[Concert Report] Architects Sukses 'Menggambar' Indah di Jakarta

Adi Abbas Nugroho  |  Minggu, 16 September 2012 12:00
[Concert Report] Architects Sukses 'Menggambar' Indah di Jakarta
Foto: Bambang @Kapanlagi.com
Kapanlagi.com - Band Inggris Architects berhasil 'menggambar' dengan indah dalam konser perdananya di Indonesia, di Viky Sianipar Music Center, Sabtu (15/09). Band yang telah lahirkan lima album ini membawakan 15 lagu berturut-turut, nyaris tanpa jeda.

Tiga band lokal yang dipercaya jadi pembuka cukup bisa menjalankan tugas mereka, memberi pemanasan yang baik. Billfold tampil pertama, meneriakkan lima lagu, termasuk sebuah single terbaru. Menurut sang vokalis cantik berambut panjang, Gania, single berjudul Bisa itu perdana dibawakan di Jakarta.

Setelah band pop punk asal Bandung itu turun panggung, giliran Final Attack yang menghangatkan suasana. Soal massa, salah satu band hardcore Jakarta ini sudah tak perlu diragukan.Cemetery Dance Club mendapat giliran terakhir. Memanfaatkan synthytizer, band ini terasa lebih komplit. Terlihat agak bermasalah dengan instrumen panggung, band Jakarta ini berhasil menuntaskan tugas mereka.

Ternyata Cemetery Dance Club bukan satu-satunya yang tak puas dengan instrumen yang disiapkan, karena Architects pun merasakannya. Perlu waktu cukup lama bagi band yang telah melahirkan lima album ini sampai semua terpasang dan sound dinilai cukup oke. Sang manajer harus mondar-mandir dulu dari mixer ke panggung, terlihat tak senang.

Jeda cukup lama setelah alat terpasang membuat penonton terpaksa memanggil band ini, "Architects... Architects... Architects..." seru mereka tak sabar. Vokalis Sam Carter muncul sendirian di atas panggung, dibanjiri pencahayaan warna biru, setelah opening lagu The Bitter End (album DAYBREAK). Penonton bersorak menyambutnya, dan berteriak lebih keras ketika Dean Searle, Tom Searle dan Alex Dean beriringan keluar panggung meraih instrumen masing-masing. Empat lagu masing-masing Alpha Omega, Day In Day Out, Dethroned dan Numbers Count For Nothing dibawakan tanpa jeda.

Soal stamina, musisi manca tampaknya memang selalu lebih siap daripada musisi dalam negeri. Panggung yang tidak terlalu besar membuat Architects terlihat kompak, gitaris dan bassist-nya kerap ber-headbanging bersama.

Sam Carter tidak banyak berinteraksi. Berulangkali Tom Searle mengangkat tangan, mengajak penonton yang malu-malu maju ke depan panggung. Untungnya, Architects membawakan banyak lagu dari album DAYBREAK (2012) dan THE HERE AND NOW (2011), membuat penonton sering bernyanyi bersama, sehingga kekakuan penonton tidak begitu terasa.

Di tengah konser, para fotografer di depan diminta manajer Architects untuk berada di balik pembatas panggung. Sebanyak 15 lagu dijejalkan dalam songlist Architects malam itu. Even If You Win, You're Still a Rat, Learn to Live, Daybreak, Follow the Water, Delete, Rewind, Outsider Heart, Devil's Island, Early Grave, Hollow Crown dan terakhir, These Colours Don't Run diteriakkan.

"Thank you, Jakarta!" seru Sam Carter di akhir lagu These Colour Don't Run.

Penonton serentak memanggil kembali, "We want more! We want more!" Namun jadwal yang padat, karena Minggu (16/09) Architects harus show di Bali, membuat mereka tak dapat memberi encore. Para personel menghilang ke balik panggung dan penonton pun menyerah. Mereka meninggalkan venue, bersimbah peluh, tetapi diliputi kegembiraan.

Ini adalah kali pertama Architects menyambangi Jakarta. Bahkan, pertama kalinya mereka tur Asia. DAYBREAK keluar pada Mei 2012. Konser ini diselenggarakan oleh Fast Youth Records yang memang dikenal peduli terhadap musik-musik independen. Siapa lagi kira-kira band yang akan diundang label itu ke Indonesia? Tunggu saja. (kpl/rea/abs)


Lihat Arsip Musik

- - -