Hari Musik Nasional, Tika & Udjo 'Project Pop' Harapkan Musisi Lebih Diapresiasi

Dhefa Mauren Roos Mary  |  Jumat, 09 Maret 2018 12:10
Hari Musik Nasional, Tika & Udjo 'Project Pop' Harapkan Musisi Lebih Diapresiasi
(credit : qubicle.id)

KapanLagi.com – Selamat hari musik nasional! Sejak 5 tahun yang lalu, Indonesia memperingati tanggal 9 Maret sebagai hari musik nasional. Hal ini ditetapkan melalui Keppres Nomor  10 Tahun 2013. Bagi para pelakon musik, tentunya hari ini memilki makna tersendiri bagi mereka. Tika dan Udjo ‘Project Pop’ mengusulkan pemerintah buat UU untuk lebih apresiasi musisi.

Ditemui di kawasan bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (8/3/2018) Tika dan Udjo beri pendapatnya tentang hari musik nasional. Menurut Udjo, hari musik nasional merupakan sebuah warisan budaya mengingat musik adalah bentuk budaya yang berkembang terus menerus dan menemani kehidupan berbangsa dan bernegara. “Jadi tahun kapan kita berdiri, sampai sekarang ada musiknya. Jadi ketika ada hari musik nasional ini adalah bentuk apresiasi terhadap karya-karya (musik) itu,” ujar Udjo. Tika pun menambahkan, “Tidak hanya karya itu, namun juga penciptanya, para musisi yang terlibat di dalamnya... pelakunya, penyanyinya, penciptanya.”

Pada kesempatan ini keduanya buka suara tentang ke-tidak-sejahteraan musisi yang karyanya dipakai oleh orang lain. Udjo berpendapat bahwa permasalahan in tak kunjung usai, bahkan sampai saat ini. Ia mengharapkan musisi-musisi muda bisa mendorong pemerintah untuk lebih memperhatikan para pelakon dunia musik dari sisi rewarding. Bagi Tika  punishment tak kalah penting diperhatikan agar para pelanggar mendapatkan efek jera dan para pelakon musik mendapat haknya dengan layak.

(credit : kapanlagi.com/fikrialfirosyadi)(credit : kapanlagi.com/fikrialfirosyadi)

Era digital pun turut ambil bagian dalam lika liku industri musik. Dimana era ini mempermudah distribusi karya para musisi sampai hingga ke telinga para pecinta musik. “Sekarang gini lho, tinggal download aja. Tapi apa semua orang mendowload dari portal yang legal?... jadi kayak bisa gratis kenapa enggak? “ tutur Udjo. “...proses membuat lagu itu melibatkan banyak orang. Dan ketika apa yang menjadi hak pemilik lagi diberikan, bayangkan karya apa lagi yang berikutnya akan dibuat!” Jelas Tika setuju dengan Udjo.

Udjo juga mengungkap pendapatannya bahwa musik karya musisi dalam negeri bisa saja bersaing dengan musik luar. Hal ini dapat terwujud jika musisi kita mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. “Kenapa ada kata-kata semoga bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri? Karena negara kita itu penduduknya jutaan. Memang harus itu dulu yang kita hibur... menjadi tuan rumah itu tidak hanya berkaryanya, tapi juga mendapatkan pengharagaan di negeri sendiri.”

Bicara tentang musik, kita tidak akan lepas dari musisi cover yang semakin hari semakin menjamur. Dari cover lagu, mereka pun digemari banyak orang. Tak berhenti sampai disitu, mengcover lagu kini dapat menjadi profesi yang tak kalah komersil. Dari iseng menjadi uang. Terkait hal ini Tika pun berpendapat, “Oh enggak apa-apa kalau cover-cover sih ya. Tapi lebih bagus kalu si empunya di-mention kalau perlu di-DM aja dulu... Misal dia bilang enggak boleh, ya udah jangan. Apalagi kalau sudah... melibatkan monotize di dalamnya. Kayak uang di dalamnya. Terus dia di-approve, “Gimana ih kalau masuk ke digital platform?” Nah, ... kemudian bernegosiasi sama si pemilik lagu. “Bagian elo berapa?”

(kpl/far/ren)


Lihat Arsip Musik

- - -