Hari Musik Nasional: Industri Praktis di Era Digital

Natanael Sepaya  |  Kamis, 09 Maret 2017 16:22
Hari Musik Nasional: Industri Praktis di Era Digital
Ariel NOAH © KapanLagi.com/Budy Santoso

Kapanlagi.com - Lepas dari hari kelahiran WR Supratman, tanggal 9 Maret sendiri membawa harapan serta motivasi untuk perkembangan industri musik yang lebih baik pada skala nasional, hingga internasional. Hal-hal inilah yang kemudian dirangkum dan menjadi semangat ketika kita memperingati Hari Musik Nasional.

Tapi, bagaimana dengan perkembangan industri musik Tanah Air saat ini? Ada perubahan yang sangat nyata. Sekarang ini penetrasi digital terus berlangsung dan perlahan mulai meninggalkan kebiasaan konservatif. Mulai dari proses produksi, distribusi, akses, hingga mengkonsumsi musik pun semakin terasa mudah. Cuma perlu koneksi internet dan alat tukar elektronik untuk bisa menikmati sebuah karya musik baru ataupun lama.

Bagi para seniman audio? Semua terasa murah dan mudah. Biaya sebuah proses rekaman di masa lalu kini bisa dipangkas secara efektif. Rekaman musik sekarang ini tak lagi membutuhkan biaya besar, era digital berhasil mendobrak pemahaman kolot atas sebuah karya seni audio yang memerlukan dana tidak sedikit.

Iwan Fals © KapanLagi.com/Budy SantosoIwan Fals © KapanLagi.com/Budy Santoso

Begitu pula dengan social media yang menjadi opsi sekaligus solusi terbaik dalam mempublikasikan sebuah karya secara cepat, gratis, dan bukannya tidak mungkin menghasilkan impact yang massive. Internet memudahkan semuanya. Kini kita tak perlu repot-repot pergi jauh-jauh ke toko musik hanya untuk mendapatkan update atau membeli sebuah rilisan terbaru. Semua ada dalam dalam satu genggaman, sangat praktis.

Namun semua hal ini membawa bias lain pada sebuah industri praktis. Bagi para seniman musik sidestream misalnya, era digital memudahkan mereka untuk bergerak secara mandiri tanpa bantuan label arus utama. Malah, tidak sedikit dari mereka yang awalnya bernaung di bawah major label kemudian beralih menjadi independen. Sebuah masa yang memaksa para pelaku musik bertahan dengan terus berinovasi. Juga, menjadi suatu era gotong royong digital, jika menilik ucapan Glenn Fredly beberapa waktu lalu.

Ketika diunggah ke dunia maya, orang akan dengan mudah pula mengantisipasi suatu karya dan memicu para pelaku yang lain untuk kemudian berlomba-lomba menawarkan musik dan rilisan mereka. Ragam karya musik terus dirilis setiap hari, popularitas dengan mudah didapat. Walau begitu, nyatanya tidak semua musik yang dirilis hari ini memiliki kualitas yang cukup untuk memenuhi hasrat para penikmatnya.

Glenn Fredly © KapanLagi.com/Muhammad Akrom SukaryaGlenn Fredly © KapanLagi.com/Muhammad Akrom Sukarya

Kemudahan ini juga bisa menjadi trigger kreatifitas para penggiat musik untuk terus menghasilkan karya. Tapi hal tersebut pun sebenarnya bisa menghilangkan sisi imajinatif. Yang terburuk, karakter dalam bermusik semakin saru, bahkan terasa sama.

Sedangkan dari sisi penikmat, mudahnya mengakses karya pada skala global akan membuat setiap orang bebas mencari referensi musiknya tanpa harus terpatok dengan apa yang ada di dalam negeri. Hal ini secara perlahan bisa membentuk sebuah standar pribadi, atau bahkan membuat seseorang bertindak sebagai juri atas suatu karya musik.

Setiap karya dalam negeri dengan mudahnya disebut mirip sebelum kemudian dibandingkan dengan band-band luar yang menjadi referensinya. Tidak ada yang salah, tapi tentu membosankan jika harus mendengar hal-hal seperti ini.

Slank © KapanLagi.com/Agus ApriyantoSlank © KapanLagi.com/Agus Apriyanto

Era digital memang membuat industri musik baik mainstream atau independen terasa praktis. Namun kelemahan yang ada membuat industri musik hari ini terasa kian kompetitif dan ganas. Para penggiat musik independen terus bergerak secara praktis dan bergerilya, mereka yang berada di arus utama pun terus memutar otak untuk bisa berinovasi dan terus bergerak mengikuti perkembangan.

Tapi sayangnya kita pun tidak bisa serta merta menyalahkan era digital. Nyatanya segala kemudahan dan kepraktisan yang dibawanya menjadi jawaban atas masalah-masalah klasik para penggiat musik.

"Memang ada kegelisahan, tapi ya kesenian khususnya musik selalu akan hadir. Waktu penyajiannya saja yang jadi masalah. Tapi aku kurang paham. Secara pasar akan segera  berlalu dan ada jawaban. Tapi sekarang udah oke kok. Orang nggak perlu macet-macet lagi, kalau zaman dulu beli (kaset) belum lagi kalau banjir, toko kaset macet setengah mati. Sekarang kalau kita punya kartu (kredit) bisa beli iTunes. Langsung dan seketika," ujar Iwan Fals.

Hari Musik Nasional diharapkan bisa membawa gairah baru bagi para penggiat musik untuk menawarkan hiburan audio yang semakin berkualitas dan tidak stagnan. Begitu juga dengan mental penikmat musik yang seharusnya bisa lebih melirik setiap referensi musik Tanah Air yang semakin hari terus meningkat kualitasnya.

Jangan Lewatkan Ini, KLovers!

W.R. Supratman, Sosok di Balik Hari Musik Nasional

Ini Lho Makna, Tujuan, dan Sejarah Hari Musik Nasional 9 Maret

Berkat 'LA LA LAND', Emma Stone Makin Dicintai & Menang Oscar

Meski Tak Tahu Artinya, Kenapa Banyak Yang Suka Lagu Korea?

Simak 12 Film Indonesia yang Rilis di Bulan Maret 2017

(kpl/ntn)



Lihat Arsip Musik

- - -