Hari Kedua Kulfest 2017, Didik Nini Thowok Bawakan Tarian Asal Malang

Sora Soraya  |  Minggu, 26 November 2017 11:15
Hari Kedua Kulfest 2017, Didik Nini Thowok Bawakan Tarian Asal Malang
Didik Nini Thowok © KapanLagi.com®/Mathias Purwanto

Kapanlagi.com - Keseruan hari ke-2 Kulon Progo Festival (Kulfest) 2017 yang digelar di Bendung Khayangan, Kulon Progo, D.I. Yogyakarta, Sabtu (25/11) terus berlanjut. Usai digemparkan dengan penampilan enerjik Endank Soekamti, giliran sang penggagas Kulfest 2017 dan maestro tari Indonesia, Didik Nini Thowok unjuk gigi di Stage Amarta.

Pada kesempatan kali ini, penari cross gender tersebut menampilkan tari Beskalan Putri yang merupakan tarian tradisional dari Malang, Jawa Timur. Bersama seorang pria, Didik memasuki panggung sebelum alunan musik dimainkan. Ia mengenakan kemben hitam emas, celana selutut, sanggul bunga melati, dan cunduk mentul.

Ritual lain Didik sebelum memulai tariannya adalah memasang gongseng (gelang kaki yang dilengkapi lonceng-lonceng kecil) pada pergelangan kaki kanannya yang ditutupi kaos kaki putih. Selepas itu, alunan musik pun dimainkan. Didik pun tampak sangat luwes menggerakkan tubuhnya. Diiringi oleh tim gamelan, Didik meliukkan badannya dan sesekali mengibaskan ujung selendangnya. Decak kagum dan tepuk tangan meriah penonton pun tak terelakkan.

Didik dan aksi panggungnya yang spektakuler © KapanLagi.com®/Mathias PurwantoDidik dan aksi panggungnya yang spektakuler © KapanLagi.com®/Mathias Purwanto

Tari Beskalan Putri dulunya dibawakan masyarakat Malang ketika akan membuka tanah atau mendirikan bangunan. Tujuannya sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki dan kesuburan. Namun sekarang umum dipentaskan sebagai tarian pembuka sebuah acara.

"Tarian tersebut tercipta ketika seorang gadis bernama Sukanti bermimpi didatangi Putri Proboretno dari Kadipaten Malang yang menjadikan Sukanti bangun seperti orang kesurupan sedang menari-nari dan meminta diiringi gamelan," kata pemandu acara menjelaskan.

"Didik Nini Thowok mempelajarinya di Padepokan seni Mangun Dharma Tumpang Malang," sambungnya.

Di Stage Amarta, beberapa penari lain juga tampil. Hasuda Ai, penari asal Jepang menjadi penampil pertama di Stage Amarta yang dilanjutkan oleh Komunitas Bissu asal Sulawesi. Tak mau ketinggalan, penari Thailand, Thummanit Nikomrat pun unjuk kebolehan. Lalu bergantian Sanggar Seni Saba Sari, Sun Yijun, Pooja Bhatnagar dari India, serta Sanggar GER tampil di Stage Amarta.