Drag Queen, Bukan Sekedar Pria Dengan Maskara

Jumat, 19 Juni 2009 08:05 | 

Tata Dado






  • Drag Queen, Bukan Sekedar Pria Dengan Maskara
    Salah satu gelaran Peagant Drag Queen

KapanLagi.com - Banyak yang mencibir fenomena yang satu ini, saat kultur ini mulai muncul ke permukaan dan semakin banyak pengikutnya, beberapa golongan mulai mempertanyakan, apakah ini pertanda dari akhir jaman? Ah..mungkin lebih baik kita lupakan sejenak prasangka-prasangka seperti itu dan mencoba mengurai lebih jauh perihal Drag Queen.Drag Queen atau 'waria' ternyata lebih dari sekedar pria yang memakai rok mini, high heels, bermake-up dan berusaha menyuntik dada mereka dengan silikon. Mereka adalah seniman, apapun kata orang, karena mereka lazimnya memakai segala macam riasan dan kostum yang menyerupai wanita demi tampil dalam sebuah pertunjukkan, persis layaknya seorang artis. Mereka adalah entertainer handal dan profesional, bahkan soal menari dan menyanyi, mereka akan mampu mempertanggungjawabkannya, karena pada awalnya, Drag adalah salah satu jenis seni pertunjukan. Seperti halnya Kabuki, seni tradisional Jepang yang juga mengharuskan lelaki berpakaian layaknya seorang wanita.Para pria yang meniru wanita ini memiliki tujuan tersendiri, yakni untuk membuat kesan lebih dramatis, komikal bahkan satir dalam sebuah cerita. Dalam seni Drag, termasuk juga wanita yang menjadi pria yang disebut sebagai Drag King, atau meniru Drag Queen (Faux Queen) demikian juga sebaliknya pria yang meniru Drag King disebut Faux King. Pertunjukan yang mereka lakukan sebenarnya sudah populer sejak 1960an, dan masih diminati sampai detik ini. Pertunjukan mereka meliputi teater, drama musikal, dancing, pawai dan lumayan laku keras jadi cameo ataupun penyegar suasana dalam film-film klasik.Bagaimanapun juga, keberadaan mereka memang sangat menghibur, coba Anda ingat-ingat, ketika seorang 'waria' tampil dalam setiap event yang pernah Anda lihat, pasti kemeriahan akan selalu mengikuti. Jika di jagad hiburan tanah air, Silver Boys pasti adalah nama yang akan mencuat ke permukaan, anak-anak asuh Tata Dado tersebut, sebagian beranggotakan lelaki tulen maskulin, yang mencari sesuap nasi, lengkap dengan balutan gaun ketat dan bulu-bulu ayam.Para Drag Queen ini menolak saat dibilang meniru wanita, dan dengan tegas mengatakan jika Drag Queen itu adalah hal yang berbeda, mereka berada di tengah antara pria dan wanita, mereka lebih memilih disebut sebagai 'Gender Illusionists'. Sementara, dari hanya pertunjukan kecil di klub, komunitas ini terus berkembang sampai merasa perlu mengukuhkan eksistensi mereka dengan menggelar kontes kecantikan sendiri, Pageant Queen. Di Thailand, kontes ini jadi daya tarik sendiri untuk turis, sama persis seperti Miss Tiffany di Singapura yang konon pesertanya bahkan lebih aduhay dibandingkan perempuan asli. Memang tak bisa dipungkiri jika makna 'cross-dresser' ini semakin bergeser menjadi transgender secara psikologis dan utuh, yang mana mereka bener-bener mengganti 'perabotan' mereka menjadi perempuan atau sebaliknya, bukan cuma untuk keperluan seni dan pertunjukan aja. Pergeseran nilai dan makna inilah yang banyak membuat kontroversi, bahkan beberapa cibiran menganggap Drag Queen adalah bentuk masogini alias pembenci kaum wanita yang berlebihan. Protes keras juga datang dari kaum lesbian dan gay, yang menganggap mengganti kelamin adalah hal menyedihkan, kaum feminis juga pedas sekali menentang, karena merasa perempuan telah terlecehkan oleh kaum drag.Pada akhirnya, Drag Queen sendiri memang selalu identik dengan kontroversi, tinggal sejauh mana Anda ingin memaknai 'peran' mereka, akan tetapi di belahan bumi manapun, menjadi minoritas dengan keyakinan tersendiri selalu menjadi tantangan dan tak pernah mudah. Bukan begitu? (prv/bar)


Nama
Email
Komentar
Komentar yang tidak sopan akan dihapus.

Komentar Pembaca (0)

Lihat Arsip Musik

- - -