Kisah Pilu Pemerkosaan YF Tergambarkan di Lagu Band Punk

Fajar Adhityo  |  Rabu, 16 Juli 2014 16:21
Kisah Pilu Pemerkosaan YF Tergambarkan di Lagu Band Punk
Ilustrasi
Kapanlagi.com - Geram dan perasaan yang beraduk-aduk ketika membaca kisah YF seorang korban pemerkosaan yang berakhir tragis. Sebuah kekuatan yang benar-benar luar biasa ketika dia bangkit untuk melaporkan kejadian yang menimpanya.

Sebuah fakta yang akan membuat kita tercekat bahwa keadilan yang kita agungkan belum tentu memihak kita. Seorang korban yang seharusnya mendapat keadilan layak malah diperlakukan secara tidak pantas.

Kasus YF dan mungkin terjadi pada korban pemerkosaan lainnya mengingatkan akan sebuah lirik lagu dari band punk Aus Rotten berjudul The Second Rape. Dalam liriknya mereka mempertanyakan keadilan untuk para korban pemerkosaan yang sering menyudutkan wanita sebagai penyebab utama. Detil kasus YF bisa dibaca di blog Kartika Jahja di sini.

And the pornographic images that help portray
Women as legitimate sexual prey
When sexism is embedded in our judicial system
It's no surprise why the courts won't listen

Aus Rotten menggambarkan bahwa pornografi menjadi faktor utama. Di lirik berikutnya mereka mejabarkan bahwa perempuan sebagai mangsa seksual yang sah terlebih seksime tertanam dalam sistem peradilan.

Kisah lirik tersebut juga sama dialami oleh YF, di mana pengadilan mencoba memukul mentalnya, menyudutkan seolah dia yang bersalah. Mengutip dari catatan Kartika Jahja akan kronologis kasus ini bahwa Jaksa juga tidak kooperatif dalam menangani kasusnya.

Dalam sidang tersebut banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dangkal dan tak masuk diakal. Usai YF menceritakan kembali kronologis yang menimpanya, pengacara terdakwa pun mencerca dengan pertanyaan seperti warna BH yang dipakai pada saat itu, Saudari kan orang berpendidikan ya? Kok orang berpendidikan kerja pakai celana pendek? Bahkan dia diminta untuk memakai celana yang dipakai saat kejadian tersebut untuk mengetahui sebarapa pendek celananya. Namun permintaan itu ditolak oleh hakim dan hanya ditanggapi dingin oleh Jaksa.

Sebuah pertanyaan yang tak dimasuk akal, dan terlihat mengada-ada waktu saja. Terngiang kembali part tanya jawab di bagian reff lagu yang memiliki kesamaan dengan pengadilan YF.

Defense attorney: I'll ask the questions if you don't mind! -What were you wearing? How did you act?
Victim: My wardrobe is not a reason for some guy to attack. -I didn't act in any way to bring this on. Why am I on trail? What did I do wrong?
Defense attorney: Could you tell the jury why you let this happen?
Victim: I was in shock. I couldn't stop him.
Defense attorney: You claim that you were raped but how do we know?
Victim: I said no, I said no, I said no, no, no!

Dalam lirik di atas, seolah menggambarkan sebuah persidangan pemerkosaan dengan cerita yang sama dengan YF. Korban ditanyai apa yang dikenakan saat itu dan bertingkah seperti apa? Korban, menjawab bahwa pakaian yang dikenakannya bukan alasan dia untuk diperkosa.

Pertanyaan-pertanyaan bodoh juga dilontarkan oleh pengacara yang ingin tahu bagimana dia bisa diperkosa, yang kemudian ditolak oleh hakim.

Akhir dari kisah tragis ini juga sama dengan ending yang terjadi pada wanita yang menjadi subyek lagu Aus Rotten. Di mana korban tak mendapatkan keadilan yang setimpal dengan yang apa yang telah dialaminya. Pada sidang 8 Juli kemarin keempat pelaku YF mendapat hukuman penjara 1,5 tahun dari 7 tahun maksimal penjara. Sebuah hukuman yang sangat ringan tak sebanding dengan psikis korban yang harus menanggung seumur hidup.

Mengutip lirik Aus Rotten, persidangan adalah pemerkosaan kedua bagi korban dan menimpakan semua kejadian ini akibat apa yang ia kenakan serta perilakunya. Apakah rasa kemanusiaan dan akal sehat kini telah menghilang?

(kpl/faj)

Lihat Arsip Musik

- - -