CLOSE

Adopsi Ruang Virtual dalam Industri Musik, Gigs Hybrid Jadi Tren Baru

Adopsi Ruang Virtual dalam Industri Musik, Gigs Hybrid Jadi Tren Baru

Kapanlagi.com - Siapa yang sudah kangen menikmati gig live lagi? Biarpun pertunjukan langsung memberikan sensasi yang lebih menyenangkan, tapi perubahan gaya hidup selama 2 tahun belakangan ini memberikan banyak pelajaran baru. Salah satunya adalah industri musik yang tetap bisa survive tanpa ditopang panggung live. Mencemplungkan diri dalam pengalaman virtual merupakan bukti kalau dunia mungkin sudah berubah. Tapi, apa saja yang bisa diimplementasikan saat semua sudah kembali seperti dulu?

Bagi para pelaku dalam industri musik, sejumlah pengalaman membuat acara secara virtual harus selalu dimanfaatkan. Terbukti audiens sudah membiasakan diri dengan medium dan format yang disuguhkan saat semua orang harus diam di rumah. Baik itu tontonan bersifat live stream hingga pengadopsian ruang virtual yang lebih eksperimental lagi.

Seorang pelaku kreatif, harus membuka pandangan ke berbagai kesempatan. Rasa kangen yang ada terhadap intensitas dan estetika panggung live memang nyata. Namun ada dampak positif yang telah dibawa oleh pengadopsian ruang virtual yang kerap dilupakan karena faktor nostalgia. Jangkauan pendengar dan implementasi batasan teknologi menjadi patokan utama yang harus diperhatikan saat kami semua kembali menjalankan acara yang bersifat offline. Kenyataannya, ada kemungkinan untuk mengoptimalkan pengalaman yang bisa dirasakan oleh pendengar musik jika implementasi teknologi yang menjadi jiwa dua tahun terakhir tetap dilakukan ke masa depan terdekat.

Konsep hybrid ini sering dibicarakan dalam industri, namun memang tidak ada standar yang tepat untuk mendeskripsikan kualitas-kualitas apa saja yang membuat sebuah pertunjukan bersifat hybrid. Karena dokumentasi dan distribusi online memang sudah terjadi jauh sebelum era virtual ini. Tentu distribusi online bukan satu-satunya metode pengadopsian virtual yang bisa dilakukan saat panggung live sudah kembali menyala. Mungkin memang pendekatan yang paling mungkin dilakukan semua orang, namun bukan bentuk yang paling maksimal.

Ini dia beberapa kemungkinan eksperimentasi yang bisa dilakukan para event musik jika ingin menjalankan konsep hybrid di masa depan!

Acara Live yang di Broadcast

Pada awal masa social distancing konten yang bersifat siaran live mendominasi lautan konten digital. Namun secara berkala mungkin memang pendekatan ini hilang popularitas dikarenakan batasan infrastruktur teknologi yang menjadi rintangan utama. Sekarang, konsep livestream kerap harus dibelakangi oleh produksian yang lebih mantap untuk menghadapi batasan tersebut.

Daya tarik utama yang disuguhkan oleh konsep siaran langsung ini memang menarik jika tayangan kamu bersifat eksklusif dan aktual. Cocok sekali jika panggung besar seperti festival atau rave mengadopsi metode ini, karena pengalaman sekali dalam seumur hidup yang kerap menjadi key selling point acara seperti ini. Di masa depan, sangat efektif untuk menjangkau audiens yang lebih luas jika pendekatan siaran langsung ini dipopulerkan kembali, mungkin dengan sarana dan prasarana yang lebih realistis daripada masa populer awalnya di awal periode social distancing.

Menggunakan Dunia Virtual sebagai Jalur Distribusi Alternatif

Format dokumentasi video yang dipublikasi secara online melalui platform video sharing bukanlah sesuatu yang tumbuh di era pengadopsian virtual sekarang ini. Mungkin karena format ini menjadi sebuah keharusan yang muncul karena batasan penonton, distribusi konten online ini menjadi sebuah keharusan pada saat semua orang terpaksa di rumah. Banyak pendekatan yang lebih menjiwai semangat eksperimentasi yang harus dilaksanakan oleh para pelaku kreatif dua tahun ke belakang ini. Salah satunya merupakan menggunakan dunia virtual.

Dengan memuncaknya popularitas konsep dunia virtual beberapa waktu ke belakang ini. Kesempatan yang bisa dicapai oleh teknologi baru yang masih berkembang ini masih sangat luas. Karena sebuah dunia virtual tidak bersifat ekosistem tertutup, namun membuka kesempatan-kesempatan untuk mengimplementasi berbagai jenis pengalaman baru yang dapat menjadi suplemen pengalaman yang bisa kamu dapatkan di dunia nyata.

Tentu ditambah berbagai elemen kebebasan kreatif baik dari segi pembuat karya dan penikmat karya yang datang dengan sifat-sifat alami sebuah dunia digital. Di masa depan, mungkin panggung live yang berada di lokasi tidak tercapai ini bisa disiarkan menggunakan teknologi VR bagi penonton yang tidak dalam jarak jangkauan nyatanya. Tentu hal ini hanya satu contoh dari implementasi dunia virtual, untungnya lapangan ini masih bebas untuk menjadi lahan eksperimen.

Bereksperimentasi dengan Virtual Band

Menghadapi memuncaknya popularitas dunia virtual ini, konsep virtual band memang menjadi senjata ampuh bagi sejumlah label musik di dunia. Konsep yang telah populer sejak lama di industri musik. Pengadopsian sebuah avatar yang menjadi muka sebuah pertunjukan musik ini menjadi aksi teatrikal yang senyawa dengan pendekatan bebas batasan yang dibawa oleh era virtual ini.

Tanpa ada batasan yang diharuskan oleh sebuah pertunjukan live konvensional, sebuah virtual band dapat menghadiri panggung mana saja dengan koneksi internet yang stabil. Ini memungkinkan distribusi multi platform secara langsung baik pertunjukan nyata atau dibalik layar. Tentu atmosfer pertunjukan sebuah band virtual masih menjadi pertanyaan utama saat menjadi pembicaraan, namun kembali ke metode dan jenis pertunjukan apa yang mau disuguhkan ke para penonton dan batasan kreativitas sang pembuat karya dalam mendistribusikan musiknya di era virtual ini.

Tentu metode-metode yang kami suguhkan ini belum mencakup semua bentuk panggung hybrid yang dapat dilaksanakan di masa depan. Namun serunya adalah keliaran kemungkinan berkreasi yang datang dengan konsep hybrid ini. Masa depan industri musik akan lebih bervariasi jika elemen virtual tidak dilepas begitu saja di masa depan.

(Menyusuri jejak Indonesiadi Balik Produksi Drama Korea.)

(kpl/wri)

Rekomendasi

Trending