Garis Tegak, Proyek Kolaborasi Lafa Pratomo: 12 Musisi dalam 6 Lagu

Komposer sekaligus produser musik Lafa Pratomo mewujudkan proyek yang lama dipersiapkan lewat album Garis Tegak. Setelah lebih dari satu dekade berkarya, ia mempertemukan 12 musisi lintas genre dalam enam lagu kolaborasi yang akan dirilis bertahap setiap bulan sebagai penanda 12 tahun perjalanannya sebagai produser. p>

"Pertimbangan pertamanya, beberapa dari teman-teman sudah pernah kerja bareng, terus berteman baik. Ada beberapa yang belum pernah kerja bareng, tapi aku sangat mengagumi karya- karya mereka," ungkap Lafa Pratomo saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (30/7/2026).

"Jadi bekalnya itu. Udah pernah kerja sama Hindia, sama Bilal, mungkin itu jadi zona amanku. Sama Nadhif, kami belum pernah kerja bareng, tapi aku sangat mengagumi karya-karyanya," sambungnya.

1. Album Garis Tegak Dirilis Bertahap

Lafa Pratomo dan musisi Indonesia pakai baju putih © KapanLagi.com/Fikri Alfi Rosyadi

Garis Tegak disusun sebagai proyek kolaboratif berisi enam lagu, masing-masing menampilkan dua musisi. Perilisan dilakukan bertahap setiap bulan, memberi ruang bagi setiap kolaborasi untuk diperkenalkan secara utuh kepada pendengar.

Enam pasangan kolaborasi dalam album ini adalah: Feby Putri x Matter Mos, Nadhif Basalamah x Hursa, Ari Lesmana x White Chorus, Isyana Sarasvati x Jason Ranti, Bilal Indrajaya x The Jansen, serta Hindia x Banda Neira.

Lagu pembuka berjudul "Seperti Angka 8" dari duet Feby Putri dan Matter Mos dijadwalkan rilis pada 4 Agustus 2026. Formasi lintas genre ini menjadi salah satu penanda karakter proyek yang dirancang Lafa sejak awal.

Proyek ini juga dimaksudkan sebagai perayaan 12 tahun kiprah Lafa Pratomo di industri musik. Setelah menulis dan memproduseri ratusan lagu untuk berbagai nama, ia merangkum kolaborasi-kolaborasi baru tersebut dalam satu album arsip atas namanya.

2. Alasan Lafa Pratomo Memilih Kolaborator

Lafa Pratomo dan musisi Indonesia foto bersama © KapanLagi.com/Fikri Alfi Rosyadi

Lafa menekankan pemilihan kolaborator dilakukan dengan pertimbangan personal dan profesional. Sebagian adalah rekan yang pernah bekerja bersama dan berteman baik, sementara lainnya merupakan musisi yang karyanya ia ikuti dan kagumi sejak lama.

Dalam penjelasannya, Lafa menyebut pengalaman sebelumnya bersama Hindia dan Bilal Indrajaya menjadi zona yang sudah ia kenal. Di saat yang sama, ia mengajak nama-nama yang belum pernah berproses dengannya seperti Nadhif Basalamah, karena kedekatan terhadap karya juga menjadi bekal penting untuk kolaborasi.

Pertemuan para musisi dengan latar gaya berbeda tersebut diharapkan menghadirkan pendekatan kreatif yang segar dalam tiap trek. Garis Tegak dirancang sebagai ruang temu untuk memperluas kemungkinan ide tanpa melepaskan ciri masing-masing kolaborator.

3. Fokus Pesan, Bukan Target Penjualan

Lafa Pratomo dan musisi Indonesia di tangga © KapanLagi.com/Fikri Alfi Rosyadi

Berbeda dari orientasi komersial yang sering menyertai proyek musik, Lafa menyebut prioritas utamanya adalah bagaimana pesan dari lagu-lagu ini sampai ke pendengar. Soal target ekonomi, ia tidak menempatkannya di garis depan.

"Buatku sendiri, bisa berkumpul sama teman-teman musisi ini aja udah happy. Kalau mikirin ekonomi, itu gimana nanti lah. Karena ekonomi adalah dampak, tapi gimana message-message ini bisa diterima pendengar itu lebih esensial buatku," katanya.

Selama kurang lebih 12 tahun berkarya, Lafa Pratomo tercatat telah menciptakan sekitar 216 lagu untuk berbagai musisi Tanah Air. Melalui Garis Tegak, ia menegaskan posisinya di balik layar sebagai produser.

"Pada dasarnya gue pengin punya satu album arsip dalam hidup gue. Bentuknya album, tapi sebagai produser album, bukan penyanyi," ujar Lafa.

Ia juga menegaskan tidak akan mengisi vokal dalam proyek ini. "Di saat yang bersamaan gue gak suka sama suara gue. Aneh banget kalau gue nyanyi. Jadi gue ajak teman-teman buat bantuin gue bikin album," ujar Lafa.

(kpl/far/phi)

Rekomendasi

Trending