Dipha Barus, Jadi DJ Sehat dan Nggak Tampil Seksi Susah Laku

Rabu, 24 Agustus 2016 13:22


Dipha Barus © KapanLagi.com/Budy Santoso

Kapanlagi.com - Apa sih jenis musik yang lagi digandrungi kawula muda di Indonesia sekarang? Pop dan sudah pasti khususnya adalah dance music. Tapi juga kita nggak bisa menutup mata dari sederet klub yang menawarkan gemerlap dunia mulai dari minuman beralkohol, sampai fashion glamour dan sangat terbuka.

Well, memang semua itu sudah masuk dalam satu paket yang bernama tren. Tapi untuk seorang Dipha Barus yang pernah gagal tampil karena penampilannya yang dinilai 'kurang menjual', bukan berarti semua hal tersebut jadi faktor utama kesuksesan seorang DJ.

Yap, sebagai seorang DJ profesional berkaliber internasional, justru pola pikir dan semangat punk membuat Dipha Barus melesat hingga mencicipi berbagai panggung di luar negeri. Terus, apa yang salah sih antara pola hidup malam, pakaian minim, pola pikir dan kesuksesan seorang DJ?

So, ini dia jawaban Dipha Barus yang sukses jadi seorang DJ dengan pola hidup sehat dan jauh dari kesan penampilan yang glamour. Pindah ke halaman berikutnya yuk! (kpl/ntn)

1. Berawal Dari Punk dan Jadi, DJ?

Agak mirip kayak Skrillex yang dipengaruhi musik punk sewaktu masih menjabat sebagai 'remaja Los Angeles', seberapa besar sih pengaruh kultur ini dalam hidup seorang Dipha Barus?

Dipha: Spirit gue dapat dari punk, dari dulu gue suka musik punk. sampe gue mati spirit punk, do it yourself, nggak bakal ilang. Yang mengubah pandangan gue tentang musik itu musik punk, karena dari kecil udah dicekokin musik jazz, The Beatles, Morrisey, The Smiths sama bokap. Sebelum punk, tahun 94 gue denger Nirvana yang NEVERMIND. abis itu gue explore, eh ada musik punk, di situ ada Bad Religion, Dead Kennedys, ya mengubah pandangan hidup gue. Gue baca sejarahnya, kalau mereka nggak ada gigs, ya mereka buat gigs sendiri. ada band punk favorit gue, Amebix. kata dia, kalau lo enggak punya pintu, lo buat pintu sendiri. Spirit gue nge-DJ sekarang ya spirit punk, do it yourself.

Punk zaman dulu dan dance music kayaknya sama-sama sepaham soal perilaku hidup bebas, no rules. Sebagai DJ, Dipha Barus memang nggak bersentuhan langsung sama hal-hal kayak begitu?

Dipha: Klub cuma kerjaan gue, gue gak pengen terlalu bersentuhan dengan sisi gelap dari kehidupan malam. itu bisa ngerusak gue. hidup sehat berpengaruh pada kelangsungan kerjaan gue. Kerjaan gue butuh pikiran yang positif dan tubuh fit.

Terus katanya pernah pakai narkoba dan stop, coba ceritain dong?

Dipha: Dulu hidup gue nggak sehat banget, narkoba iya, rehab iya. pas sekolah sih. Pengen stop aja. Waktu itu denger lagu Primal Scream, kok enak, sadar kalau semua momen yang lo laluin secara sadar, bakal inget terus. Sejak itu berhenti, mesti proses sih. Sekarang pengen banget berhenti merokok dan pengen vegetarian, makan daging cuma di hari Minggu. Dampaknya mikir enak, nggak gampang emosi.

Bisa dibilang pola hidup sehat lah ya. Terus apa sih yang harus ada setiap kali Dipha Barus jadi DJ selain turn table atau setlist?

Dipha: Pisang, air putih, jam tangan minjem punya Andre (roadman Dipha), Gue gak punya jam soalnya.

2. Bayaran Nol dan Waktu Habis di Studio

Kalau nama sudah tenar biasanya bayaran besar jadi jaminan. Nah, berapa bayaran seorang Dipha Barus saat nge-DJ pertama kali?

Dipha: Waktu 6 SD main alat musik di ultah Bokapnya temen, dibayar Rp 20.000 di tahun 1998. kalau nge-DJ pertama kali nggak dibayar, di Kuala Lumpur, main acara temen aja. Ada klub namanya Zook, gue pengen banget main di situ, dikasih spot sama temen gue. Klub buka pintu jam 10 malam, gue dikasih nge-DJ jam 9 malam, belum ada orang. Tapi gue nggak abis akal, flyer gue bikin sendiri, fotokopi, gue sebar ke anak-anak indonesia di Kuala Lumpur. Yang datang rame, orang klubnya bingung (sambil tertawa).

Sudah mencicipi berbagai panggung lokal, nasional, sampai internasional. Terus, apa saja keseharian seorang Dipha Barus?

Dipha: Di Studio, atau nggak meeting sama klien. Gue selain music producer dan DJ, gue bikin client service namanya Anara Studio. Jadi kalau ada hotel contohnya, yang mau dikonsepkan musiknya, event-nya bisa ke Anara. Keseharian banyak ngabisin waktunya itu di studio. Di sini semua magic terjadi, seperti lagu No One Can Stop Us. Gue kayaknya udah nempel banget di studio, kalau udah lama di luar ya kepikirannya studio.

Simple banget. Oke, bicara soal lagu No One Can Stop Us hasil kolaborasi Dipha Barus bareng Kalulla, apa ide awal yang mengawalinya?

Dipha: Tadinya gak kepikiran bikin lagu sendiri, pop song. Gue orangnya gak pede memperlihatkan karya gue, introvet. Masa kecil gue itu tertutup, lebih suka di belakang layar. Terus temen gue bilang kenapa nggak bikin lagu sendiri, selama ini bikin lagu buat orang terus. Orang yang ngajarin gue bikin lagu itu si Adit, waktu gue masih di band Agriculture, dari awal hingga jadi lagu. Dia berjasa banget. Buat lagu sendiri, mainin lagu sendiri dan berdampak pada orang yang dengerin itu priceless banget buat gue. Tapi berkat dorongan teman itu dan ingin pesan positif gue bisa nyampe, akhirnya bikin lagu itu. Ada pesan positifnya di lagu itu, ada musik Indonesianya dan jangan berhenti mengejar cita-cita selama itu positif.

Terus kenapa Kalulla yang jadi pilihan?

Dipha: Kalulla itu talent gue, voice over gue. Awalnya Wizzy Wiliana, udah sempet workshop di sini 2 kali, tapi jadwalnya nggak pernah ketemu. Tapi akhirnya ya Kalulla. Selama 2 tahun kita nyoba 7-8 lagu, ya salah satunya No One Can Stop Us ini.

3. Kurang Seksi? Maaf Nggak Bisa Tampil

Sekarang makin banyak deh kayaknya artis yang jadi DJ. Menurut Dipha Barus sendiri bagaimana melihat fenomena seperti ini?

Dipha: Bagi gue sah-sah aja sih, siapapun bisa jadi DJ asal belajarnya bener dan tujuannya bener. Yang ngebedain DJ dengan tujuan yang bener dan DJ aji mumpung ya waktu yang bisa buktiin, udah ada yang atur kok (Tuhan), mungkin dia bisa lebih jadi sukses jadi DJ daripada jadi artis.

Terus, apa seorang DJ harus identik dengan penampilan yang identik minim dan mengarah seksi?

Dipha: Dulu gue sempat sedih dengan image kayak gitu. Gue yang nge-DJ, make a note, ngebaca crowd dan tempat ternyata kalah sama DJ yang payudaranya besar. Bagi gue sih ya sabar aja, waktu yang bakal seleksi kok. Gue pernah ditolak main, gue nanya, 'bos jadwalnya jadi gak tanggal segini?', dijawab, 'nggak bisa bos, udah diganti sama DJ ini,' terus 'kenapa?' kata gue. 'Ya cewek seksi yang lebih ngejual,' kata klien gue. Ya udah, pikiran gue berarti bangsa gue belum segitu majunya dan mementingkan kualitas. Dapat tanggapan kayak gitu, nggak lantas lo operasi payudara atau jadi cewek kan. Tapi gue stay di zone kualitas, gue percaya waktu bisa ngebuktiin.

Kalau menurut Dipha sendiri, kriteria DJ yang baik dan benar itu seperti apa?

Dipha: Ketika dia kontrol party bener, kasih pesannya benar. ketika personal dan taste massa, itu bisa seimbang. DJ yang ok menurut gue itu bukan cuma mainin lagu yang buat orang seneng aja dan enggak ada personal message, seenggaknya 1 atau 2 lagu idealisnya dia harus ada.

4. Jadi DJ di Indonesia dan Luar Negeri Itu...

Bagaimana awalnya sampai Dipha Barus yang memegang posisi bass player berada di belakang turn table?

Dipha: Tahun 2004 lulus SMA. Tahun 2009 baru jadi residen DJ, main buat orang, event gitu. Sama aja waktu main bass, waktu nge-DJ gue mempraktekkan alat DJ gue sebagai alat musik gue. Gue suka nge-DJ karena jadi psikolog di crowd. Kita yang kontrol energi, bisa ubah feeling mereka jadi positif.

Ada tips untuk Dipha Barus dalam memilih lagu?

Dipha: Gue enggak pernah ngerencanain lagu yang akan gue mainin. Kalau direncanain kayak gitu, ya tinggal pasang iPod aja. Itu pengalaman aja, kalau DJ nggak boleh hilang koneksi dengan lagu. Kalau DJ hilang koneksi dengan lagu, ya berhenti nge-DJ aja.

Sebagai DJ yang sudah mencicipi panggung luar negeri, apa komentar Dipha tentang pengakuan yang didapat kalau sudah bermain di Ibiza?

Dipha: Buat gue nggak sih, itu cuma pengakuan orang aja. menurut gue DJ hebat itu bukan sekedar main di depan ribuan orang, tetapi saat lo nge-DJ dan bisa mengubah hidup satu orang aja, menurut gue itu udah hebat sih. Kemarin gue main di Seattle, US, sama aja sih sama Jakarta, orang juga. sebenarnya mau main di Ibiza atau di mana pun menurut gue ya rezeki aja sih dari Tuhan.

Setuju, tapi sebagai DJ profesional, Dipha sendiri masih suka salah-salah nggak?

Dipha: Sering, gue manusia, tebakan gue gak semuanya benar. Mainin lagu baru ternyata lagunya gak cocok sama tempat dan crowd-nya. biasanya gue bikin catatan dari kesalahan.

5. Harus Ada Indonesia Dalam Musik Dipha Barus

Kenapa kamu selalu memasukkan unsur Indonesia ke dalam setiap 'musik Dipha Barus'?

Dipha: Gue orang Indonesia dan bangga jadi orang Indonesia. Gue pengen musik gue terdenger kayak lagi di rumah, musik Indonesia itu kaya banget, explore aja.

Tanggapan orang-orang tentang sentuhan Indonesia dalam karya Dipha?

Dipha: Yang sadar itu orang label, PR agency di New York. Ini pentatonik Indonesia, Indonesia ya kayak gini. Mereka lebih mengapresiasi. Misalnya DJ nggak ada ciri khasnya, ya sama aja kaya DJ lainnya, nggak ada selling point-nya.

Dan alat musik tradisional Indonesia yang paling suka dibenamkan dalam karya kamu adalah?

Dipha: Gamelan ada, tapi lagi coba masukin vocal dari timur. Indonesia itu kaya akan musiknya, apalagi bahasanya totally beda banget dan banyak. Salah satu DJ yang menurut gue keren merepresentasikan Indonesia itu Angger Dimas. Gue pernah jadi pembicara di event Remix, bukan The Remix ya. Banyak yang mencoba 'sebule' mungkin. Menurut gue itu sayang banget, lo punya budaya yang beragam, bukan kayak gini. Gamelan kolaborasi dengan DJ itu timpang, tapi gimana caranya gamelan itu nge-blend dengan musik DJ. kalau gamelan kolaborasi DJ itu kayak budaya Timur dan Barat.

6. Pendidikan Jangan 'Diuangkan'

Apa yang dilakukan seorang Dipha Barus di saat senggang?

Dipha: Meditasi, minum air putih, liburan ke Ubud Bali. Perlu duduk bareng dengan diri lo sendiri, apa tujuan hidup lo, ada (nggak) yang melenceng dari tujuan hidup lo.

Dengan semua pengalaman yang ada, apa Dipha Barus tertarik membuat sekolah DJ?

Dipha: Pendidikan jangan diduitin. Udah banyak investor yang ngajakin, tapi gue pengen buat sekolah producing, nanti ada kurikulum DJ. Yang udah gue lakuin, workshop ke sekolah-sekolah SMA gratis. Gue bongkar semua cara bikin lagu No One Can Stop Us, masih ada 3 sekolah lagi. Gue belajar producing dan DJ otodidak, menurut gue kalau pendidikan nggak diduitin ya nggak usah diduitin, kalau mau bayar seikhlasnya atau operasional gak apa-apa.

(kpl/ntn)