Demi Album Perdana, Ryo Domara Tinggalkan Ego dan Rela Dipingit

Sabtu, 30 Maret 2019 21:30


Ryo Domara © KapanLagi/Akrom Sukarya

Kapanlagi.com - Bagi pecinta musik Tanah Air, nama Ryo Domara pasti sudah tak asing lagi di telinga. Musisi berbakat ini merupakan mantan personel dari band Jimmu dan Produce. Namun namanya baru dikenal luas kala terlibat dalam album Rockestra Erwin Gutawa tahun 2008 silam.

Ryo saat ini sedang mempersiapkan album solo perdananya. Tak main-main, Ia sampai rela meninggalkan idealismenya dalam bermusik guna merilis album komersil, namun tetap sesuai dengan hati nuraninya.

"Demi lahirnya album ini, terus terang, saya harus menurunkan ego dan idealisme bermusik saya. Yang kemarin-kemarin sudah cukup lah, jadi sekarang saya harus fokus buat bikin album yang komersil, yang bisa menghasilkan. Syukur bisa bermanfaat buat diri saya pribadi, dan buat orang orang di sekitar saya," jelas Ryo saat melakukan hearing dengan wartawan dan sesama musisi  di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (27/03).

Bahkan ada cerita unik selama pembuatan album dari Ryo ini. Ya, pria kelahiran April 1976 itu sampai dipingit agar bisa full menuangkan fokusnya menggarap album tersebut.

"Oleh manajemen saya nggak boleh ke mana-mana, bahkan nggak boleh dengerin musik yang lain dulu, tujuannya agar tidak terkontaminasi dengan dunia luar. Setidaknya sampai album ini bener-bener rampung dan dirilis," tambah Ryo.

Selama pembuatan albumnya, Ryo dibantu oleh Harry Budiman selaku produser musiknya. Setiap detail kecil selalu mereka diskusikan berdua guna mendapatkan hasil yang terbaik untuk albumnya.

"Saya kenal Ryo sudah lama, namun baru kali ini saya bisa bekerjasama secara profesional. Bahkan dalam pembuatan lagu dan menggodok aransemennya kami selalu tek-tok berdua. Jadi kami sama-sama berfikir bagaimana caranya agar album ini nantinya bisa diterima oleh masyarakat pecinta musik," jelas Harry.

Ryo sendiri tak asal pilih produser. Dari beberapa kandidat, Ia menjatuhkan pilihannya pada Harry karena beberapa pertimbangan tertentu. Salah satunya adalah kedekatan mereka sebagai teman, yang tentu jadi poin plus tersendiri, mengingat hal itu memudahkan komunikasi mereka dalam bertukar ide.

"Sebelumnya yang ada dipikiran saya ada sekitar empat kandidat yang pingin saya ajak menjadi produser, secara nama mereka cukup terkenal. Namun pada akhirnya saya memilih mas Harry. Selain karena sudah lama berteman, yaitu sejak 2001, juga karena secara emosional kita deket. Jadi kalau ada ide-ide baru atau hal-hal lain bisa langsung dikomunikasikan," sambung Ryo.

1. Menjaring Masukan

Ryo sendiri menggelar hearing albumnya bersama rekan media dan kolega di dunia musik. Hal ini  menunjukkan bahwa mereka berdua sangat serius dalam mempersiapkan album ini. Bahkan meraka dengan cerdas memilih meminta masukan dari luar agar dalam penggarapan albumnya nanti menjadi lebih baik, dan bisa tepat menyasar pecinta musik Indonesia dari berbagai strata.

Usai mendengarkan lagu per lagu, wartawan dan para kolega dipersilahkan untuk memberi saran dan masukan. Promotor kondang Harry 'Koko' Santoso dari Deteksi Production yang sengaja diundang pun buka suara.

"Dari semua lagu sebetulnya sudah variatif, cuma dalam pembuatan lagu juga harus dipikirkan bagaimana kemasannya di saat off air nanti. Sebab di Indonesia ini belum punya tempat yang bener-bener khusus buat konser musik adi secara akustik belum memadai," jelas Harry Koko dari Deteksi Production.

Sementara Harry Budiman menyampaikan terima kasih atas berbagai masukannya, baik yang dari wartawan maupun yang dari koleganya.

“Terima kasih atas semua masukan buat kami. Masukan yang konstruktif tentu akan kami jadikan sebagai dasar pertimbangan dalam merampungkan penggarapan album tersebut. Agar lagu demi lagu menjadi makin sempurna dan diharapkan bisa memenuhi selera masyarakat," pungkas Harry Budiman.

(kpl/gtr)