Debby Lufiasita Buktikan Karier Tak Mengenal Batas di Masa Sulit

Credit:Istimewa
Kapanlagi.com - Nama Debby Lufiasita kini tengah menjadi buah bibir di industri kreatif Tanah Air. Sosoknya yang selama ini dikenal piawai dalam dunia Public Relations (PR), tiba-tiba muncul dengan gebrakan baru sebagai produser musik dan pendiri label rekaman. Wanita kelahiran Karawang, 9 Oktober 1992 ini membuktikan bahwa latar belakang profesional tidak menghalanginya untuk mengeksplorasi sisi artistik yang selama ini terpendam.
Sebelum dikenal sebagai bos dari PT. Ulasan Pena Indonesia yang menaungi NueveTOP dan Nueve Records, Debby telah makan asam garam di dunia korporat selama satu dekade. Ia pernah menduduki posisi strategis di perusahaan-perusahaan besar seperti Gojek & Moka hingga KoinWorks. Namun, siapa sangka jika pandemi COVID-19 justru menjadi titik balik dalam perjalanan kariernya.
Masa-masa sulit selama pandemi ternyata memantik kreativitas wanita berusia 33 tahun ini. Berawal dari keisengan menulis puisi untuk meluapkan emosi, Debby kemudian mencoba merangkainya menjadi nada-nada indah di atas piano. Ketidaksengajaan inilah yang akhirnya membawanya serius menekuni dunia tarik suara sebagai orang di balik layar.
Advertisement
"Awalnya itu terjadi di masa pandemi. Iseng main piano dan menemukan nada yang pas dengan salah satu puisiku. Dari satu lagu, ternyata proses itu bikin ketagihan. Akhirnya aku memutuskan serius menjadi produser musik," ungkap Lufiasita mengenang awal mula karier musiknya.
1. Debby Sudah Rilis Banyak Karya
Kini, melalui label Nueve Records miliknya, Debby telah meluncurkan berbagai karya yang bisa dinikmati di platform musik digital. Beberapa musisi yang telah ia produseri antara lain HalloMumu, 6 am Club, dan Jundi Padma. Langkah beraninya ini tentu menuai kekaguman sekaligus keraguan dari sebagian orang.
Debby menyadari bahwa transisi dari profesional korporat menjadi seniman bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan mental sekuat baja untuk menghadapi tantangan teknis dan persaingan industri. Namun, pengalaman hidupnya yang tidak selalu mulus ternyata menjadi bekal berharga dalam menghadapi rintangan.
"Pernah banget mengalami masa sulit. Dulu, bahkan untuk makan enak pun harus menabung. Pengalaman itu yang mengajarkan aku untuk lebih menghargai proses dan hasil," tuturnya.
(Menyusuri jejak Indonesiadi Balik Produksi Drama Korea.)
2. Debby Ngaku Kebal dengan Komentar Negatif
Mentalitas pejuang yang dimilikinya membuat Debby kebal terhadap komentar negatif di media sosial. Ia justru menjadikan kritik sebagai bahan bakar untuk terus berkarya dan memperbaiki diri. Baginya, setiap cibiran adalah peluang untuk evaluasi agar bisa tumbuh menjadi lebih baik.
Uniknya, Debby berhasil mensinergikan keahliannya di bidang branding dengan passion-nya di musik. Ia melihat kedua dunia tersebut memiliki kesamaan fundamental, yaitu komunikasi. Musik baginya adalah medium komunikasi yang lebih personal dan emosional.
"Bagi saya, menulis lagu adalah bentuk lain dari komunikasi, namun dengan cara yang lebih emosional dan personal," jelas Lufiasita.
3. Visi Masa Depan Debby
Menatap masa depan, Debby memiliki visi yang tidak main-main. Ia tidak hanya ingin sukses sendiri, tetapi juga ingin menjadi pembuka jalan bagi talenta-talenta muda lainnya. Dengan semangat kolaborasi, ia optimis dapat memberikan warna baru di industri musik Indonesia.
"Aku ingin karyaku bisa didengar lebih luas, sekaligus membuka ruang untuk musisi-musisi muda agar bisa tumbuh bersama," tutupnya optimis.
(BCL Bantah Isu Hamil, minta netizen stop berasumsi.)
(kpl/aal/dyn)
Advertisement















































