'Borobudur Live In Concert' Justru Rendahkan Borobudur

Kapanlagi.com - 'Borobudur Live in Concert' yang akan berlangsung 23 April 2005 di kawasan Candi Borobudur dinilai sebagai pergelaran musik yang merendahkan nama besar Borobudur 'di mata' orang asing terutama Barat, kata Seniman Studio Mendut Magelang Sutanto.

"Itu konser yang merendahkan Borobudur untuk `kaca mata` asing terutama Barat karena mereka sangat tahu dan biasa menikmati apa yang disebut konser musik," katanya di Magelang, Kamis (31/3).

Pemda Jateng menggelar 'Borobudur Live in Concert 2005' bertema 'Pesan Damai dari Negeri Keajaiban', 23 April mendatang di Lapangan "Gunadharma" zona II Candi Borobudur di Magelang Jawa Tengah. Pentas yang bakal digelar antara lain orkestra melibatkan 160 musisi, penampilan penyanyi Ruth Sahanaya, Waljinah, Iyeth Bustami, Didi Kempot, Edo Kondologit, Tasya dan Grub Band GIGI. Selain itu paduan suara "Surya Vokalia" dengan 160 personil, atraksi seni bela diri 'Merpati Putih' dan peragaan busana.

Ia menyatakan pergelaran tersebut bukan sebagai konser tetapi semata-mata hiburan musik yang menampilkan sejumlah artis populer terutama dari Ibukota Jakarta. "Kalau dengan judul konser maka orang Barat bisa `marah` karena ternyata itu hanya dunia hiburan dengan menampilkan mereka-mereka yang populer semata. Kalau konser yang benar itu pasti memunculkan maestro, konser memiliki pengertian agung menampilkan `jagoan-jagoan`," katanya.

Sedangkan penampilan grup orkestra dalam even itu, katanya, hanya sebagai pengiring dan bukan murni berpentas untuk suatu konser. Menurut dia, pihak penyelenggara 'Borobudur Live in Concert' rupanya perlu banyak belajar tentang pengertian konser dan juga memahami secara baik Borobudur.

"Lama-lama Borobudur tidak dipercaya kalau setiap kali pentas musik di tempat itu disebut konser, apalagi Borobudur menjadi tempat tujuan wisata termasuk orang asing. Borobudur sendiri sebenarnya sudah `maestro`," katanya. Ia mengatakan, jika hendak menggelar hiburan musik berskala besar tidak perlu dilakukan di Borobudur. Suatu even musik dengan mengatasnamakan konser, katanya, tidak layak digelar di Borobudur.

Jika hal itu dilakukan maka penyelenggara tidak mengerti secara baik kebesaran Borobudur sebagai monumen peradaban dunia yang dibangun abad ke-8 masa Dinasti Syailendra.

Konser musik, katanya, antara lain ditandai suatu spesifikasi, menggunakan teknik bermusik tinggi, komponisnya secara khusus berkarya untuk seorang pemusik atau sekelompok pemusik, penampilannya memiliki karakter tinggi dan kelincahan jari jemari dalam memainkan alat musik.

"Jangan-jangan dengan menampilkan grup orkestra dianggap sama dengan konser, itu belum tentu, orkestra bisa juga hanya sebagai pengiring," katanya.

Sedangkan dalam suatu konser, katanya, akan tampak para jagoan musik seperti suling, biola, celo dan harpa. Ia mencontohkan pemusik Indonesia Idris Sardi selalu khas dengan biolanya karena dirinya dianggap sebagai jagoan biola dan bukan alat musik lainnya.

Menurut dia, pergelaran musik di Borobudur itu bukan sebagai promosi wisata Candi Borobudur melainkan promosi pengusaha di bidang industri musik. "Hasil pementasan bisa saja dikopi lalu dijual oleh produsen rekaman, mereka yang untung. Mestinya dana pergelaran itu bukan dari APBD melainkan dari pengusaha industri musik itu karena ini promosi mereka bukan promosi Borobudur. Dana harus diketahui, jangan memakai proyek rakyat karena yang diuntungkan produsen, justru mereka yang harusnya `membayar ke Borobudur`," kata Sutanto.

(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)

(*/dar)

Rekomendasi
Trending