Fenomena Female DJ, Bukan Hanya Soal Jual Keseksian

Rahmi Safitri  |  Rabu, 30 Agustus 2017 07:22
Fenomena Female DJ, Bukan Hanya Soal Jual Keseksian
DJ © istimewa

Kapanlagi.com - Bicara soal musik EDM (Electronic Dance Music) yang belakangan sedang kembali populer di Indonesia tak bisa lepas dari kehadiran DJ (Disc Jockey) sebagai peramu musiknya. Memang, pekerjaan sebagai DJ awalnya sangat identik dengan pekerjaan kaum adam. Namun, belakangan banyak sekali muncul DJ dari kaum hawa. Sebutan Female DJ pun melekat pada kaum hawa yang pandai meramu musik EDM.

Munculnya Female DJ ini pun menghadirkan banyak sekali pro kontra di masyarakat. Banyak yang menilai bahwa kehadiran Female DJ ini hanya sekedar ikut tren tanpa memikirkan skill bermusik yang mumpuni. Atau dengan kata lain, banyak yang menilai bahwa Female DJ hanya menjual keseksian tubuh mereka. Tapi tidak sedikit juga yang menilai positif kehadiran mereka.

Salah satu DJ papan atas Indonesia, Dipha Barus misalnya. Bagi DJ yang pernah meraih Anugerah Musik Indonesia pada tahun 2016 ini, dunia DJ antara pria dan wanita sama saja. Dirinya tak terlalu memerhatikan fenomena negatif seorang female DJ. Menurutnya, semua kembali lagi ke selera dan musik yang dimainkan seorang DJ.

Dipha Barus bilang banyak Female DJ yang berpotensi © IstimewaDipha Barus bilang banyak Female DJ yang berpotensi © Istimewa

"Buat saya mungkin tetap kecintaan terhadap musik yang membuat seseorang mau menjadi seorang DJ. Karena menjadi seorang DJ itu tidak mudah. Keseksian atau tidaknya itu hanya menjadi value tambahan saja," ungkap Dipha saat dihubungi KapanLagi.com® belum lama ini.

"Waktu yang akan membuktikan fenomena itu (Female DJ hanya jual keseksian) memang ada. Kalau mereka stay true di musik pasti mereka akan bertahan lama," tambah Dipha.

Sama seperti Dipha Barus, Female DJ Tiara Eve pun tak mau terjebak dalam fenomena negatif Female DJ. Baginya, sebenarnya banyak female DJ yang punya skill hebat dalam bermusik dengan tidak mengedepankan keseksian. Tapi ia tak memungkiri bahwa ada juga DJ wanita yang terlalu berlebihan dengan gaya seksinya saat perform.

"Banyak juga kok yang sebenarnya punya potensi musik atau main yang oke. Tapi kadang sayangnya harus ditambah-tambah performance atau penampilan yang kayaknya gak harus segitunya ya," katanya.

Female DJ tidak harus seksi © KapanLagi.com®/Mathias PurwantoFemale DJ tidak harus seksi © KapanLagi.com®/Mathias Purwanto

Fenomena soal Female DJ yang dianggap jual keseksian sebenarnya pernah membuat Tiara Eve meradang. Pasalnya, kehadiran mereka yang tampil kelewat seksi tanpa memikirkan musikalitas membuat banyak anggapan miring soal pekerjaan sebagai Female DJ. Tapi sekali lagi, pemain film JAKARTA UNDERCOVER itu menilai bahwa menjadi wanita yang DJ tidaklah harus tampil seksi berlebihan.

"Kesel banget sih sebenarnya (banyak yang tampil hanya modal seksi), soalnya profesi ini jadi disamaratakan sama orang awam yang gak paham tentang DJ. Misalnya, keluarga, teman-teman yang bekerja di bidang lain. Karena mereka pikir DJ ya pake baju seksi dan muter-muter alat tanpa tau lebih dalam tentang musikaliti dari profesi tersebut," papar Tiara Eve.

"Female DJ tidak harus seksi. DJ adalah musisi, tergantung pribadi masing-masing harusnya. Sama aja kayak penyanyi, mereka punya ciri khas sendiri-sendiri," tambahnya.

Female DJ sering dapat tanggapan negatif karena banyak model majalah dewasa yang alih profesi © KapanLagi.com®/Mathias PurwantoFemale DJ sering dapat tanggapan negatif karena banyak model majalah dewasa yang alih profesi © KapanLagi.com®/Mathias Purwanto

Salah satu yang membuat Female DJ dicap negatif oleh masyarakat adalah hadirnya banya model-model majalah dewasa yang tiba-tiba terjun ke dunia musik EDM menjadi seorang DJ. Mereka kerap tampil dengan pakaian seksi saat menjadi DJ seperti halnya saat melakukan pemotretan di majalah dewasa. Hal ini makin membuat masyarakat berpikir begitu gampang menjadi seorang DJ terutama untuk wanita dengan modal seksi.

Pandangan ini pun dibantah oleh DJ Nadine Iskandar. Ditemui di salah satu club malam di Jakarta, Nadine tak mau melihat hal ini sebelah mata. Ia mencoba berpikir positif tentang banyaknya model majalah dewasa yang akhirnya terjun ke dunia DJ.

"Itu balik lagi sebenarnya. Kita nggak bisa lihat sisi negatif. Ya mungkin mereka mau mencoba hal yang baru. Ya nanti akan terlihat mana yang bertahan," kata Nadine.

Bayaran nge-DJ bisa buat bayar kost dan belanja © KapanLagi.com®/Mathias PurwantoBayaran nge-DJ bisa buat bayar kost dan belanja © KapanLagi.com®/Mathias Purwanto

Membantah soal anggapan miring soal Female DJ, Nadine pun menceritakan susah payah dirinya terjun dan bertahan di industri musik EDM. Sempat masuk ke salah satu sekolah DJ, Nadine pun pernah rela tak dibayar saat tampil.

"Aku masuk sekolah DJ tahun 2011 akhir. Di tahun 2012 aku memberanikan diri tampil. Itu belum sepenuhnya bisa. Akhirnya aku ambil residence untuk tampil di salah satu club sekaligus berlatih," kata Nadine.

"Awalnya aku sharing profit dengan salah satu club di Jakarta untuk tampil nggak dibayar. Di sana aku ngelatih mental dan berlati melihat crowd. Sampai sekarang akhirnya ya penghasilan sebagai DJ bisa buat kehidupanku di Jakarta, bayar kost dan belanja, hehehe," lanjutnya.

Jangan Lewatkan!

Batik Parang: Makna, Filosofi, dan Dipakai Jessica Alba - Sehun

#CeritaIndonesia: Cinta Laura & Kesuksesan Karirnya di Hollywood

Tampar Balik Haters, Kim Kardashian 'Sulap' Hujatan Jadi Berkah

Ramai Dipakai di Sosmed, Ini Lho Arti Kata Julid Sebenarnya

Kisah Bisnis Lipstik Valerie Thomas, Terinspirasi Bibir Sendiri