ESQI:EF, Kreativitas di Atas Segalanya

ESQI:EF, Kreativitas di Atas Segalanya Syaharani

Kapanlagi.com - Penciptaan lagu dan musik kadang ada yang menjiplak musisi tertentu. Pilihan pasar juga menjadi pertimbangan. Bagi ESQI:EF hal tersebut bisa dihindari, dengan menempatkan kreativitas di atas segalanya.

"Tapi kalau misalnya sudah didengar orang lain, kemudian mereka memiliki pendapat sendiri-sendiri ya wajar. Influence itu sebenarnya tidak pernah sengaja juga kita memasukkannya. Tiba-tiba saja hadir dan jadi seperti mirip yang lain kita kembalikan yang menilai. Bagi kami proses kreatif itu tidak memasukkan musik orang lain dengan sengaja ke dalam musik kami. Proses kami yang sekarang lebih banyak diskusi, pengarahan hal-hal mendasar. Kita menghindari adanya copycat," ujar Syaharani ditemui di kawasan Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Selasa (18/5).


“Kita percaya bahwa kreativitas itu dia atas mesin, jadi walaupun alatnya canggih kita tetap harus menjaga estetika dan harmoni bermusik. Kepekaannya harus tetap dijaga„
Syaharani



Pasar yang cenderung melayu juga harus disikapi dengan bijak. "Ya kalau mass product itu terdengar mirip, karena detailnya ada beberapa yang sama. Ada banyak alasan hal itu bisa terjadi. Mungkin karena diuber momen, mumpung masih laku, lalu cepat. Pengerjaan harus cepat," kata Donny Suhendra, sang gitaris.

Namun, Rani, sapaan akrab Syaharani tidak terlalu membandingkan dengan proses orang lain. "Kita bersyukur bisa bertahan di label Indie. Sehingga bisa mempertahankan musik yang kami sukai. Tidak harus diburu-buru keadaan," tegasnya.

Didit, sang gitaris, membenarkan Rani. "Kita percaya bahwa kreativitas itu dia atas mesin, jadi walaupun alatnya canggih kita tetap harus menjaga estetika dan harmoni bermusik. Kepekaannya harus tetap dijaga. Sebenarnya nggak masalah dengan adanya segala macam tuntutan dan kecepatan," katanya.  

(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)

(kpl/uji/bun)

Rekomendasi
Trending