menekuni ballet mulai usia 17 tahun di Ballet Sumber Cipta dengan asuhan Farida Oetoyo dan Iko Sidharta.
Pada 1989 ia melanjutkan pendidikan tarinya di Folkwang Hochchule Essen, Jerman Barat. Setelah lulus sebagai penari pada 1994, ia bergabung dengan Company Folwang Tanz Studio selama dua tahun dan tur keliling Swiss, Perancis, Italia, dan Rusia.
Sekembalinya Yudistira ke Indonesia, ia kemudian aktif menciptakan berbagai tari kontemporer. Let It Be Me adalah salah satu karya terbarunya.
Selain Let It Be Me, pada pertunjukan hari terakhir dalam rangkaian 'Gelar Koreografi Kota' juga dipentaskan sebuah tari karya koreografer asal Sumatera Barat, Ery Mefri dalam karyanya 'Karatau Madang di Ulu'. Koreografi ini berpihak dan berakar pada karakter masyarakat Minangkabau dan tradisi merantau oleh masyarakat setempat.
"Kebiasaan merantau pada masyarakat Minangkabau bukan tanpa sebab atau panggilan nurani dan ekonomi. Tapi karena kecerdasan yang tak terpakai, sumber daya manusia yang bermanfaat tetapi tidak dimanfaatkan oleh negeri ini," demikian ujar Ery.
(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)
(*/bun)
Advertisement
