CLOSE

Bukan Sekadar Teknik, Ardhito Pramono Cari Karakter 'Seniman' Yang Jujur di 'The Icon Indonesia'

Bukan Sekadar Teknik, Ardhito Pramono Cari Karakter 'Seniman' Yang Jujur di 'The Icon Indonesia'
Ardhito Pramono jadi juri THE ICON INDONESIA

Kapanlagi.com - Ajang pencarian bakat "The Icon Indonesia" hadir dengan kriteria yang cukup berbeda dibandingkan kompetisi menyanyi pada umumnya. Ardhito Pramono yang didapuk menjadi juri tamu pada audisi Jakarta menegaskan bahwa dirinya tidak hanya mencari penyanyi dengan suara merdu.

Ia lebih menitikberatkan pada karakter unik dan kemampuan peserta dalam menyampaikan isi lagu secara jujur. Ardhito menjelaskan bahwa menjadi seorang ikon musik berarti harus mampu memberikan warna tersendiri pada setiap lagu yang dibawakan.

Menurutnya, tantangan terbesar bagi seorang penyanyi adalah bagaimana menjadikan lagu milik orang lain terdengar seperti karya milik sendiri saat dinyanyikan. Kriteria inilah yang menjadi fokus utamanya selama menyeleksi para peserta di Jakarta.

"Mencari icon-icon yang punya karakternya sendiri, yang bisa menjadikan lagu orang itu kalau dinyanyiin sendiri tuh jadi lagu dia sendiri gitu. Itu susah tuh. Karena enggak banyak yang bisa membawakan lagu orang menjadi punya style-nya sendiri. Dan menurut gue, kayaknya di 'The Icon' memang harus kayak gitu tuh, nyari yang punya icon-iconnya sendiri," tutur Ardhito Pramono di Studio Emtek City, Jakarta Barat, Minggu (15/2/2026).

1. Teknik Vokal Bukanlah Segalanya

Bagi Ardhito, teknik vokal yang sempurna bukanlah segalanya dalam sebuah penampilan musik. Ia sering menemukan penyanyi yang secara teknis tidak terlalu menonjol, namun getaran emosinya sampai ke hati pendengar. Oleh karena itu, ia memberikan pesan penting kepada seluruh peserta agar tidak terlalu memaksakan diri untuk terlihat hebat secara teknis.

Ia menekankan pentingnya pemahaman lirik dan notasi agar pesan dalam lagu tersebut bisa tersampaikan dengan jelas kepada penonton. Ardhito ingin para peserta bernyanyi dengan cara bercerita, seolah-olah sedang berbicara namun menggunakan nada.

"Karakter yang gua cari sendiri, tadi gua juga ngomong ke para peserta bahwa bernyanyi itu bukan melulu soal bagus gitu. Banyak kok penyanyi yang tekniknya enggak bagus, tapi kok nyampe ya? gitu," katanya.

"Jadi gua tadi ngomong ke para peserta bahwa enggak perlu dipaksa, di-force bagus gitu. Yang penting jelas aja apa yang kamu nyanyikan. Tadi gua bilang gitu. Dan yang penting lu jujur sama liriknya, lu tahu lu memahami liriknya, itu paling penting," sambungnya.

(Menyusuri jejak Indonesiadi Balik Produksi Drama Korea.)

2. Memberikan Ruang Untuk Seniman Muncul ke Permukaan

Ardhito merasa program ini memberikan ruang bagi para seniman yang sesungguhnya untuk muncul ke permukaan. Ia membedakan antara sekadar penyanyi dengan seorang seniman sejati yang mampu menjiwai karyanya. "The Icon Indonesia" diharapkan menjadi rumah bagi mereka yang benar-benar mencintai apa yang mereka lakukan di atas panggung.

"Gua senang banget sih. Senang banget pertama kali ditawarin, karena pas gua lihat program di 'The Icon', wah ini nih yang enggak ada nih sebelumnya. Gitu. Bukan melulu soal suara bagus aja, tapi talent-nya. gitu," katanya.

"Tapi gimana cara dia mendalami, menjiwai apa yang dilakukan dan suka sama apa yang dilakukan. Ada bedanya artist with a T dan artist without a T. So, 'The Icon' is mostly artist with the T. Seniman," pungkasnya.

(BCL Bantah Isu Hamil, minta netizen stop berasumsi.)

Rekomendasi

Trending