Mokshfeast 2019, Urban Festival di Negeri Seribu Ombak Kembali Digelar

Kamis, 24 Oktober 2019 16:08


Robi Navicula juga bakal hadir di Mokshfeast 2019


Kapanlagi.com - Tahun 2019 menjadi tahun yang cukup istimewa bagi Jawa Timur khususnya. Pasalnya, di negeri seribu ombak ini, untuk kali kedua festival urban tersebut kembali digelar. Lebih dari 500 peserta dipastikan larut dalam kehangatan alam.

Sukses di tahun 2017 lalu, Festival bertajuk Mokshfeast ini kembali digelar. Sebuah event art and culture festival yang mengusung filosofi moksha. Dalam terminologi Hindu, moksha berarti menyatunya manusia dengan alam. Semangat inilah yang ingin dibawa Mokshfeast dalam perhelatan event yang akan diselenggarakan di pantai Banyu Meneng, Kabupaten Malang pada 26-27 Oktober 2019.

Di bawah manajemen Moksha Indonesia, Mokshfeast barangkali jadi satu-satunya event di Indonesia yang menggabungkan musik, seni dan petualangan alam dalam satu paket festival. Serunya lagi, peserta bisa melakukan aktifitas air di pantai banyu meneng yang tenang. Mulai dari, paddle board, kayak hingga menikmati dunia bawah air lewat snorkeling.

“Mokshfeast terinspirasi konsep electric forest yang digelar di Michigan Amerika Serikat dan Wonderfruit yang diadakan di Pattaya Thailand. 2 event bergengsi inilah yang kemudian menjadi nafas kami (Mokshfeast),” ungkap Managing Director Moksha Indonesia, Radmad Setiawan.

Menurutnya, peserta seakan-akan bisa merasakan berada di Electric Forest dan sekaligus menikmati festival seni dan budaya ala wonderfruit dalam satu paket event. Karenanya, event ini menjadi begitu unik dan mungkin menjadi satu-satunya di Indonesia.

 

1. 1. Pangung Seribu Rupa

Tahun ini, Mokshfeast berhasil menggandeng seniman- seniman handal untuk menciptakan ruang seni lewat art corner. Beberapa instalasi seperti landmark dan main stage bahkan dikerjakan secara khusus untuk merepresentasikan kekuatan art culture. Memanfaatkan potensi alam, seni instalasi ini akan diekspos untuk seluruh peserta.

Seniman-seniman lain seperti, face body painting, hair styling, slackline, tarot, seniman kayu mantan pecandu narkoba yang tergabung dengan Sahawood, Saka Coffee yang mampu memberikan nyawa dan cerita untuk kopi juga siap menjadi atraksi unik yang wajib dicicipi peserta. Satu sesi yang juga selalu ditunggu peserta adalah sunrise dan sunset yoga yang dipandu langsung istruktur berpengalaman dari Urban Athletes Surabaya.


2. 2. Melodi untuk Bumi

Pesan kearifan lokal dan pelestarian lingkungan juga jadi perhatian utama di event ini. Tak tanggung-tangung, jajaran pengisi music line up tak hanya sebagai musisi tapi juga aktivis lingkungan. Sebut saja, Vokalis band Navicula, Gede Robi. Inisiator serial video documenter berjudul ‘Pulau Plastik’.



Lewat video itu, ia melakukan protes keras terhadap kerusakan lingkungan akibat plastik. Gede Robi akan berbagi ide dan pengalaman seputar pelestarian alam dalam sharing session.

Ada pula, Ninda Felina. Dj cantik yang memulai karirnya sebagai model ini bahkan saat ini menjadi anggota greenpeace. Proyek terbarunya, Save our Sound untuk Papua, membawanya untuk melakukan kampanye nyata tentang lingkungan lewat musik. Melalui Greenpeace, Ninda sudah beberapa kali keluar-masuk hutan rimba. Bahkan dirinya menciptakan musik dari elemen-elemen alam yang ada di hutan. Musik-musik berelemen hutan itu didedikasikan sebagai sarana penyelamatan hutan Indonesia melalui suara-suarasatwa dan alam yang direkamnya.

Selain mereka berdua, masih ada puluhan pengisi panggung utama mokshfeast. Mulai dari DLYTRB, Surabaya Soul Gang, audigroove live, FA Percussion, Relative primitive hingga tari topeng Malangan yang legendaris itu.

3. 3. Kunjungi Kolam Berusia Ratusan Tahun

Setelah semalaman pengunjung tidur dalam tenda, saat pagi, selain sesi yoga dan sajian makanan khas pesisir selatan (ikan dan olahan laut) peserta Mokshfeast juga dibawa dalam perjalanan seru mengunjungi sebuah teluk yang berada di sebelah barat Banyu Meneng.

Teluk ini memiliki kolam alami yang terbentuk selama ratusan tahun. Peserta bebas berenang di dalamnya. Menempuh perjalanan sekitar 1 jam, peserta dapat melihat secara langsung keindahan teluk bidadari ini. Selama perjalanan, peserta akan melintasi kawasan hutan lindung yang menjadi habitat asli Lutung Jawa dan sebuah pantai terpencil tempat bertelurnya penyu hijau. Dua spesies ini mulai terancam punah akibat pemburuan dan berubahnya fungsi hutan.

Peserta Mokshfeast memang sengaja dibawa ke sebuah perjalanan alam untuk mengenal dan mencintai alam secara lebih dekat. Pengalaman seperti ini yang barangkali tidak bisa didapatkan di event festival manapun di Indonesia. Peserta akan memiliki ceritanya sendiri dan akan selalu dikenang sepanjang hidupnya.
(kpl/dka)