

Bahkan Naif yang pada hari itu juga ada tawaran manggung di luar kota, membela-belain untuk main di konser The Rapture.
[Info untuk Anda: "Semua berita KapanLagi.com bisa dibuka di ponsel. Pastikan layanan GPRS atau 3G Anda sudah aktif, lalu buka mobile internet browser Anda, masukkan alamat: m.kapanlagi.com"]
"Gue suka banget sama lagu mereka, ya ada yang jadul-jadulnya gitu. Ya karena pas main di Jakarta kenapa nggak, padahal gue ada kontrak yang datangnya bersamaan tapi gue memilih disini daripada di luar kota," ujar David ketika di temui di Potato Bar and Resto, Pasific Place, SCBD, Jakarta. (29/7).
David sangat terinspirasi dengan sound-sound ala disko jaman dulu The Rapture. Namun belum banyak mempengaruhi ke musik Naif. David juga suka lagu House of Jealous Lover yang groovy dengan irama pop rock.
Menjadi opening band luar negeri adalah suatu kebanggaan tersendiri buat karir band, syukur-syukur bisa dilirik untuk go international. Namun berbeda dengan Naif dia hanya ingin menambah teman artis bule dan bisa terkenal di Indonesia sudah cukup.
Tanpa di sadari Naif, musiknya sudah merambah hingga ke negara tetangga sebelah dan mempunyai fans di Singapura.
"Ada di singapura, gue juga baru tahu pas manggung di sana tahun lalu, ya crowdednya lumayan. Mungkin karena Band Indonesia sangat apresiated dengan mereka dan begitu juga kita saat berada di rumah band luar," ujar vokalis yang mempunyai keahlian di dunia desain grafis.
David mengaku dirinya tidak grogi menjelang penampilannya, karena sudah terbiasa tampil dan dulu juga pernah membuka The Vinic.
"Nggak grogi, justru gue grogi kalau tampil di depan bapak ibu gue," pungkasnya. (kpl/buj/faj)