Lokananta, Studio Rekaman Pertama Indonesia Yang Terabaikan

Fajar Adhityo  |  Selasa, 03 Juni 2014 19:21
Lokananta, Studio Rekaman Pertama Indonesia Yang Terabaikan
Lokanata
Kapanlagi.com - Oleh: Fajar Adhityo

Tak banyak yang tahu bahwa bangunan kuno dengan cat memudar di jalan Ahmad Yani 387 Solo, dulunya merupakan studio rekaman pertama di Indonesia. Lokananta diambil dari bahasa pewayangan berarti gamelan di Kahyangan yang berbunyi tanpa penabuh ini berdiri sejak 29 Oktober 1956.

Nama Lokananta ini dicetuskan oleh Menteri Penerangan, Maladi dan kemudian disahkan oleh Presiden Soekarno. Awal pendirian Lokananta sendiri ditujukan membuat pabrik piringan hitam milik pemerintah dengan niatan untuk merekam dan memproduksi berbagai macam lagu daerah.

Peninggalan kejayaan Lokananta bisa dilihat dari banyaknya arsip musik Indonesia dari berbagai tahun. Ribuan master rekaman berbagai genre musik dari tahun 50-an hingga 80-an tersimpan rapi di sini, termasuk naskah pidato Proklamasi Presiden Soekarno.

Menyusuri bangunan ini seraya digiring menuju ke lorong waktu kembali ke masa silam dengan artefak bersejarah para musisi dari tahun 50-an dan seterusnya. Sayangnya kondisi album tersebut hancur dimakan zaman, karena kurangnya perawatan serta tempat penyimpanan yang tidak memadai.

Sebagai studio rekaman, Lokananta memiliki alat berkualitas nomor satu pada zamannya. Konon mixer dan berbagai peralatan untuk rekaman sama dengan yang dipakai di studio Abbey Road, London. Ruangan recording yang begitu luas dengan tata akustik yang memadai, dan hasilnya bisa kalian nikmati pada rekaman awal Bubi Chen, Titiek Puspa, Waldjinah dan banyak lagi yang tak kalah dengan rekaman luar negeri. Seandaianya alat ini masih terawat hingga sekarang, mungkin kita tidak perlu jauh-jauh ke Abbey Road untuk mencari sound yang magis.

Lokananta mencapai era kejayaan pada tahun 70-an dengan banyaknya rilisan album dari musisi lokal. Label ini juga mengubah konsep yang awal mulanya merilis piringan hitam ke kaset. Bentuknya yang kecil dan mudah dibawa kemana-mana membuat kaset menjadi pilihan para penikmat musik. Hal ini yang membuat Lokananta menutup produksi vinyl dan beralih ke kaset.

Terpuruk Karena Kurangnya Kepedulian

Seiring waktu, kejayaan Lokananta pun mulai memudar. Sebuah artefak bagi musik Indonesia dibiarkan terlantar akibat kurang pedulinya pemerintah. Lokananta seperti kapal tanpa nahkoda, berjalan sendiri dengan penghasilan tambahan dari ceperan yang dilakukan oleh karyawannya seperti jasa back up vinyl ke CD atau MP3. Ribuan keping rekaman esensial pun terselimuti debu, ironisnya mereka tidak mengetahui bahwa kelak akan memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.

Kurangnya kepedulian akan menjaga serta melestarikan aset berharga sepertinya masih menjadi nilai minus di Indonesia. Jika Lokananta tetap dijaga, kita pasti tak akan panik ketika lagu Rasa Sayange diklaim oleh Malaysia, karena kita punya bukti sejarahnya. Kita juga bisa bangga melakukan rekaman dengan kualitas setara musisi luar negeri tanpa harus jauh-jauh ke Abbey Road, London.

Bangun Dari Tidur

Kini Lokananta bangun dari tidurnya dengan banyak pembenahan yang dilakukan oleh orang yang peduli akan Lokananata dan sejarah musik Indonesia. Di Malang, komunitas Galeri Malang Bernyanyi membuat G2000, sebuah gerakan patungan Rp 2000 untuk menyampuli album piringan hitam yang telah rusak.

Para musisi generasi muda pun juga tak ketinggalan, seperti White Shoes Couple Company dan Pandai Besi yang melakukan rekaman album di sana. Mereka menggunakan semua alat yang ada di sana dan hasilnya benar-benar luar biasa. Kepedulian serupa juga dilakukan oleh Glenn Fredly yang merilis album DVD Live bertajuk Glenn Fredly and Bakucakar Live From Lokananta yang hasil penjualannya diserahkan ke Lokananta.

White Shoes And The Couple Company Saat Rekaman di Lokananta/@RudolfDethu.comWhite Shoes And The Couple Company Saat Rekaman di Lokananta/@RudolfDethu.com

Pandai Besi Saat Merekam DAUR BAUR di Lokananta/@efekrumahkaca.net/pandaibesi/Pandai Besi Saat Merekam DAUR BAUR di Lokananta/@efekrumahkaca.net/pandaibesi/


Berharap langkah untuk menyelamatkan Lokananta tak pernah berhenti. Ini adalah warisan dari sejarah budaya dan musik Indonesia yang tak boleh dilupakan oleh anak cucu kita. (kpl/faj)


Lihat Arsip Musik

- - -