Rave Party, Sebuah Budaya Perlawanan Atau Pesta Hedon

Fajar Adhityo  |  Senin, 18 Agustus 2014 21:11
Rave Party, Sebuah Budaya Perlawanan Atau Pesta Hedon
Ilustrasi
Kapanlagi.com - Lonjakan festival rave party atau Electronic Dance Music juga mewabah di Indonesia. Beberapa festival sudah digelar beberapa tahun ini seperti Djakarta Warehouse Project dan yang baru saja berlangsung adalah  Dreamfield yang digelar di Bali.

Festival ini tengah diminati dan tiket penjualannya selalu sold out. Harga tiket pun sangatlah mahal, mulai dari Rp 500 ribu ke atas dan sudah bisa menyaksikan penampilan DJ internasional. Ribuan party goers memadati venue berpeluh keringat dan menari bersama. EDM festival menjadi sebuah trend tersendiri khususnya bagi anak gaul, hukumnya wajib untuk datang.

Namun di balik keriuhan dan kemeriahan pesta, sebenarnya ada sebuah pesan tersendiri yang disampaikan dari musik yang dimainkan. Rave Party adalah sebuah budaya perlawanan yang dilakukan oleh generasi muda yang memiliki visi sama akan perdamaian, cinta, persatuan dan saling menghormati.

Pada awalnya rave party digelar di tempat tersembunyi secara ilegal yang dikelola oleh para DJ dan berpindah-pindah agar tak diendus oleh Polisi. Sebuah pesta yang dikelola sendiri dan mengacu pada prinsip anti kemapanan dan menjadi sebuah sub kultur besar dan diminati oleh anak muda.

Kultur ini pun secara viral merebak ke berbagai belahan dunia dan bergerak secara sporadis. Di sini semua anak muda bebas mengekspresikan diri mereka dengan kostum yang aneh, bercelana pendek ataupun bersandal. Sebuah hal yang tak bisa dilakukan ketika memasuki sebuah club yang mewajibkan pengunjungnya bersepatu dan berdandan rapi.

Kini sub kultur ini tampil dengan kemasan baru dan puncaknya pada 2012 di mana banyak festival rave party digelar di berbagai negara. Banyak sekali perubahan yang terjadi, seperti semangat anti kemapanan yang tersisihkan dengan banyaknya sponsor yang ada.

Rave party ternyata memiliki nilai jual di mata para promotor karena diminati oleh ribuan anak muda. Mereka berlomba-lomba mengemas festival yang unik dengan tata panggung yang menakjubkan serta deretan line up yang siap memanaskan pesta.

Sebuah sub kultur yang kini berubah menjadi sebuah pesta hedon bagi para remaja. Unsur perlawanan yang dulu menjadi pemicu utama kini telah hilang dengan keglamoran yang ditawarkan.

Sebuah perlawanan memang sangat menjual.

Simak berita Dreamfield 2014 di sini!

Demi 12 Ribu Penonton, Dreamfields 2014 'Hancurkan' Budaya Bali?

Rp 5 Miliar Minuman Alkohol Ludes di Dreamfields 2014 Bali!

Festival Musik EDM 'Dreamfields 2014', Bukan Untuk Orang Kere?

[Foto] Anggun Berlibur di Sebuah Resort Seindah 'Surga'

(kpl/faj)


Lihat Arsip Musik

- - -