CLOSE

Jes Gamelan Fusion, Ramaikan IIAF I

Kapanlagi.com - Kelompok Jes Gamelan Fusion dari Bali menghadirkan musik tradisi Bali dipadu musik modern di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis (16/8) malam, dalam acara 'Indonesia Independent Art Festival I'. Pertunjukan musik ini menyajikan enam komposisi, masing-masing Jegog Tradisi, Bima Kroda, Jes, Rumpun Bambu, Jaya Baya, dan Smaradhahana.

Jes Gamelan Fusion adalah nama yang memiliki arti tersendiri. Pendiri sekaligus pemimpin kelompok ini, I Nyoman Windha mengungkapkan 'Jes' adalah singkatan dari Jegog dan Semarpagulingan.

Jegog merupakan sebuah ensambel gamelan Bali yang berbahan utama dari bambu, sedangkan Semarpagulingan adalah gamelan kuno yang dulu kerap dimainkan di Istana (Puri). Gamelan itu lantas dikolaborasikan dengan musik non-gamelan.

Setiap komposisi memiliki ciri khas sesuai dengan tema yang diangkat. Dalam komposisi berjudul Jes misalnya, musik ini memadukan gamelan jegog dengan gamelan semarpagulingan dengan memakai konsep musikal dari musik jazz, kedua gamelan Bali ini dikolaborasikan dan diperkaya dengan beragam musik non-gamelan.

"Jes mengungkapkan fleksibelnya budaya Bali dalam pergaulan budaya lokal maupun global. Karena itu, komposisi ini merupakan perayaan atas keragaman budaya," ujar Nyoman.

Sementara dalam komposisi Jaya Baya yang terinspirasi Bom Bali 12 Oktober 2002 lalu, Nyoman Windha mengusung musik lembut dan menyayat hati lewat tiupan flute dan gesekan biola yang memainkan nada-nada memilukan.

Komposisi ini dipadukan dengan sebuah film dokumenter tentang damainya kehidupan masyarakat Bali pada zaman dahulu. Film dokumenter yang terpampang sebagai latar belakang panggung sangat menarik untuk dicermati.

Gambar film ini masih hitam putih dan menampilkan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali pada masa itu, seperti mandi di sungai, menari di halaman rumah dengan iringan gamelan Bali, serta menyabung ayam yang kerap dilakukan para pria di Pulau Dewata itu.

Gamelan jegog dan gamelan semarpagulingan terdengar mendominasi dalam kolaborasi dengan alat-alat musik barat seperti biola, keyboard, bas, gitar, drum set, dan saxophone. Demikian pula ketika alat musik non-gamelan lainnya seperti 'djembe', 'tabla', dan sitar Jawa menyeruak dalam dominasi gamelan itu.

Sepanjang dua jam pertunjukan, kedua jenis gamelan ini hampir tidak menyisakan ruang kosong. Musiknya rancak, menghentak, namun kadang terdengar lirih seumpama manusia yang berjalan mengendap-endap, lalu kembali menaikkan temponya.

Kelompok musik yang beranggotakan 30 orang musisi ini lahir pada 2006 di Denpasar. Nyoman Windha merupakan dosen Institut Seni Indonesia di Bali, dan pernah mengajar di Amerika Serikat dan Eropa khusus untuk gamelan Bali.

Berbagai kolaborasi dengan musisi mancanegara mengilhaminya untuk membentuk kelompok ini dengan menyelaraskan musik tradisi Bali dan modern. 'Indonesia Independent Art Festival I' (IIAF) merupakan program baru Gedung Kesenian Jakarta dalam memeriahkan HUT RI. Kegiatan ini berlangsung selama satu bulan dengan beragam agenda acara.

Pengisi acara dalam IIAF adalah seniman dan musisi dalam negeri dan mancanegara. Tahun ini tercatat dua negara (Rusia dan Italia) yang berpartisipasi mengirimkan para musisi terbaiknya untuk memeriahkan IIAF. Rencananya IIAF akan kembali digelar tahun mendatang sudah diharapkan menjadi kalender tetap GKJ. 

(Menyusuri jejak Indonesiadi Balik Produksi Drama Korea.)

(*/boo)

Rekomendasi

Trending